Saya & Panduan Menulis Buku Non-teks Pelajaran

Apalah artinya saya ini? Hanya sebutir debu dalam jagad penulisan dan perbukuan Tanah Air. Namun, seorang dari sekian ribu (untuk tidak berlebihan menyebut jutaan) warga +62 dipercaya menulis buku Panduan Non-Teks Pelajaran.

Di sini saya ingin berbagi. Semoga bermanfaat!

Pengalaman sungguh unik dalam proses kreatif menulis buku ini, tiada pernah bisa kulupa.

Diinisiasi oleh Pusat Kurikulum Perbukuan (Puskurbuk), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pada suatu hari, saya diundang bertandang di kantor di jalan Gunung Sahari, Jakarta.

Memanglah. Saya telah tidak asing lagi di lingkungan pusat di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sangat cukup penting itu. Saya telah cukup lama berkiprah. Ingatan saya masih cukup benderang. Telah menjadi mentor untuk melatih guru-guru menulis sejak tahun 1992. 

Konpartner saya sebagai mentor, waktu itu, pasti Anda kaum milenial belum, bahkan tidak mengenal nama mereka. Ada Korrie Layun Rampan, sastrawan senior yang kerap dijuluki “kardinal sastra Indonesia”. Ada Ismail Marahimin, penulis buku anak. Ada pula ahli psikologi perkembangan anak, Profesor Fauzia Aswin Hadis.

Akan halnya saya? Agaknya, Puskurbuk punya pertimbangan sendiri. Saya seorang editor yang berkanjang pada Penerbit buku-buku pendidikan dan pengajaran yang “dipandang” cukup mengetahui atau memahami konten yang baik disajikan kepada siswa-siswa sekolah formal.

Berkanjang adalah kunci sukses. Di mana pun juga. Termasuk menulis dan menerbitkan buku. Meski secara pribadi, saya belum puas betul dengan hasil buku panduan menulis buku nonteks pelajaran ini.

 Saya pun memaparkan dan mengeluarkan seluruh khasanah pengetahuan mengenai ilmu creative writing. Saya bentang apa itu keterbacaan atau read ability? Suatu wacana akan mudah dimengerti apabila indeks atau hambatan-hambatan kesulitan kata-katanya dapat dimengerti oleh pembaca dengan segmen tertentu. Dengan rumusan penghitungan Fog Index yang formulanya ditemukan Gunning.

Akan tetapi, bukan ini fokus kita. Laptop kita bagaimana proses kreatif buku ini, terbit.

Saya presentasi di depan 7 pihak saling terkait. Pastilah ada pakar  pendidikan, hadir ahli psikologi perkembangan anak. Bahkan ada dari Kejaksaan dan Kementerian Agama. Dua pihak terakhir  untuk melihat: apakah dari sisi keamanan ketertiban cara keindonesiaan kewarganegaraan dan berbagai aspek tercakup di dalam panduan panduan ini “aman?” Artinya, dipandang, bukan dianggap, buku panduan itu nantinya selaras dengan ideologi Negara.  Hal itu mengingat buku sangat mempengaruhi perkembangan pendidikan dan masa depan bangsa Indonesia di masa yang akan datang (Cek saja Eksiklopedia ihwal pentingnya peran buku pelajaran, yang tidak pernah bisa tergantikan).

Selain itu, saya pun dihadapkan dengan 3 profesor ahli di bidangnya. Seorang ahli bahasa. Seorang profesor lagi ahli di bidang proses kreatif menulis, profesor itu dari UNJ. Saya masih ingat persis. Dan seorang lagi profesor ahli perkembangan dan ahli pendidikan anak usia dini.

Saya pun presentasi. Seru sekali presentasi itu. Sempat saya ngambekkarena ada dua profesor yang memberikan masukan tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Sempat saya mogok. Tapi pada akhirnya mereka menyatakan bahwa masukan yang diberikan sekadar “usulan” saja.

“Jika Anda tidak setuju,” imbuh mereka, ” tidak apa-apa juga. Namun apabila anda setuju hasil akan gagasan itu dikembangkan.”

Saya ngambek dan berhenti. Namun kemudian, ketika saya paparkan di sesi pertemuan yang berikutnya, mereka bilang, “Bagus itu!”

Petikan pengalaman itu, kemudian saya rangkum. Bahwa kita harus open minded di dalam satu tim. Dan ketika saya menyatakan bahwa itu pendapat mereka, mereka bilang, “Tidak! Itu tanggung jawab kamu,” kata mereka, seraya mengagetkan saya lagi. 

Pada akhirnya, memanglah bawa buku itu kalau kita menulis secara akademik, harus menerima masukan-masukan orang lain. Namun, jangan sekali-kali dianggap masukan itu mencela. Sebaliknya, memberikan kritik yang membangun. Adapun “kritik”, dari kata Yunani krinein yang secara harfiah berarti: memberikan penilaian atau penghargaan kepada suatu objek yang kita nilai itu.

 

 

Kerangka umum vademecum (buku panduan) nonteks pelajaran ini:
1. Mendorong/ merangsang siswa berpikir
2. Meningkatkan keterampilan berkomunikasi
3. Mengasah dan menanamkan semangat sikap kerja sama
4. Menumbuhkembangkan sikap meneliti
5. Menumbuhkembangkan sikap sains
6. Mengasah kemampuan reflekstif
7. Menumbuhkembangkan sikap hormat
8. Menumbuhkembangkan tanggung jawab

Demikianlah proses kreatif buku ini.

Tidak mudah.

Berkanjang adalah kuncinya. Meski secara pribadi, saya belum puas betul dengan hasilnya.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 719

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply