Pekerjaan Filsuf

Setiap kali orang bertanya, “Apa pekerjaan anakmu di Jakarta?” pada ayah. Lelaki kelahiran tahun 1936 dengan rambut putih, namun tetap lebat itu, selalu jawab, dengan bangga: “filsuf”.
 
Memang, secara akademis, saya sarjana filsafat. Namun, baru tahu juga dari my superhero, superdad. Bahwa ada juga jenis pekerjaan ini, selain guru, dokter, dan insinyur.
***
Benarlah. Bahwa intuisi dan naluri mendahului ilmu pengetahuan. Namnya: pre-kognisi.
 
Ayahku –lengkap namanya Ludovikus Cornelius Sareb– pendidikan formalnya hanya ongko loro school, alias Sekolah Rakyat (SR). Kelas 4 loncat ke kelas 6. Namun, fasih Holland Spreken, Latin, dan Jepang.
 
Waktu DPR/GR, ia disuruh nulis : tamat SMA. Lalu masuk Golkar, lolos DPRD Sanggau, disuruh nulis: sarjana. Ia 3 periode jadi anggota DPRD Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kemampuan/ keahliannya setara sarjana. Saya kerap mengadu pengetahuannya. Saya yakin. Jika disetaralan, atau di-SKN-kan, ayah saya di Level 7, setara Master kemampuan/ keterampilannya.
***
Kembali ke laptop. Tentang pekerjaan saya.
 
Benarlah ungkapan ini: “Primum manducare, deinde philosophari.” Makan dahulu, berfilsafat kemudian.
Nujum ayah benar.
 
Saya mendapat rezeki, pekerjaan, dari: olah-pikir. Kadang, seharian tidak keluar rumah, ngendon di kamar. Berkutat dengan olah pikir. Menghadap laptop, merangkai gagasan dalam kata. Mendalami footnotes.Mencari sumber primer.
 
Melalui proses dialektika, dan kemampuan menyintesekan, kemudian menuangkannya menjadi narasi bernilai komoditas.
***
SAYA haikul yakin. Seorang AYAH YANG DIIDOLAKAN OLEH ANAKNYA adalah AYAH TERBAIK.
 
Saya mengidolakan ayah saya!
Tapi apakah saya diidolakan oleh anak saya, silakan dia yang menjawabnya.
Mungkin tidak. Mungkin juga ya. Atau keduanya, dengan kekecualian.*
 
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply