Jika (Sudah) Menulis Fiksi, Artinya Bekal Cukup

Sama-sama baju. Tapi ukurannya berbeda. Untuk saya M. Untuk Anda S. Mungkin bagi yang lain L, atau bahkan XLLL.

Itu porsi. Keseuaian. Dalam banyak hal, kita tidak bisa mengukur orang dari dacin, timbangan sendiri. 

Mengarang dan menulis misalnya. Buat saya, keduanya berbeda. Yang satu lebih ke ilham, suka-suka gua, menunggu inspirasi. Sedangkan yang satunya lagi, bisa kapan saja. Bahan sudah ada. Tinggal diramu saja. Baca https://bibliopedia.id/arswendo-atmowiloto-mengarang-itu-gampang-1/?v=b718adec73e0

Maka menulis dan mengarang bagi saya keduanya saling nikmat. Entitas yang gak bisa untuk dibanding-bandingke. Meski harus jujur mengakui bahwa saya terjun bebas ke profesi tulis-menulis, dan literasi, dari karangan fiksi.

Terbesit, jika menyair terus. Dan tergantung pada ilham, selamanya saya seorang pengarang yang SKS –sandal, kopiah sarungan. Citraan persis seniman, penyair sebelum, dan waktu itu: ceking, pipi kempes, merokok, dan banyak citraan eksentrik lain, tentang penyair. Selain tinggal di rumah kontrakan.

Barangkali ada orang (guru kita waktu SD) menyamakan mengarang dan menulis. Sah sah saja. Tapi waktu itu, benar saja. Meski sebenarnya dilihat dari proses kreatif, dan material (kontennya); berbeda. Yang satu fiksi. Sedangkan yang lainnya non-fiksi.

Aslinya, saya seorang penyair. Karier saya, diawali dari menggubah sejumlah sajak (puisi). Itu tahun 1984. Ketika, hampir setiap Sabtu-Minggu. Di koran Suara Indonesia, Malang, Jawa Timur. Puisi-puisi dan ulasan sastra-budaya saya dimuat.

Honor satu puisi, waktu itu, Rp3.500. Kadang Rp7.500. Lumayan, sebenarnya. Orang saya sekali makan (enak) di Malang, waktu itu, Rp 900 sudah kenyang.

Terbesit, jika menyair terus. Dan tergantung pada ilham, selamanya saya seorang pengarang yang SKS –sandal, kopiah sarungan. Citraan persis seniman, penyair sebelum, dan waktu itu: ceking, pipi kempes, merokok, dan banyak citraan eksentrik lain, tentang penyair. Selain tinggal di rumah kontrakan.

Mulailah saya nulis cerpen. Waktu itu, ada majalah Anita Cemerlang. Top banget. Banyak sekali majalah yang memuat cerpen. Namun, karena juga masih “eceran”, saya mulai nulis novel.

Novel saya perdana Flamboyan Kembali Berbunga. Diterbitkan koran Jawa Pos. Bersambung. 47 kali. Usai tamat, saya menerima 2 wesel pos: masing2 isinya Rp175.000. Lumayan besar. Jadi, total Rp 350.000. Kalikan 10 kalinya untuk nilai saat ini!

Sejak itu, saya memutuskan tidak nulis kecil-kecil (lagi). Nulis puisi, dan cerpen, jika sudah “kenyang” saja.

Malang melintang, setelah itu, cerber (novel) saya dimuat di koran-koran Jawa Timur. Selain Jawa Pos, dimuat harian Surya.

***

Antara hobi dan profesi. Saya, sejak lama, telah bisa membikin demarkasi. Hobi, jika diturut terus, bisa gak berasap dapur.

Maka, saya harus bisa menahan diri. Untuk tidak berkutat pada hobi, melainkan menulis naskah buku. Entah buku pesanan, ghost-writer, buku kenangan, company profile, atau biografi.

Saya jarang nulis buku, cetak, kemudian baru dijual. Selalu menulis “buku yang laku”. Baca http://b718adec73e0

Novel yang selama ini menghidupkan saya, artinya laku dijual sebagai komoditas, ada 3.

1. Ngayau: Cheu Fung Theu, Mistri Manusia Kepala Merah.
2. Keling Kumang (dipesan khusus 300 eks sebelum terbit).
3. Obituari Bertha.

Tampaknya, bulan Juni 2023. Saya baru bisa menulis fiksi. Menyalurkan dan memanjakan hobi lagi.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply