Fakultas Akal, Fakultas Beton

Agustus dan September sebentar lagi tiba. Ribuan anak SMA yang baru lulus akan resmi menyerahkan diri ke berbagai kampus, mengenakan kemeja putih-hitam, kepanasan mengikuti ospek, lalu sibuk memamerkan jaket almamater di media sosial. Pemandangan itu selalu mengingatkan saya pada diri sendiri, tiga puluh tahun yang lalu.

Menjelang lulus SMA pada tahun 1996, saya pernah mendengar nama Immanuel Kant dari kakek saya. Terus terang, waktu itu saya mengira Kant adalah orang Belanda yang ahli mengelas rel kereta api. Maklum, hampir semua cerita hebat dari kakek saya berujung pada Belanda atau Jepang. Beliau memang pernah menjadi Kepala Pembangunan PJKA Kota Bandung, sehingga nama-nama asing sering meluncur begitu saja dari mulutnya. Bagi saya yang masih anak kampung dan belum mengenal filsafat, semuanya terdengar sama meyakinkannya.

Saya ingat mengapa nama Kant muncul. Kakek bertanya saya ingin kuliah di fakultas apa, bukan kampus mana.

Di telinga saya yang masih lugu, kata fakultas terdengar seperti sesuatu yang megah. Yang saya tahu hanya ada Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum, atau Fakultas Teknik. Bahkan pernah terlintas pikiran bahwa “fakultas” mungkin sekadar nama keren untuk gedung bertingkat yang punya lift. Anak SMA memang kadang memiliki keberanian luar biasa untuk menyimpulkan sesuatu yang sama sekali belum dipahaminya.

Karena saya tidak bercita-cita menjadi dokter—saya takut melihat jarum suntik lebih daripada pasiennya—dan juga tidak merasa pantas menentukan siapa benar atau salah di ruang sidang, saya menjawab, “Mungkin Fakultas Teknik.” Di kepala saya hanya ada ITB. Hampir semua kakak-kakak yang saya kagumi di kampung bercita-cita ke sana.

Belakangan saya baru menyadari, kemungkinan besar kakek pun tidak sedang mengutip Kant. Sangat mungkin beliau hanya mewarisi cara bertutur generasi sebelumnya yang akrab dengan istilah Belanda seperti faculteit. Bisa jadi beliau bahkan tidak pernah membaca satu halaman pun karya Kant. Saya juga tidak pernah sempat bertanya lagi. Yang jelas, sejak hari itu kata “fakultas” menempel di kepala saya sebagai cara membagi dunia perkuliahan.

Takdir rupanya punya selera humor.

Tahun 1996 saya justru diterima di FPBS (Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni) IKIP Bandung, yang beberapa tahun kemudian berubah nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Setiap hari saya melewati papan bertuliskan FPBS, naik turun tangga gedungnya, membaca pengumuman di lorong, dan menganggap fakultas tak lebih dari pembagian wilayah administratif. Mirip kecamatan di pemerintahan kota: gunanya supaya urusan tidak bercampur.

Beberapa tahun kemudian, karena rasa ingin tahu yang datang terlambat, saya mencoba membuka Critique of Pure Reason karya Immanuel Kant. Membacanya jelas bukan pengalaman yang menyenangkan. Kalimat pertamanya saja sudah cukup membuat saya merasa mungkin saya salah membeli buku.

Namun di tengah perjuangan itu, mata saya berhenti pada ungkapan faculty of the mind.

Saya langsung teringat percakapan dengan kakek bertahun-tahun sebelumnya.

Saya pun kembali bingung.

Mengapa Kant memakai kata faculty untuk menyebut kemampuan akal manusia, sementara saya setiap hari masuk ke sebuah faculty yang bentuknya gedung beton?

Pikiran saya yang usil bahkan sempat bertanya, kalau mahasiswa salah masuk gedung fakultas setiap hari, apakah lama-lama isi kepalanya ikut pindah jurusan?

Karena penasaran, saya mulai membaca sana-sini. Ternyata riwayat kata fakultas cukup panjang, dan saya tentu hanya memahami secuil darinya. Dalam garis besarnya, di universitas-universitas Eropa abad pertengahan kata facultas perlahan dipakai bukan hanya untuk menunjuk kemampuan atau kewenangan, tetapi juga kelompok para pengajar dalam suatu bidang ilmu. Seiring waktu, istilah itu berkembang menjadi nama bagi rumpun ilmu di dalam universitas.

Jejaknya kemudian ikut terbawa ke Hindia Belanda. Pada masa awal, sekolah-sekolah tinggi seperti Technische Hoogeschool di Bandung atau Rechtshoogeschool di Batavia berdiri sendiri. Ketika kemudian dihimpun ke dalam sebuah universitas, istilah faculteit mulai digunakan untuk menyebut rumpun ilmunya. Setelah Indonesia merdeka, istilah itu kita serap menjadi “fakultas” dan tetap kita pakai hingga sekarang.

Entah seberapa tepat saya memahami seluruh sejarah itu. Bisa jadi para sejarawan pendidikan akan menemukan banyak bagian yang saya sederhanakan. Tetapi justru dari penelusuran kecil itulah saya merasa sedang mengejar rasa penasaran anak SMA yang dulu mengira fakultas hanyalah gedung bertingkat dengan lift.

Kini waktu melompat ke tahun 2026.

Sejak tahun 2003 saya mengajar di FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Setelah lebih dari dua puluh tahun menjadi dosen, saya merasa hidup di antara dua macam fakultas. Yang pertama adalah fakultas beton: gedung, ruang kuliah, rapat, administrasi, presensi, akreditasi, dan mahasiswa yang bergulat mencari judul skripsi seolah-olah judul yang sempurna sedang bersembunyi di balik semak-semak. Yang kedua adalah fakultas akal: tempat kemampuan berpikir terus dilatih, rasa ingin tahu dipelihara, dan keberanian untuk mempertanyakan sesuatu tidak dibiarkan tumpul. Lucunya, dua makna yang dulu saya kira tidak saling berhubungan kini justru bertemu dalam pekerjaan sehari-hari.

Kadang saya membayangkan, seandainya kakek masih ada, mungkin beliau akan tertawa mendengar cucunya yang dulu salah paham tentang Kant, salah paham tentang fakultas, lalu berakhir menghabiskan hidup di antara fakultas beton dan fakultas akal. Sementara Immanuel Kant sendiri tentu tak pernah membayangkan bahwa satu kata dalam bukunya akan berkelana begitu jauh—dari filsafat Eropa, ke kampus-kampus Indonesia, lalu mampir ke kepala seorang anak kampung yang sempat mengira fakultas hanyalah gedung bertingkat yang punya lift.

Maka, untuk kalian yang sebentar lagi menjadi mahasiswa, selamat datang di fakultas. Kalian memang akan memasuki fakultas beton, lengkap dengan ruang kuliah, jadwal, birokrasi, dan segala keramaiannya. Tetapi mudah-mudahan kalian juga menemukan fakultas akal di dalamnya: kemampuan untuk berpikir lebih jernih, mempertanyakan hal-hal yang tampak biasa, berani berkata “saya belum tahu”, lalu perlahan mencari tahu. Sebab ketika kelak lulus, yang benar-benar kalian bawa pulang tidak mungkin gedungnya, tetapi cara berpikir yang semoga telah dibangun selama berada di dalamnya. *

Share your love
Avatar photo
Arip Senjaya

Pemenang Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022, alumni Batu Ruyud Writing Camp Kaltara, dosen filsafat Untirta, anggota Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemdikbud, sastrawan, editor. Alumni UPI dan UGM.

Articles: 52

Leave a Reply