Percetakan & Penerbitan Nusantara Era VOC dan Prakemerdekaan

Ingin tahu seperti apa cikal bakal penerbitan dan percetakan Nusantara selama dan Prakemerdekaan? Baca selengkapnya narasi ini!

Cikal Bakal

Pada zaman penjajahan oleh bangsa Belanda, kemajuan tulis-cetak di Nusantara semakin berkembang. Tradisi tulis-cetak yang dibawa VOC dan bangsa Belanda dari Negeri Kincir Angin masih diteruskan di Nusantara.

 Sebagaimana diketahui, tujuan kedatangan bangsa Belanda ke Nusantara pertama-tama bukanlah untuk menyebarkan agama, namun lebih dilandasi oleh misi dagang. VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) merupakan bukti bahwa Belanda lebih mementingkan misi dagang dibadingkan yang lain.

Kendatipun demikian, percetakan Prapatan (di Jalan Prapatan, dekat Gereja Anglikan di Jakarta Pusat sekarang) boleh dikatakan lahir karena salah satu tujuannya adalah menerbitkan alkitab untuk keperluan di Nusantara.

Percetakan dan Perkembangannya
Dilihat dari industri kultural, pertumbuhan perusahaan grafika pers dan nonpers terkait langsung dengan kemajuan suatu bangsa. Karena, meski mesin cetak sudah lebih dulu di temukan Johanes Gutenberg empat abad silam, bisnis percetakan di Nusantara baru muncul pada 1809, ketika berdirinya Lands Drukkerij.

Adapun tujuan awal percetakan ini adalah mencetak berbagai formulir yang dibutuhkan bagi kepentingan pemerintah Hindia-Belanda. Fungsi percetakan pertama ini, kemudian diteruskan Perum Percetakan Negara Republik Indonesia.

Tahun 1950 misalnya, baru terdapat 496 perusahaan percetakan di Indonesia, menjadi 781 pada tahun 1957. Sepuluh tahun kemudian, 1967, naik menjadi 1.392. Akan tetapi, pertambahan luar biasa, terjadi tahun 1977. Di tahun ini, tercatat sebanyak 4.470 perusahaan percetakan di Indonesia. Tahun 1987, meningkat menjadi 4.918, dan hingga akhir 1992 menjadi 6.713 unit perusahaan percetakan, termasuk percetakan pers dan nonpers.

 Saat ini, di Indonesia terdapat 6.713 perusahaan percetakan, besar dan kecil. Namun, kapasitas percetakan ini masih terbatas jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Sebab idealnya, setiap 7.000 penduduk di layani sebuah percetakan.

Melihat kenyataan ini, maka masih terbuka peluang untuk mendirikan perusahaan percetakan. Tetapi, cukup realistiskah usaha ini, mengingat kemampuan ekomomi dan kebutuhan masyarakat  Indonesia tidak merata?

Dilihat dari tingkat konsumsinya, penggunaan kertas dalam industri pers nasional tampak semakin meningkat. Saat ini, penggunaan kertas koran rata-rata mencapai 14.000 ton perbulan. Padahal, kapasitas produksi kertas koran dalam negeri baru mencapai 12.000 ton perbulan, sehingga setiap bulan kekurangan 2.000 ton. Kekurangan ini diatasi dengan mengimpor kertas.

Omzet terbesar bisnis percetakan umumnya di miliki bersama-sama penerbitan pers dan nonpers. Sejak pemerintah mengeluarkan izin penambahan halaman surat kabar harian (dari 12 menjadi 16 atau lebih), di samping adanya permintaan mencetak gambar berwarna (separasi), bisnis percetakan kian subur.

Bagaimana percetakan dan penebitan era digital?

Akan dibahas pada narasi tersendiri!

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply