Perempuan Penyapu Halaman: Penerbit Dayak, Pengarang Sunda

Penerbit Dayak, Pengarang Sunda.
Ini tidak biasa. Tapi terjadi. Nama. Nomen clatura memang ada maksud tujuannya. Ia bukan cuma positioning, juga branding. Hendak memposisikan, dan menangkap, ceruk tertentu. Captive market, istilah orang marketing.

Tapi ada juga nama yang semula khusus untuk itu, berkembang, sesuai dinamika. Universitas Indonesia misalnya, mahasiswa dan dosennya bukan hanya orang Indonesia. Demikian pula Institut Teknologi Bandung; bukan hanya untuk orang Bandung.

Menjelaskan fenomena pengarang-penulis Sunda menerbitkan dan mencetak bukunya di Penerbit/ Percetakan Lembaga Literasi Dayak pun demikian. Dengan metafora.

Artinya, seperti UI dan ITB. Bukan hanya kalangan ber-nomen clatura itu, “milik masyarakat bangsa yang luas”. Tidak menutup diri. What’s a name, sesuai kata Shakespeare, kadang pas untuk konteks tertentu. Untuk konteks lain, pas bisa tidak.

Pengarang-penulis dan Penerbit buku ini kawan-rapat. Teman seperguruan di lingkungan Kompas-Gramedia. Jadi tak ada aral melintang soal suku. “Telah selesai”.

Kami, sesuai anjuran guru-besar Jakob Oetama, mempraktikkan “Indonesia mini.” Bhineka tunggal ika, bagi kami, hidup. Bukan sebatas slogan.

Terbitnya buku pengarang Sunda Penerbit Dayak ini bukti bahwa jika sukubangsa-sukubangsa di negeri Pancasila (bisa) bekerja sama, kehbinekaan itu indah.  Saling menopang. Ia jadi kekuatan. 1 + 1 bukan hanya 2, bisa lebih; sesuai yang kita mau.

Hari gini, tidak zamannya lagi kompetisi, saling saing. Melainkan: kolaborasi, saling untung, dan melengkapi.

Apakah karena hubungan pertemanan buku ini terbit dan diterbitkan? Silakan Pembaca sendiri yang menilai. Tentu saja, usai membaca dan memamah biak karya “urang Sunda” yang sebenarnya mengawali karier penulisan dari fiksi. Cerpen dan cerbungnya era 1990-an menghiasai majalah Hai, dan sebagainya. Kadang ia menggunakan nama pena.

Terbitnya buku pengarang Sunda Penerbit Dayak ini bukti bahwa jika tidak sukubangsa di negeri Pancasila (bisa) bekerja sama, kehbinekaan itu indah.

Sekilat saripati novel berbilang halaman 200 ini:
Jiwa seorang gadis desa terguncang karena deraan hidup yang tidak pernah berpihak kepadanya. Ia menjadi gila karena apa yang didambakan tidak menjadi kenyataan. Seorang pemuda yang merupakan teman sepermainannya, meski terpaut usia lebih muda, hadir sebagai dewa penolong. Karena terikat pe – ristiwa masa lalu yang menjadi tanggung jawabnya, ia merawat gadis itu dengan sepenuh hati. Seorang mahasiswi psikologi yang sedang melakukan penelitian masuk ke dalam kehidupan mereka berdua. Ia memotret dari dekat pola relasi yang jang – gal antara pemuda waras dan tulus dengan seorang perempuan sakit jiwa. Namun dalam perjalanan, ia menemukan dirinyalah yang justeru menjadi manusia paling janggal.

ISBN: 978-623-7069-86-7

Cinta itu universal, tak kenal ruang, waktu dan usia. Semua orang bisa berurusan dengan cinta sebagai naluri purba, semua orang bisa jatuh sekaligus terjatuh karena cinta. Tetapi bagaimana cinta itu menjadi sebuah relasi yang memikat antar manusia dengan akhir yang mengharu biru, itulah kemampuan Pepih Nugraha dalam meramunya men – jadi sebuah novel –Seorang pembaca setia.

Dari judulnya, kita mafhum. Eufoni, keindahan bunyi, Perempuan Penyapu Halaman telah sastra.  –R. Masri Sareb Putra. *)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply