Minyak Goreng Langka: Historia Vero Testis Temporum

Saya tercelik ketika menonton, sekaligus coba memahami kandungan esensi dan pesan video Doktor Rizal Ramli. Ia kawan-lama,  sahabat saya dulu waktu di Econit. Saya menerima naskahnya untuk diterbitkan di Gramedia. Jadi, sebelum jadi Menteri era Gus Dur, kami sudah cukup akrab dan sering diskusi.

Rizal mengatakan, terkait isu langkanya minyak goreng dan panasnya isu komoditas sawit, bagaimana barang yang melimpah saja bisa begitu, tidak dikelola dengan benar?

Pasti itu permainan!

Bagaimana mungkin– demikian Rizal Ramli– barang  yang berlimpah ruah ini, dalam negeri jadi langka? Gak masuk akal!

Saya di kubu netral. Baik buzzer maupun pengritik. Menurut hemat saya, kritik itu netral. Dari kata Yunani “krinein”, yan harfiahnya berarti: memberi penilaian terhadap…. Dalam hal migor dan sawit, pada galibnya Rizal memberi penilaian/ opini pribadinya. Benar atau salah, patut kita olah-kembali. 

Minyak goreng yang langka beberapa waktu lalu saksi sejarah. Namun, anjlognya harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani, akibat pejabat Indonesia salah ucap dan salah tindak, hingga kini masih mendera petani. Mereka mengeluh. Gara-gara….

Indonesia kan produsen terbesar sawit, kok bisa begitu? Yang diperhatikan dan diutamakan luar negeri, bukan dalam negeri begitu Rizal Ramli. Di mana kontrol dan campur tangan Pemerintah?

Kalau cuma soal ekspor impor itu nggak perlu pemerintah yang kuat, itu kerjaan pedagang saja.

Ayo kita cermati fakta gini. Enggak perlu juga selalu nyinyir pada Rizal dan kawan-kawan, hal yang dikritik, sungguh objektif juga.

Nah kalau isu ini digoreng, fakta ini  lalu menjadi agenda publik, masyarakat marah, maka bisa saja terjadi people power. Kenapa tidak?

Kuat-kuatan mana aja menggoreng isu dan mempengaruhi masyarakat.

Dan ternyata memang kelangkaan itu bisa disiasati. Meski sumber utamanya, “permainan tingkat tinggi” bahan pokoknya, yakni SAWIT, hingga kini masih carut marut. Akibat efek domino krisis migor, dan ekonomi politik dan politik ekonomi sawit sejak Maret 2022, kini kondisi anjlognya harga tanda buah segar (TBS) sawit di tingkat petani masih menjadi keluhan serius.

Petani sawit bukan saja tertahan kaya. Tapi mereka menderita.

Sebelum Imlek, mereka berharap setelah Tahun Baru Cina, harga sawit akan kembali normal. Namu, minggu berganti bulan. Harapan tetap saja hampa. Belum ada perbaikan.

Ini pelajaran berharga. Bagaimana negara campur tangan di dalam suatu komoditas yang menyangkut hidup banyak orang. Campur tangan bisa berakibat baik. Namun, bisa juga sebaliknya. Padahal, sebelum krisis migor dan perang isu ekonomi-politik sekaligus politik ekonomi sawit, harga TBS/kg di tingkat pertani a rp 3.200. Saat itu, judul narasi di Web kita ini cukup menggelitik.

Baca https://bibliopedia.id/petani-sawit-tertahan-kaya/?v=b718adec73e0

Narasi serta ilustrasi di sini. Adalah Historia vero testis temporum. Yakni saksi zaman yang diabadikan dalam teks dan gambar. *)

gambar: antre migor di Makassar/istimewa.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply