Lembuswana| Bagaimana Hindu Menguasai Nusantara? (1)

Di muka replika Lembuswana. Pada suatu sore. Mengagumi monumen bersejarah, sekaligus museum. Menatap masa lampau, sembari membelakangi sungai yang mengalir tenang di muka. Seakan membentang kenangan masa silam.

Senja mulai membekap kawasan Museum Mulawarman, Tenggarong.

Saya tafakur sejenak.  Duduk.  Menghadap ke arah seberang. Pandangan melintas jalan aspal nan mulus. Tepi Sungai Mahakam. Debit airnya tiada henti mengalir. Mahakam salah satu sungai penting di Kalimantan Timur. Mengalir dari hulu, membelah wilayah Kalimantan Timur (dahulu menyatu dengan Kalimantan Utara), sepanjang 980 kilometer.

Sungai Mahakam dahulu kala salah satu pusat peradaban. Tercatat sebagai lokus bagi penelitian Dr. Anton Nieuwenhuis (1894). Dalam perjalanan risetnya, botanolog itu menulis buku In Centraal Borneo: reis van Pontianak naar Samarinda.

Kubayangkan. Bagaimana berabad silam. Orang-orang Hindu datang ke bumi Borneo. Pasti bukan naik besi terbang. Melainkan menyusuri perairan. Berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun. Melintas laut lepas. Menaklukkan segara mahaluas yang memisahkan jalur antar-negara. Dikelilingi bahari yang menjadi  nantinya menjadi wilayah Nusantara.

Bagaimana orang-orang Hindu, dari India, masuk ke sini? Membawa bukan saja barang-barang dangangan, melainkan juga kepercayaan. Termasuk di dalamnya adat istiadat, agama, dan pendidikan.

Di dalam museum. Banyak bukti yang bisa mengungkap fakta sejarah. Ada replika  Prasasti Yupa. Saya telah memotretnya. Dan bertanya pada penjaga ihwal sejarah ditemukannya.

Jika kita pelajari saksama, seluruhnya kisahan di balik Lembuswana adalah pendidikan. Tidak peduli dari mana asalnya. Yang pokok adalah bahwa wiracerita di baliknya mengajarkan nilai-nilai, antara lain: kesatriaan, keberanian, pengajaran, dan taat pada pemimpin.

Bukankah itu semua nilai yang berlaku universal? Tidakkah semua itu adalah akumulasi nilai, yang kita sedang alami krisis di masa kini

Maka berdarma-wisata ke Museum Mulawarman ini. Saya merasa retreat. Refereshing mengenai wawasan kebangsaan.

Entah Anda?

Saya disadarkan kembali tentang nilai-nilai kemanusiaan. Yang dibungkus dalam replika Lembuswana.

Hewan mistik ini menjadi lambang Kerajaan Kutai hingga masa Kesultanan Kutai Kartanegara. Ia hewan yang digambarkan berkepala singa. Bertajukkan mahkota. Sebagai  lambang dari kekuasaan seorang raja yang dianggap punya wibawa dan karisma seperti dewa.

Dan lihatlah ada belalai seperti gajah. Mengingatkan akan dewa Gansesha yang diyakini sebagai simbol dari intelektual, kecerdasan. replika Lembuswana juga dilukiskan  bersayap seperti burung garuda. Dan bersisik seperti ikan.

Apa maksudnya?

Dalam sekali! Kita mau tidak mau dibawa masuk ke dalam ilmu simbol, dalam hal ini, semiotika. Bahwa Lembuswana adalah makhluk omnipotens. Ia yang menguasai bumi, air, tanah, dan udara. Kehidupan dan kuat kuasa ada dalam kendalinya.

Hewan yang dianggap mistis ini menjadi lambang Kesultanan Kutai Kartanegara. Kini jadi simbol Kota Tenggarong, Kab. Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Diyakini masih Lembuswana masih hidup di Kutai Kartanegara dan menjadi penguasa Sungai Mahakam. Ia dianggap makhluk yang disucikan karena merupakan kendaraan spiritual Raja Mulawarman, putra raja lokal, Kudungga.
(bersambung)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply