Raja dan Sultan Kutai Kartanegara

Tapak tilas sejarah Borneo adalah bagian dari masuk ke dimensi waktu masa lampau. Tidak bisa tidak. Gnothi seauton (mengenal siapa diri kita), sejarah adalah pangkal mulanya. Tanpa mengetahui, dan mengenal, dimensi sejarah maka belum purnalah pengetahuan kita.

Seperti menejejak kaki. Sekaligus masuk ke alam masa lampau, zaman kerajaan dan kesultanan di Kutai Kartanegara. Jika telah masuk dimensi waktu sejarah, siapa pun akan berkata, “Sungguh layak dan pantas. Bahwa kemudian peradaban yang diawali di sini, kembali pula ke tempat ini lagi”.

Ibu Kota Negara yang dilabeli “Nusantara” pulang ke asal segala peradaban yang masih menjejakkan bekasnya hingga hari ini. Terlepas dari istilah “Nusantara” itu sendiri khas feudatori imperium Majapahit untuk menundukkan pulau-pulau lain, selain Java-dvipa –sebagaimana jelas tersurat dalam nats Sumpah Palapa, “… lamun huwus kalah Nusantara….”

Di museum Mulawarman.

Saya bukan hanya mengetahui silsilah raja-raja Kutai, melainkan juga raja-raja semasa kemerdekaan. Garis keturunan raja-raja Kutai, dibuat per periode. Kudungga adalah raja Dayak pertama.

Saya sengaja, dengan susah payah, keluar museum. Ke makam raja-raja Kutai. Tak ada rasa takut. Saya mengamati, memlototi, nisan-nisan tua. Seakan, sejarah berbicara kepadaku.

Orang silau pada kuasa ekonomi dan politik. Padahal, KUASA BUDAYA jauh lebih unggul. Dan dahsyat.

Di dalam museum, baru sedikit berdiri bulu roma. Ketika mata terpanah pada manekin para Gubernur Kaltim dengan kepala separuh badan, mereka di dalam. Pasalnya, ada darinya yang saya kenal-baik: Yurnalis Ngayoh. Kawan-rapat. Sahabat. Sesama pengarang-Dayak.

Tak kuasa saya menatap manekinnya. Seakan membisikkan sesuatu….

1300-1325    Aji Batara Agung Dewa Sakti
        Raja pertama Kutai yang mendirikan kerajaannya di Kutai Lama
1325-1360     Aji Batara Agung Paduka Nira
1360-1420    Aji Maharaja Sultan
1420-1475    Aji Raja Mandarsyah
1475-1545    Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya

1545-1610    Aji Raja Mahkota Mulia Alam
        Raja Kutai Kartanegara pertama yang memeluk agama Islam 
1610-1635    Aji Dilanggar
1635-1650    Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa ing Martapura
        Raja yang menaklukan Kerajaan Kutai Martadipura. Raja kemudian menamakan kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

1650-1665    Aji Pangeran Dipati Agung ing Martapura 
1665-1686    Aji Pangeran Dipati maja Kusuma ing Martapura
1686-1700    Aji Ragi gelar Ratu Agung
    Ratu pertama yang memimpin Kerajaan Kutai Kartanegara

1700-1710    Aji Pangeran Dipati Tua
1710-1735    Aji Pangeran Anum Mendapa ing Martapura
1735-1778    Aji Muhammad Idris
1778-1780    Aji Muhammad Aliyeddin
        Aji Kado melakukan kudeta dengan mengangkat dirinya sebagai Sultan Aji Muhammad Aliyeddin setelah Sultan Aji Muhammad Idris wafat di Wajo, Sulawesi Selatan.
1780-1816    Aji Muhammad Muslihuddin 
    Pewaris tahta yang sah dari Sultan Aji Muhammad Idris dan berhasil menggulingkan pemerintahan Aji kado
1816-1845    Aji Muhammad Salehuddin
1850-1899    Aji Muhammad Sulaiman
1899-1910    Aji Muhammad Alimuddin
1920-1960    Aji Muhammad Parikesit
    Sultan terakhir setelah pemerintahan kesultanan berakhir pada 1960
1999-2018    Haji Aji Muhammad Salehuddin II
    Ditetapkan sebagai Sultan Kutai pada tahun 1999 setelah Kesultanan Kutai dihidupkan kembali. Namun upacara penobatan baru dilaksanakan pada 22 September 2001.
2018- …    Sultan Adjie Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adniningrat

***

Raja dan Sultan zaman now sesungguhnya the real-nya adalah siapa, lembaga, atau orang yang berpengaruh, dominan, dan menentukan di segala aspek kehidupan. Itulah konsep raja zaman now. Ia yang menguasai. Dan menentukan. 

Bisa di bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan… yang utama dan pertama bidang kebudayaan.

Orang silau pada kuasa ekonomi dan politik. Padahal, KUASA BUDAYA jauh lebih unggul. Dan dahsyat. *

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply