Sawit untuk Negeri, bukan Negeri untuk Sawit

Camkan dengan saksama judul narasi ini.
Maknanya sungguh berbeda! Yang satu subjek, sedangkan pengertian satunya lagi objek penyerta, tepatnya dativus (untuk) –meski sama-sama sawit.

Manakah yang benar, dan karena itu, mulia?
Sudahlah tentu: Sawit untuk negeri. Sesuai dengan judul buku ini. Jadi, “Negeri” ini yang pokok. Suatu pengertian yang lebih luas dari negara. Untuk ini, silakan tanya mbah Google di mana letak perbedaannya.

Faktanya, hingga kini, sawit belum sepenuhnya untuk negeri. Masih dinikmati segelintir kalangan. Sejak salah ucap dan salah tindak awal tahun 2022, harga sawit di tingkat petani, anjlog. Kini rp1.400/ kg tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Padahal, dahulu bisa tembus rp3.000/kg TBS.

Tetangga kita, Malaysia yang luasan kebun sawitnya tidak ada “seujung kuku item” kita, menikmati booming sawit ini karena kebijakan Negara tepat. Seluruh negeri jiral menikmatinya. Sebaliknya Indonesia, gigit jari. Atau tepatnya: kalah cerdas dalam hal diplomasi.

Sungguh ironis!

Hadirnya buku ini hendak mencelikkan beberapa hal. Misalnya saja, benarkah sawit rakus minum air? Bagaimana duduk perkaranya di aras internasional, sedemikian rupa, sehingga sawit diboikot dan menjadi “alat politik”? Mengapa sawit dikatakan atau dikampanye-hitamkan sebagai merusak lingkungan, atau deforestasi? Apa keunggulan tanaman sawit dibanding tanaman lainnya yang menghasilkan minyak?

Tidak bisa tidak. Isu dan kampanye hitam sawit akan terus bergulir. Emas hijau ini akan tetap menjadi komoditas andalan yang telah dijatuhkan Indonesia secara mantap dan berencana.

Jika hari ini banyak pihak, termasuk NGO dan luar negeri, menentang sawit, maka itu adalah: post truth. Mengapa? Sebab Kalimantan, kita Indonesia, penghasil dan penikmat emas hijau ini. Orang tak ingin kita kaya!

Indonesia harus dapat memproduksi minimal 25 ton tandan buah segar (TBS) kelapa sawit per hektar per tahun. Produksi sejumlah itu perlu ditingkatkan, minimal harus dapat dipertahankan, malah tetap mempertahankan daya saingnya di pasar minyak nabati dunia.

Seperti dikemukakan Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Bayu Krisnamurthi. Bahwa Indonesia harus dapat memproduksi minimal 25 ton tandan buah segar (TBS) kelapa sawit per hektar per tahun. Produksi sejumlah itu, perlu ditingkatkan, minimal harus dapat dipertahankan, malah wajib untuk tetap mempertahankan daya saingnya di pasar minyak nabati dunia.

Hal yang masih belum maksimal produktivitas sawitnya ini adalah perkebunan sawit rakyat. Hasil produksinya hanya 2 ton CPO per hektar per tahun. Jauh dibandingkan dengan produktivitas perkebunan swasta yang berkisar 4-8 ton hektar ha per tahun.

Para petani mandiri cenderung untuk potong kompas, ingin cepat berhasil dengan biaya murah dan tenaga yang minim, sehingga menanam sawit dengan cepat dan murah tanpa mempedulikan lagi produktivitasnya ke depan.

Lompatan produktivitas itu perlu dalam upaya untuk merealisasikan visi menggandakan suplai CPO Indonesia ke pasar dunia sekitar 60 juta ton pada 2050.

Buku karya trio: Prof. Dr. AB Susanto, Dr. Petrus Gunarso, dan Masri Sareb Putra, M.A. yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas ini bisa menjadi suluh. Semacam api literasi yang menerang siapa saja guna memahami sawit bukan semata-mata sebagai komoditas tunggal. Namun, sawit kini multidimensi, bahkan menjadi alat politik-ekonomi.

Lebih dari itu, kini sawit menjadi komoditas, barang dagang, bahkan alat diplomasi di aras dunia internasional. *)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply