LADANG Orang Dayak| Mispersepsi akibat Tidak Tahu

Inilah buku yang secara akademik “membantah” secara argumentatif dan rasional tuduhan bahwa sistem peladangan manusia Dayak merusak lingkungan.

Di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (2019) protes keras masyarakat se-Kalbar menuntut agar warga Dayak yang diajukan ke meja hijau dengan dakwaan membakar ladang, dibebaskan murni.

Dan memang demikian yang terjadi. Setelah itu, Gubernur Kalbar, Sutarmidji, mengeluarkan Pergub tentang boleh membakar ladang. Meski demikian, peladangan orang Dayak tetap jadi pertanyaan ke depannya.

Banyak orang mispersepsi, yang didasarkan atas ketidakpahaman, mengenai sistem peladangan orang Dayak.

Ladang bukan hanya sebatas mendapat padi. Melainkan juga di sana tersaji aneka budaya, seni, juga kehidupan komunal yang guyub. Jika budaya ladang terancam, terancam pula budaya orang Dayak.

Sistem (budaya) berladang berpindah-pindah yang dilakukan suku Dayak tradisional tidak merusak alam dan lingkungan hidup, sebab lahan yang sama baru diladangi kembali setelah mencapai siklus 15-20 tahun.

Ingin tahu detailnya?
Buku ini mengupasnya tuntas.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply