Bayangkan ketololan ini. Suatu hari saya berniat membaca Kant dan tujuannya sederhana, yakni masuk ke Critique of Pure Reason, berjalan lurus menuju jantung rasio murni, lalu keluar beberapa minggu kemudian sebagai manusia yang sedikit lebih beradab. Tapi rencana itu mampus bahkan sebelum sempat dimulai.
Baru di kata pengantar edisi pertama tahun 1781, saya menemukan Kant mengutip Ovid. Pembaca yang sehat sepertinya akan melewati kutipan itu begitu saja. Saya tidak. Saya tidak sehat! Saya berhenti seperti kambing melihat papan reklame sambil bertanya-tanya: kenapa Ovid? Saya pelototi puisi itu seakan mau ikut Lomba Baca Puisi Piala Rendra.
Lima menit kemudian saya sudah terdampar di Romawi Kuno, bukan di UPI Bandung. Saya membaca Ovid, lalu mendadak merasa tidak adil kepada penyair lain yang tidak diajak Kant. Mengapa Kant tidak memilih Lucretius? Mengapa bukan Virgil yang begitu agung? Mengapa bukan Lucan yang begitu gelap? Saya belum memahami Kant satu kalimat pun, tetapi sudah sibuk mengajukan diri menjadi panitia seleksi penyair Latin dari masa lalu yang jauh sekali. Otak saya lumpuh oleh urusan yang sama sekali bukan urusan saya.
Akhirnya saya kembali kepada Kant dengan wajah penuh penyesalan, dan Kant rupanya belum selesai mengerjai saya. Beberapa paragraf kemudian muncullah John Locke. Saya berbelok lagi. Benar-benar tidak sehat. Baiklah, pikir saya, mari membaca Locke sebentar saja. “Sebentar” adalah satuan waktu yang paling pembohong dalam sejarah membaca. Baru beberapa halaman Locke, kepala saya mulai ribut sendiri.
Mengapa Locke? Mengapa bukan Hume? Atau mengapa bukan Condillac? Saya bahkan belum selesai membaca alasan Kant menyebut Locke, tetapi saya sudah sibuk mengadakan rapat ilmiah di kepala saya yang tidak pernah diminta oleh siapa pun di dunia ini. Saya mulai curiga, jangan-jangan saya ini tidak hanya sakit-baca. Saya hanyalah satpam perpustakaan gila yang setiap lima menit membuka pintu baru tanpa pernah tahu apa isi ruangannya.
Baru membuka gerbang sebuah buku, pikiran saya sudah menjadi pelacur yang berpindah dari satu pelukan referensi ke pelukan referensi berikutnya. Saya mengkhianati setiap buku dengan buku lain. Tidak ada yang benar-benar saya tinggali. Semua hanya saya singgahi untuk saya raba-raba sebentar.
Lama-kelamaan saya menyadari bahwa buku-buku besar mempunyai sifat yang… bajingan. Mereka tidak pernah menjadi tembok yang melindungi pembaca. Mereka selalu menjadi koridor yang bocor. Setiap nama adalah pintu. Setiap catatan kaki adalah lorong rahasia. Setiap kutipan adalah jebakan Batman untuk membuat saya menghilang. Saya baru membaca satu halaman. Pikiran saya sudah menempuh lima abad. Yang lebih menyedihkan dan menjijikkan: saya menikmati kecelakaan itu.
Saya memang ingin sampai kepada Kant. Namun, saya juga ingin tahu mengapa Kant menyebut orang itu, bukan orang ini. Saya ingin tahu siapa yang memengaruhi siapa, siapa yang membantah siapa, siapa yang diam-diam sedang disindir. Akibatnya, saya lebih sering membaca gosip sejarah perjalanan menuju sebuah pikiran daripada pikiran itu sendiri. Saya sibuk mengurusi rute, lupa pada tujuan.
Mungkin inilah bentuk ketololan yang paling tolol, atau mungkin yang lebih parah dari tolol. Saya tidak malas membaca. Saya terlalu rajin tersesat. Maka, saya peringatkan, jangan pernah menjadi pembaca seperti saya.
Bacalah dengan patuh. Mengalirlah. Naiklah kereta api tut… tut… tut… yang relnya sudah disemen mati. Jangan turun di setiap stasiun hanya karena nama kotanya terdengar eksotis. Jangan menginterogasi setiap catatan kaki seolah-olah ia tersangka utama pembunuhan. Jangan memperlakukan daftar pustaka seperti katalog biro perjalanan.
Jadilah pembaca yang tahu cara pulang ke halaman yang sedang dibuka. Jika tidak, nasibmu akan seperti saya: berdiri mlongo di tengah persimpangan yang dipenuhi jutaan pintu, menggenggam sebuah buku yang belum lewat halaman pertama, sementara isi kepala sudah mondar-mandir kepanasan melintasi dua ribu tahun sejarah.
Lalu sahabat saya datang ke kosan dan bertanya, “Sudah sampai mana membaca Kant?”
Saya melihat buku di kasur saya, lalu menjawab dengan semangat: “Ovid!”
