Hai Para Penulis, Bijaklah Memanfaatkan AI (ChatGPT)

Menulis kini tidak lagi hanya “menunggu ilham.” Yang kapan datang ilham, baru “mengangkat pena” –metafora style, gaya bahasa, dari styllus (Latin) pensil,

Saat ini  penulis diberi akses dan kemudahan. Artificial Intelligence (AI) adalah bidang dalam ilmu komputer yang berfokus pada pengembangan sistem komputer yang dapat melakukan tugas-tugas yang memerlukan kecerdasan manusia.

AI seperti Chat GPT dapat membantu menghasilkan konten dengan cepat. Namun, penting untuk diingat bahwa kreativitas dan kualitas tetap menjadi inti dari tulisan yang baik.

Penulis harus berusaha untuk menghadirkan gagasan-gagasan orisinal. Ia wajib menjaga standar kualitas yang tinggi dalam karya mereka.

AI adalah alat yang sangat membantu. Namun, jangan berganung sepenuhnya pada alat artifisial. Otak dan kreativitas manusia (Natural Intelligences), tetap nomor wahid.

AI sebagai alat bantu dapat menjadi tambahan yang berharga.Namun, tidak boleh menggantikan peran penulis dalam menghadirkan karya yang unik dan bermakna.

Kemampuan AI untuk menghasilkan teks yang dapat dipahami adalah langkah awal, tetapi penulis harus menambahkan nilai dengan memberikan pandangan, interpretasi, dan gaya pribadi ke dalam tulisannya.

Menulis adalah perpaduan antara bakat, teknik, dan dedikasi. Lebih dari itu, menulis adalah passion

Sebagai penulis, passion adalah elemen yang sangat penting. Passion untuk topik atau subjek yang Anda tulis akan tercermin dalam tulisan Anda dan membuatnya lebih menarik. Dedikasi untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan menulis juga sangat diperlukan.

Penulis harus bisa melakukan kendali penuh atas karya Anda. Ini termasuk pemilihan kata-kata, struktur narasi, dan pesan yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca. AI dapat membantu dengan proses teknis, tetapi keputusan kreatif tetap harus ada dalam kendali penulis.

Ketika menggunakan AI dalam menulis, penting untuk mengolah ulang hasilnya. Agar  tulisan sesuai dengan tujuan kita. Jangan hanya mengandalkan AI tanpa melibatkan pemikiran kritis kita sendiri.

Pekerjaan penulis-manusia bukan hanya mesin, dan logika lurus yang bisa memprediksi ke depan. Namun, dalam menulis manusia bekerja mencakup peninjauan dan pengeditan manual. Untuk memastikan bahwa teks yang dihasilkan sesuai dengan niat dan pesan Anda.

Menulis adalah perpaduan antara bakat, teknik, dan dedikasi. Lebih dari itu, menulis adalah passion

Filsuf Perancis, René Descartes, terkenal dengan frasa “Cogito, ergo sum”. Frasa ini dapat diterjemahkan sebagai “Aku berpikir, maka aku ada.”

Dalam konteks menulis,kita dapat menggantikan kata “cogito” (berpikir) dengan “scribo” (menulis). Sedemikian rupa, sehingga menjadi “Scribo, ergo sum.” 

Menulis merupakan bukti keberadaan atau ekspresi diri penulis. Bagai botol ketemu tutupny. Itulah hobi menulis, yang kemudian bertemu dengan “pekerjaan” menulis. KIta menamakannya sebagai “Wriitepreneurship”. Topik yang akan dibahas di ruang ini juga besok.

Kembali ke laptop. Yang menjadi saripati dari narasi ini.

AI sebagai alat bantu dapat menjadi tambahan yang berharga. Namun, tidak boleh menggantikan peran penulis dalam menghadirkan karya yang unik dan bermakna. Agar karya-tulis yang dihasilkannya punya jiwa. Karena dihasilkan “dari kedalaman” terdalam jiwa seorang penulis.

Itulah the power of words! Kata-yang-bekerja. Lebih dari sekakar kata kerja.

Penulis harus cerdas. Sekaligus bjak menggunakan AI untuk kualitas dan produktivitas tulisannya. *)

Model ilustrasi: Cindy Christella.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply