Karet Alam di Kalimantan | Menghadapi Ancaman Ditebang

Pada narasi yang lalu dikisahkan. Kebanyakan petani karet di Sanggau, juga Jangkang, menanam karet lokal atau sedikit land bouw dan karet unggul.

Dari segi mutu, karet rakyat di Jangkang terbilang sedang. Tidak tercampur tanah, atau ampas bekas sadapan karet, sebab beku di dalam wadah. Sebelum dijual ke tengkulak, direndam lebih dulu di kolam.

Sepanjang tahun, rata-rata harga karet di tingkat petani a rp 10.000/kg. Titik terendah rp 4.000, dan tertinggi Rp 16.000. Tercatat: tahun 2014 harga terendah, tertinggi Rp 11.500 terendah rp 4.000.

Bisa jadi karena situasi politik dan politik-ekonomi ancaman dari perusahaan sawit yang semakin meminggirkan lahan karet rakyat.

Kini banyak perkebunan karet di Kalimantan, telah mulai ditebang. Harga yang semakin hari semakin merosot, menyebabkan penduduk tidak lagi menjadikan karet sebagai unggulan.

Apalagi untuk mendapatkan hasil karet, harus bekerja keras. Tiap pagi, tiap hari, harus disadap/ dipotong. Dengan harga yang semakin merosot, memang tidak sebanding harga karet dengan usaha dan tenaga yang dikeluarkan.

Idealnya, harga karet setara dengan harga gula/beras.

Sepanjang jalan raya trans-Kalimantan, kita dapat saksikan kebun karet rakyat, semakin langka. Hanya ada satu dua saja. Itu pun, tidak semuanya disadap. Ada yang dibiarkan saja. Barangkali menunggu waktu yang pas untuk disadap.

Masyarakat pun kian enggan menanam karet. Tanda-tanda: Selamat tinggal, karet rakyat!

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply