Kritik atas karya Helbig “Eine Durchquerung der Insel Borneo”

Kritik, pada galibnya, adalah netral. Biasa terminologi itu di dunia akademik, termasuk di Barat yang dipandang sebagai simbol peradaban intelektual, yang punya habitus rasional.

Di Indonesia, umumnya orang alergi pada kritik. Asal menyebut “kritik”, warga negara Pancasila ini langsung memikirkan bahwa kritik cenderung merendahkan, mencibir, nyinyir, dan hal yang serba minor. Padahal, kritik dipetik dari khasnaah kata Yunani “krinein”. Yang secara harfiah berarti: memberi apresiasi/ review atas suatu karya/ objek.

Demikianlah “kritik” dalam narasi ini memenuhi makna yang sebenarnya.

Pria bernama lengkap Karl Martin Alexander mengisahkan ekspedisinya melintas Borneo dari Songkong (mestinya Sungkung) sebuah tempat tinggal Dayak Bidayuh yang letaknya tidak jauh dari Jangkang, kampung halaman saya. Setelah dibaca dengan saksama, banyak kesalahan penulisan,  terutama akurasi penulisan rupa bumi dan istilah setempat di dalam karya tulis itu.      

Karya, lebih pada kisah perjalanan dan ekspedisi Helbig diberi judul Eine Durchquerung der Insel Borneo yang dapat diterjemahkan menjadi Perjalanan Melintas Borneo,  terbit tahun 1937.

Meski mengandung kekurangan, karya ini “buruk-buruk papan jati”. Satu di antara langkanya buku zaman kolonial –selain Mijn Leven met de Daya’s 1938-1974 oleh van Hulten yang edisi Indonesianya (PT Grasindo, 1992) saya memberi Kata Pengantarnya –yang secara rinci menjelaskan perjalanan seorang penjelajah barat, melewati dan mengamati kondisi daerah/ wilayah kecamatan kampung halaman saya saat ini. Antara lain, disebutkan lokus Padek, Darok, Ginis, Bodok, Balai Sebut (ibukota kecamatan Jangkang).

Dicatat pula oleh Helbig ihwal berladang, padi, dan kegembiraan orang Dayak di masa panen. Hal itu membuktikan bahwa sejak zaman baheula, LADANG merupakan staff of life manusia Dayak. Mereka arif mengelola seluruh rangkaian proses kultivasi padi, tanpa menjadi penyebab gangguan lingkungan. Pada 1982, buku ini diterbitkan ulang oleh Dietrich Reimer Verlang, Berlin.

Pengamatan sekilas dan penilaian atas buku ini:
1) akurasi penulisan nama tempat: kurang (5,6)
2) isi buku secara keseluruhan baik (7,8)
3) kedalaman: cukup (6,5)

Jauh lebih berharga buku yang ditulis dan diterbitkan (meski kurang atau terdapat banyak kekurangakurasian) daripada yang belum ditulis dan diterbitkan.

Demikianlah penilaian umum atas publikasi buku-buku, hasil survei, riset oleh orang asing atas manusia dan budaya Dayak: kurang akurat dan kurang dalam. Perspektif yang dibawa: Barat dengan akar budayanya. Kacamata ini dipakai untuk memotret orang Dayak dan perikehidupannya.

Buruk-buruk papan jati  adalah ungkapan yang pas atas publikasi zaman kolonial yang memotret perikehidupan manusia Dayak. Semua wajib “dibaca” dalam konteks 14 bias media (Cirrino, 1971) yang menyatakan bahwa bias suatu teks/ tulisan/ gambar pertama-tama berasal dari penulis dan produsernya.

Toh demikian, yang sangat bernilai, dan tidak tergantikan adalah: buku / karya ini memotret, atau seberkas pantulan cerminan kondisi sosial budaya pada saat itu, di sini, dan di tempat ini.

Buku klasik tentang Borneo, SDA, manusia, dan alamnya pada ketika itu penting sebagai tonggak sejarah pada masa ketika ini. Bagaimanapun, ia memenuhi takdir seperti dikemukakan sejarawan legendaris dunia, Marcus Tullius Cicero (106-43 s.M.). Katanya, “Historia lux veritatis est”–sejarah adalah berkas bias sinar kebenaran dari masa yang silam.

Bagaimanapun, sejauh pengalaman saya sebagai seorang literer dan pekerja-media. Jauh lebih berharga buku yang ditulis dan diterbitkan (meski kurang atau terdapat banyak kekurangakurasian) daripada yang belum ditulis dan diterbitkan. Mengapa? Sebab kesalahan, kekurangan, bisa disempurnakan dalam cetakan yang berikutnya. Tetapi berbohong dan dengan sengaja melakukan konstruksi by intentional sehingga mislead, hal itu tidak bisa dimaafkan.

Karya ini jujur menulis apa adanya dari sudut pandang dan pengetahuan penulisnya!

Teori konstruksi realitas sosial dan pendekatan sejarah yang sudah dimulainya, menjadi tonggak bagi penelitian selanjutnya. Namun, serta merta harus diberi catatan: perlu melakukan studi interteks agar dapat mengungkap realitas di balik teks-tertulis yang ada.

Sayangnya, peneliti dan penulis Dayak –yang memahami akar budayanya sendiri– masih sangat sangat sedikit. Kalaupun ada, kualitas dan pertanggungjawaban akademik dan metode mendapatkan data/ informasi masih perlu ditingkatkan (lagi).      

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply