Buku yang Laku

Buku. Ia, kertas yang ditintai. Atau kini konten yang ditulis secara sistematis, metodis, dan koheren yang diterbitkan di jagad digital. Bukan semata-mata produk budaya dan olah-intelektual saja.  Buku sekaligus suatu industri. Dalam hal ini, industri kreatif.

Maka jika kita masuk ke dalam bisnis itu, memotret buku dari sisi nilai kontennya. Valuasinya. Bahwa di balik buku, ada valuasi ekonomi.

Baca juga: https://bibliopedia.id/buku-analog-cetak-versus-digital/?v=b718adec73e0

Sejak buku perdana terbit, 1987, oleh salah satu penerbit tertua negeri ini. Hingga saat ini (April 2023), inilah senarai bilangan buku saya.

1. Buku ditulis solo: 137
2. Buku ditulis berdua: 3
3. Buku terjemahan: 2
4. Buku ditulis bertiga atau lebih: 9
5. Buku ghost writer, dan selamanya saya tak pernah sudi ungkapkan bahwa saya penulisnya terkait perjanjian: 12
6. Buku yang diedit: nirhitung, sebab itu main job saya 20 tahun editor Gramedia.

Jadi, saya cukup beda dengan penulis lain. Hanya membilang buku yang saya tulis dan publikasikan solo saja. No. 4-6, tidak saya hitung.

Apakah buku-buku itu laku semua?
Kita bicara soal kriteria “laku” dulu. Tentu, versi Indonesia.

1. Buku laris,  atau best seller, jika setahun terjual 3.000 eksemplar.
2. Buku moderate: jika setahun jika setahun terjual 1.500-299 eksemplar.
3. Buku lambat perputaran penjualannya (slow moving): jika setahun terjual 1.000-1.449 eksemplar.
4. Buku tidak laku: jika setahun terjual kurang dari 1.000 eksemplar.

Mengapa patokan  setahun terjual 3.000 eksemplar? Kami dulu, di Penerbitan, menghitungkan berdasarkan perputaran modal bunga bank.

Sudah sejak 2015, saya pensiun dini, beberapa saja naskah buku saya kasih ke Penerbit Maior/ mainstream. Jangan salah sangka. Tidak senantiasa penerbit besar, memberi  royalti besar.

Hampir semua penerbit negeri ini saya jelajahi. Untuk bandingan saja. Tetap penerbit Indie menghidupkan, untung lebih banyak. Saya juga ada beberapa buku dengan lebel “best seller” di penerbit maior, namun itu saya anggap hadiah hiburan saja. Uang kaget.

Bagaimana Indie?
Sejak tahun 2015, saya sudah meramalkan, ketika menjadi narasumber di 2 penerbit besar negeri ini: ke depan, NASKAH YANG LAKU TIDAK AKAN DIKASIH LAGI KE PENERBIT.

Menerbitkan indie, Anda menjual 100 sama dengan penerbit besar menjual 1.0000. Jadi, terjual 300 saja, sudah masuk best seller.

Biaya promo dan launching?
Nyaris tak ada. Orang yang memasarkan dan mempromosikan buku-buku saya.

Biaya launching 3 buku terakhir, dari sponsor. Bahkan, mendatangkan MC kelas nasional.

Ada pula buku yang jual-beli putus. Jenis ini malah laku sebelum buku terbit.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply