Metode Penelitian Folklor Indonesia

Telah lama kutinggalkan menulis pendek, semisal: artikel, cerpen, dan puisi. Tahun 2005 ketika nazar itu dibuat, sejak saya nekad menulis dan menerbitkan buku yang bilangannya sama, bahkan suatu waktu, melebihi angka usia saya.
 
Kini bukuku bilangannya lebih 2 kali dari usia: 138  buku ber-ISBN. Beberapa terbit di jagad internasional, semisal: Amazon, Lulu, dan dapat diakses via Google Plystore. Beberapa menang sayembara.
 
Masih banyak kehendak ingin saya ujudkan. Satu di antara seribu adalah menulis buku seperti judul di atas. Materinya telah banyak, dari bahan power point (PPT) atau makalah yang pernah saya sampaikan sebagai mentor di Pusat Perbukuan, Kemendikbud sejak 1995.
Ini, secuilnya:
 
Namun,adakah Metode Penelitian Folklor?
Memang ada!
Inti penelitian Folklor sekilas dibahas buku Prof. Danandjaha ini. Tinggal dikembangkan. Baik melalui inter-teks maupun dari pengetahuan dan pengalaman si penulis.
 
Secara etimologis, dari bahasa Inggris, folklore. Terminologi yang pertama kali dikemukakan oleh sejarawan Inggris William Thoms dalam sepucuk surat yang diterbitkan oleh London Journal pada tahun 1846.
 
Saya telah cukup banyak menulis Folklor, utamanya dari Dayak Jangkang. Ada satu kumpulan bukunya Cerita Rakyat dari Kalimantan (2006). Satu cerita rakyat yang saya pernah tulis di majalah Bobo, menjadi paradigma dongeng untuk buku Pendidikan Bahasa dan Sastra untuk SMP/MTS di Indonesia.
 
Apakah Folklor?
Folklor, secara etimologis, dari bahasa Inggris, folklore. Terminologi yang pertama kali dikemukakan oleh sejarawan Inggris William Thoms dalam sepucuk surat yang diterbitkan oleh London Journal pada tahun 1846.
 
Folklor adalah cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak dibukukan. Padahal, kandungan pesan di dalamnya sangat tinggi.
 
Selain kearifan tradisional, lazimnya cerita rakyat mengandung nilai-nilai pendidikan dan pengajaran, sarat hikmat kebijaksaaan, selain berisi hiburan.
 
Begitulah cara nenek moyang zaman baheula ketika media dan hiburan belum semarak saat ini. Tiap malam, jelang tidur, orang tua akan mengisahkan berbagai cerita kepada anak cucunya.
 
Di samping meninabobokkan, juga mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai.
 
Kini terasa ada yang hilang. Bukan saja nilai kebersamaan yang didapat dari dongeng-mendongeng, melainkan juga cerita dan pencerita follor telah langka.
 
Folklor suatu kaum akan hilang begitu saja, andaikata tidak ada yang menulis dan mengabadikannya dalam buku.
***
Kiranya baiklah di sini saya singkap 3 saja langkah metode penelitian Folklor yang saya dapatkan ilmunya dari Prof. James Danandjaja. di buku ini:
1) Setia pada pakem menyangkut: tokoh, peristiwa, dan setting (tempat dan waktu).
2) Adakan perbandingan dengan kisahan serupa.
3) Adakah di dalamnya terkandung nilai-nilai? Atau kandungan kebijaksanaan dalam bahasa McClelland, the Need fot Achievement (N-Ach) sebagai penciri bahwa kisahan itu bermutu?
 
Berdasar kepada pengalaman. Dan sejumput pengetahuan ihwal topik Folklor, saya akan menulis dan menerbitkan buku panduan seperti judul beranda ini.
 
Ternyata, oh ternyata… di luar sana buanyaaak sekali yang memerlukannya. Puji Tuhan! Semoga diberi usia panjang dan kesehatan prima untuk mewujudkannya.
 
 
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply