Tanjung Puting dalam Cerpen| Para Penulisnya Riset ke Lokus

Ini adalah proses kreatif cepen –dan buku kumpulan cerpen– yang tak biasa.
 
Dalam sastra, terutama novel, novelet, dan cerpen, dikenal setting yang senantiasa menyangkut dua hal: 1) tempat dan 2) waktu.
 
Lokus, atau setting tempat cerpen ini Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Untuk ke sana, kami –calon penulis– wajib lebih dulu masuk dermaga Kumai, untuk melepas tambatan kapal pesiar yang ditambatkan.
 
Dengan kapal, kami berlayar menyusur sampai hulu sungai. Tiba di muara tempat bertemu dua arus, masuk sungai Sekonyer. Dahulu, namanya bukan Sekonyer, melainkan Sungai Buaya karena di sungai itu merupakan habitat buaya bermoncong panjang.
 
Nama kapalnya: Sultan Ageyo, milik Pj. Bupati Barsel ketika itu, H. Mugeni. Dengan sengaja dipinjam-pakai, sekaligus dengan ransumnya, kepada 15 cerpenis untuk mendalami SETTING cerpen Tanjung Puting dalam Cerpen.
 
Tidak biasa orang menulis cerpen dengan riset ke lokus lebih dahulu. Seperti 15 cerpenis komunitas Literasi Dayak Kalimantan Tengah ini.
 
Menjelaskan kaidah-kaidah cerpen, 5 macam konflik, dan bagaimana opening sebuah cerita yang baik, tidak turut lancang mulai dengan: matahari. Para cerpenis antusias mendengar dan mencermati: bersastra dalam kapal pesiar. Masri Sareb Putra berbagi kepada peserta ihwal trik menulis cerpen.
 
Sepanjang kelok sungai, pohon-pohon nipah berjajar rapi. Angin yang berembus menggoyang daun-daun nipah dan pelepahnya, seakan mengucapkan selamat datang. Ditingkah suara satwa, dan bunyi bekantan yang berteriak nyaring, betapa asyiknya.
 
Inilah proses kreatif kami menulis dan menjadikan cerpen dan buku kumpulan cerpen TANJUNG PUTING DALAM CERPEN. Sultan, kapal pesiar Mugeni, ia sediakan lengkap dengan ransum bagi para cerpenis ke lokasi mendalami setting. Ini tidak biasa.
 
Mugeni sesungguhnya, penulis yang tersesat jadi pejabat.
Sambil plesir, di atas kapal jelajah “SULTAN” milik Mugeni, kami menulis cerpen. 15 penulis, termasuk Mugeni, menulis cerpen dengan setting Tanjung Puting yang diberi juluk TANJUNG PUTING DALAM CERPEN. Melepas kami di pelabuhan Kadisbudpar, sembari memberi motivasi dan ucapan selamat menulis.
Sebuah perjalanan melintas, yang terasa lebih greget dan berkesan dibanding para kompeni ratusan tahun silam, menysur sungai dan area sama. Lebih keren lagi perlengkapan dan tujuannya.
 
Kami menulis keabadian.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kotawaringin Barat, Drs. GST. M. IMANSYAH, di atas kapal pesiar milik Mugeni, memberi kami semangat, pengantar, dan motivasi menulis eksplor objek wisata Tanjung Puting.
 
Sebuah apresiasi tiada tara. Dukungan bagi promosi wisata via tulisan, yang akan dibaca warga dunia lewat: google play store, Kindle, dan Amazon.
 
Bukunya telah terbit. Karya 15 pengarang eksotik. Dikatapengantari oleh sastrawan senior Indonesia, Ahmadun Y. Herfanda. Dan diluncurkan pula.
 
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply