Pengarang Novel Sejarah Patih Gumantar Itu Yohanes Laon

Garege Takus.

Siapa gerangan? Adalah nama pena yang disematkan kepada seorang pengarang-alam berbakat bernama Yohanes Laon.

Kreativitasnya dalam menulis, di atas rata-rata. Jauh sebelum literasi menjadi habitus di kalangan sukubangsa Dayak, yang populasinya sedunia sirka berbilang angka 8 juta, Yohanes Supriadi dikenal sebagai seorang blogger produktif.

Namanya bagai Kartini era 1990-an itu di seantero Kalimantan Barat. Harum namanya. 

Maka tatkala Yohanes Laon menawarkan naskah “Patih Gumantar” untuk disentuh dan diterbitkan, saya dengan senang hati menerima tawarannya tanpa reserve. 

Alasannya sederhana: saya telah mengenalnya sebelumnya. Dalam senarai sastrawan Dayak di Wikipedia, namanya tertera di antara 30-an nama sastrawan senior lainnya.

Ini bukti pengakuan. Bahwa Yohanes Laon cukup mumpuni mencapai prestasi dan pengakuan dalam dunia sastra setara nama-nama yang telah ada.
Kunjungi untuk mengetahui siapa saja sastrawan Dayak https://id.wikipedia.org/wiki/Sastrawan_Dayak

Dengan ilustrasi  sampul buku mengamil gambar diri Piet Pagau, aktor senior Dayak nan tampan lagi gagah-perkasa. Novel sejarah ini berhasil mengisi celah kosong dalam genre novel Dayak yang selama ini saya tekuni. Semakin banyak karya seperti ini, semakin baik bagi perkembangan sastra Dayak. Ini adalah langkah menuju kejayaan sastra Dayak yang semakin gemilang.

Siapa Patih Gumantar ?
Patih Gumantar adalah seorang tokoh berpengaruh di suku Dayak pada zaman praktik kayau-mengayau. Ia dianggap sebagai seorang raja kecil dan memiliki tengkorak kepala yang memiliki kasiat penting dalam hidup suku Daya. Tengkorak ini menjadi pusat perhatian raja Pulang Palih yang ingin mengambilnya. Patih Gumantar adalah tokoh sentral dalam konflik utama dalam cerita ini.

Ketika Dara Hitam sedang mandi. Sehelai rambut panjangnya yang sangat panjang hanyut di sungai. Rambut tersebut memenuhi sebuah bokor kuningan yang hanyut oleh arus sungai dan tertarik oleh pengawal raja Pulang Palih yang juga sedang mandi. Mereka mencoba menarik rambut tersebut. Tapi rambut ini tidak habisnya. Raja Pulang Palih menjadi heran dan ingin mencari pemilik rambut ini.

Dara Hitam adalah anak tunggal Patih Gumantar. Patih Gumantar, seorang tokoh berpengaruh di zamannya, dianggap sebagai raja kecil oleh masyarakatnya. Ia hidup dalam kemewahan dan kemakmuran, namun banyak kerajaan kecil tetangga yang ingin merebut kekuasaannya. Pada masa itu, perang kayau-mengayau masih merajalela. Salah satu kerajaan, yaitu Kerajaan MIAJU, nekat menyerangnya. Mereka datang dengan kekuatan yang lebih besar, berhasil mengalahkan Patih Gumantar, dan bahkan mengambil tengkorak kepala Patih Gumantar, yang memiliki kasiat penting dalam hidup masyarakat.

Tengkorak ini harus dijaga dengan ketat karena jika hilang, maka hilanglah segala kasiat dan keberuntungan dalam hidup masyarakat. Tengkorak Patih Gumantar disimpan dalam tajo Tarus, raja Biayu, dan dijaga dengan ketat.

Dara Hitam tumbuh dewasa dan menjadi seorang “BALIAN” atau dukun yang disenangi oleh rakyatnya. Ramuan dari kayu-kayuan kampungnya dan akar-akar hutan yang masih memiliki khasiat obat menjadi keahliannya. Dara Hitam sering diundang ke kampung-kampung tetangganya untuk melakukan berbagai ritual dukun yang berlangsung berminggu-minggu, termasuk mandi di sungai sesuai adat.

Pada suatu hari, ketika Dara Hitam sedang mandi. Sehelai rambut panjangnya yang sangat panjang hanyut di sungai. Rambut tersebut memenuhi sebuah bokor kuningan yang hanyut oleh arus sungai dan tertarik oleh pengawal raja Pulang Palih yang juga sedang mandi. Mereka mencoba menarik rambut tersebut. Tapi rambut ini tidak habisnya. Raja Pulang Palih menjadi heran dan ingin mencari pemilik rambut ini.

Setelah berunding, mereka mengambil kesimpulan bahwa pemilik rambut ini mungkin berada di hulu sungai. Mereka memutuskan untuk menyusuri sungai dalam pencarian ini. Raja beserta pengikutnya berangkat dengan sampan, membayangkan bahwa pemilik rambut ini adalah seorang gadis cantik. Mereka telah berkayuh jauh, dan akhirnya melihat sebuah rumah berhias rapih yang menunjukkan tanda-tanda adanya seorang dukun dalam adat masyarakat tersebut. Salah satu anak buah raja bertanya apakah ada seorang yang memiliki rambut panjang di kampung ini, dan kebetulan ada seorang anak yang datang menimba air memberikan keterangan bahwa ada seseorang yang memiliki rambut panjang. Dara Hitam, yang dikenal sebagai dukun, akhirnya diundang oleh raja Pulang Palih dengan rencana tipu daya untuk mengambil tengkorak Patih Gumantar yang disimpan dengan sangat hati-hati.

Dara Hitam akhirnya jatuh ke dalam perangkap yang dirancang oleh Raja Pulang Palih, meninggalkan daerah Tembawang Selimpat dan menuju daerah Tembawang Ambator. Ia sadar bahwa ia telah menjadi korban penipuan Raja Pulang Palih, yang sebenarnya adalah keturunan raja Jawa di Banten. Dara Hitam menjadi tawanan yang tak bisa melarikan diri dari situasi yang sangat sulit.

Raja Pulang Palih dan Riya Sinir yang merasa kecewa juga berusaha untuk mendapatkan kembali tengkorak Patih Gumantar, yang telah diambil oleh Miaju. Mereka menganjurkan Dara Hitam untuk menikahi Riya Sinir sebagai bukti sah perkawinan. Dara Hitam awalnya menolak, namun akhirnya mengikuti perasaan halus dalam hatinya, meskipun ia selalu membayangkan tengkorak kepala ayahnya yang menjadi alasan untuk menolak. Akhirnya, ia menikah dengan Riya Sinir karena paksaan yang sukar ditolak.

Dara Hitam dan Riya Sinir menjadi pusat perhatian raja Pulang Palih dalam upaya mereka untuk mendapatkan tengkorak tersebut. Mereka meminta Riya Sinir untuk menebang kayu merbau yang akan digunakan untuk membuat jong yang akan membawa mereka ke Miaju, tempat tengkorak itu disimpan.

Riya Sinir awalnya enggan, tetapi akhirnya setuju. Ia berhasil menebang kayu merbau yang besar setelah usaha sebelumnya oleh rakyat Pulang Palih gagal. Kemudian, mereka berhasil membuat jong yang akan digunakan untuk perjalanan ke Miaju.

Jong yang telah selesai dipersiapkan, dan semua syarat yang diajukan oleh Riya Sinir telah dipenuhi, termasuk tujuh perempuan hamil tua sebagai bantalan alas jong. Jong tersebut akhirnya diluncurkan ke sungai dengan harapan agar mereka berhasil membawa kembali tengkorak kepala Patih Gumantar.

Setelah perjalanan yang panjang dan penuh tantangan, jong akhirnya mencapai Miaju, tempat tengkorak kepala Patih Gumantar disimpan. Dara Hitam, Riya Sinir, dan raja Pulang Palih berhasil mengambil kembali tengkorak tersebut, menjadikannya kemenangan besar dalam upaya mereka.

Kisah ini menjadi legenda yang dikenang oleh masyarakat setempat. Menggambarkan pengorbanan dan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai rintangan untuk mempertahankan sesuatu yang sangat berharga bagi mereka, yaitu tengkorak kepala Patih Gumantar.

Ingin tahu kisah Patih Gumantar selengkapnya?

Baca semua buku ini!

14 Bab. Diterbitkan Lembaga Studi dan Literasi Dayak. @ Garege Takus. 2014.
379 halaman. Price premium hanya Rp 122.000,-

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply