Namsi dan Ring 1 IKN: Kekuasaan Direbut, Tidak (Pernah) Diberi Cuma-cuma

Namsi. Baptisnya: Andersius. Ia jadi buah bibir. Lantaran segelintir dari 8 jutaan populasi Dayak yang direkrut turut dalam “Ring 1” IKN. Itu pun setelah Dayak menuntut, berjuang, dengan usaha yang prima.

Fenomena Namsi membuktikan aksioma: Kekuasaan tidak ada yang cuma-cuma, diberikan begitu saja. Tapi: diperjuangkan.

Meski bukan di level pemuncak jabatan Ibu Kota Nusantara (IKN), toh kedudukan Namsi ini bisa jadi “hadiah hiburan”. Setidak-tidaknya, secelah pintu sudah masuk. Melempangkan jalan untuk orang-orang (D) berikutnya, masuk juga! Andaikan saja pintu tertutup sama sekali? Kita hanya bisa nginceng dari luar!

Orang Dayak bilang: cempale’, pelopas, agar tidak komponan! Setidaknya dengan ini, bisa menyusun strategi langkah yang berikutnya. Sebab Dayak punya mata, kaki, dan tangan wakilnya telah ada di rumah pesta.

Namun, siapakah Namsi? Saya lebih daripada mengenalnya Ia seorag yang perfeksionis. Cerdas. Penggila-baca, seperti saya. Hobinya musik.

Wawasannya luas. Kritiknya pedas, tanpa tedeng aling-aling. Tapi jika argumen masuk di akalnya, ia “mengalah”. 

Namsi dilahirkan dari keluarga sederhana Dayak. Di tanah subur yang dikenal dengan : La La yang berarti: jauh, dipetik dari dialek Cina setempat.

Pada awalnya, Bengkayang merupakan sebuah desa bagian wilayah Sambas, desa Bengkayang merupakan tempat singgah pada pedagang dan penambang emas. Bengkayang pada masa penjajahan Belanda merupakan bagian dari wilayah Afdeling van Singkawang.

Di tanah La La inilah Andersius Namsi dilahirkan. Dipanggil “Namsi” saja, sebab itu pemberian orang tua. Sejak belia, Namsi merasa betul apa artinya “Dayak”. Tak lain dan tak bukan, labeling yang disematkan Kolonial Belanda untuk membedakan indigeneous people (penduduk asli) Borneo dengan pendatang. Semacam pemilahan, cenderung askripsi, yang di zaman baheula menjadi kutuk.

Namsi sejak kecil terbiasa bekerja keras. Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di kampungnya, sembari bekerja membantu orang tua menyadap karet. Kemudian, melanjutkan pendidikan menengah atas di SMAN 1 Singkawang.

Di kota Amoi inilah ia perlahan berubah pola pandang, dan bertekad mengubah kutuk menjadi berkat. Pria berkacamata yang sekilas mirip Cina ini yakin bahwa pola pandang, atau konsep-diri yang positif perlu terus-menerus dibangun jadi berkat.

Betapa tidak! Akibat labeling Dayak, yang berarti: orang yang tinggal di hulu, di daratan, jauh dari pesisir; itu ketika pusat segalanya bukan lagi di pesisir melainkan di daratan, orang Dayak menikmati berkat itu. Orang Dayak punya tanah. Mereka juga berlimpah makanan dan minum di belantara.

Hasil amatan tersebut, dituliskan Pengajar Psikologi Pendidikan Kristen dan Teologi Agama[1]agama di STT Baptis Bandung itu dalam sebuah artikel panjang, yang dimuat di tabloid Suara Borneo edisi Agustus-September 2015 di bawah judul “Meniti Identitas Dayak: Berkat atau Kutuk?”

Tegas Namsi, “Buang pola pandang yang membelenggu. Jangan merasa malu (lagi) menjadi Dayak. Pola pandang kita sesungguhnya yang membelenggu untuk maju, bukan identitas Dayak kita,” tegasnya. “Marilah kita memiliki worldview bahwa Dayak itu kuat, bermartabat, hebat, dan siap menjadi berkat.”

Fenomena Namsi masuk Ring 1 IKN membuktikan aksioma: Kekuasaan tidak ada yang cuma-cuma, diberikan begitu saja. Tapi: diperjuangkan.

Sebagai akademisi, Namsi banyak memberikan paparan di berbagai fora, baik nasional maupun internasional. Dalam Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak di Bengkayang (4-6 Juni 2017), Namsi salah satu narasumber.

Di bawah topik “Keanekaragaman Suku dan Bahasa Dayak: Berkat atau Dilema?” Namsi menarik perhatian peserta. Ia berpendapat bahwa usaha-usaha doktrinisasi ke-Dayak-an akan menjadikan keanekaragaman Dayak itu sebagai berkat dan anugerah dari sang Jubata, Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan demikian, masyarakat Dayak akan menjadi suku bangsa yang kuat dan bermartabat di mata dunia, baik secara nasional maupun Internasional.

Papernya diterbitkan dalam buku berjudul Menjadi Dayak tanpa Sekat oleh Penerbit Lembaga Literasi Dayak (2018). Namsi Ketua Yayasan Persekutuan Kristen Indonesia (YAPKI/OMF Indonesia). Selain akademisi dan pendeta, Namsi juga seorang Counselor and Temperament Psychoterapist. Gelar Doktor pertama yang diraihnya di bidang Teologi Kontekstual dari Colorado Theological Seminary, USA pada 23 Mei 2009. Predikat kelulusan: Summa Cum Laude (sempurna).

Tak sampai di situ. Namsi meneruskan Doctoral-nya di bidang Clinical Counseling dan meraih gelar Ph.D. dengan predikat Cum Laude (sangat memuaskan), sehingga membawa pria klimis yang dahulu penyadap karet ini menyandang dua gelar doktor sekaligus.

Organisasi sosial juga menjadi panggilan jiwa pria bersuamikan wanita Tionghoa itu. Ia aktif dalam Forum Dayak Kalbar Jakarta (FDKJ), sebuah organisasi di Jakarta di mana berkumpul warga Dayak Kalbar.

 Periode kepengurusan 2015-2019, Namsi dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum, sedangkan Ketua Umumnya Irjen Pol. Tommy Sagiman. Banyak kiprahnya di forum ini, baik sisi kemanusiaan, pendidikan, hingga pada koordinasi serta upaya menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa Dayak. Sebagai penulis, ia menerbitkan buku berjudul Tubuh, Jiwa, dan Roh: Kemenangan Psikologi Alkitabiah. Sedangkan yang kedua, Islam dan Teologi Kontekstual Alkitabiah, merupakan kontribusi kecilnya sebagai anak bangsa bagi Indonesia.

Di antara prahara arus deras radikalisme membencanakan bangsa, anak penoreh karet ini masih memikirkan cara keluar dari pusaran dan selamat sampai tujuan, seperti bahtera Nuh dahulu kala pernah berjaya.

Moto hidup jelas jadi pelita yang menuntun tiap langkahnya. “Life is the grace of God. Struggling is colour of life.”

Ya, baginya hidup adalah karunia Sang Pencipta. Pergumulan adalah warna kehidupan.*

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply