Rekam Jejak Literasi Dayak Masa ke Masa

 
 
 
Buku ke-138. Dalam proses Live in Google play store, kemudian : cetak.
Sejak bila, sebenarnya, “Dayak menulis dari dalam”?
Hasil penelusuran menunjukkan literasi Dayak dimulai era Tjilik Riwut dengan karya Sejarah Kalimantan (1952) sebagai tonggak. Baru kemudian, Fridolin Ukur dengan Tantang Jawab Suku Dayak (1971).
 
Kemudian, bermunculan sastrawan, munsyi, dan penulis Dayak prolifik: Korrie Layun Rampan dengan Upacara (1978) dan Ding Ngo dengan 7 jilid buku Syair Lawe (1985).
 
Jejak literasi mereka, diteruskan Masri Sareb Putra dengan novel perdananya Flamboyan Kembali Berbunga (1987), sedemikian rupa, sehingga dibaiat sebagai salah seorang penyangga “Sastrawan Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia” (Leksikon Susastra Indonesia 2000: 390) yang mendekati tajuk literasi bersama Herkulana Mekarriyani dengan mendirikan Penerbit Lembaga Literasi Dayak (LLD) dan Komunitas Literasi Dayak.
 
Estafet literasi Dayak kemudian dilanjutkan penulis dan pegiat literasi yang paling junior, Sandi Firly (2013) yang melahirkan banyak karya bernuansa lokal.
 
Jejak Literasi Dayak masa lampau hingga kiwari, terekam dalam sejilid buku monumental ini. Yang mencatat pula perhelatan, mahakarya sebagai tonggak prasasti literasi abad ini: Batu Ruyud Writing Camp 2022 yang diinisiasi Dr. Yansen TP, M.Si. yang dengan saksama mendirikan sebongkah batu Prasasti Literasi di Batu Ruyud, Kecamatan Krayan Tengah, Kalimantan Utara. Suatu ujud tonggak peradaban baru, meneruskan matarantai 7 prasasti Batu Yupa yang didirikan Raja Mulawarman di Muara Kaman, Kalimantan Timur, pada pengujung abad ke-4 Masehi.
 
Literasi. Begitulah cara kerjanya! Ia mengabadikan apa yang sementara.
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply