The Dragon Net Work | Menguak Jaringan (Bisnis) Hoa Kiao

Tidak sembarang orang bikin judul buku. Sebegitu penting judul dalam sebuah sampul buku, sehingga Kremer (1993: 94) mencatat, “You can sell a book by it cover”.

Yang pertama tampak dalam sebuah buku, tentu saja, judulnya. Susanto menjadikan “dragon” sebagai judul buku. Lengkapnya The Dragon Network, yang proses kreatifnya sendiri sebenarnya cukup unik.

Dragon diambil jelas sebagai simbol negeri Tirai Bambu. Ada “Network”, yakni jejaring. Ada dua hal yang unik dari fenomena ini.

Pertama, ada sikap saling tolong antarsesama hoakiao, sesama perantauan, sehingga muncul tali ikatan batin sebagai sebuah keluarga besar sedemikian kuat. Yang kuat merasa ada kewajihan moral untuk membantu yang memerlukan pertolongan.

Kkedua, muncul rasa “belarasa”, yakni sikap tanggung gugat kepada sesama saudara yang memerlukan pertolongan. Sikap belarasa ini didasari saling kepercayaan.

Berawal dari Family Bussiness
Adalah putrinya yang bungsu, Patricia Susanto. Ia sejak lama berkanjang dan meminati topik family bussiness (bisnis keluarga).

Seperti diketahui. Patricia belajar menekuni bidang Manajemen Organisasi dan Sistem Informasi Manajemen sesuai dengan gelaran yang diraihya “Bachelor of Science” dalam kedua bidang tersebut di University of Southern California, Los Angeles, USA.

Patricia juga mendalami Manajemen Sumber Daya Manusia dan Psikologi. Peempuan energik ini telah pun meraih gelar “Master of Human Resource Management dari Griffith University, Brisbane, Australia. Lalu meraih gelar Magister Psikologi dari Universitas Indonesia.

Sebelum bergabung dengan The Jakarta Consulting Group (JCG), Patricia pernah bekerja sebagai R & D Associate di Fazelli and Sons, Business Developer pada Omni Security dan Negotiator di Initiative Media, Los Angeles, USA. Ia banyak terlibat dalam memberikan ceramah maupun konsultasi topik Family Business, terutama dari perspektif generasi penerus.

Pada 2007, bersama AB Susanto, Himawan Wijanarko, dan Suwahjuhadi Mertosono, Patricia menulis dan menerbitkan buku berjudul Family Bussiness. Buku setebal 478 ini terdiri atas 13 Bab ini, mengupas perusahaan keluarga, lengkap dengan permasalahan dan prospeknya.

Buku ini tentu saja cukup mendapat perhatian, terutama karena isunya yang bukan saja “seksi”, melainkan juga menantang. Menantang, karena ada semacam mitos yang beredar bahwa perusahaan keluarga: generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan.

Ada sikap saling tolong antarsesama hoakiao, sesama perantauan, sehingga muncul tali ikatan batin sebagai sebuah keluarga besar sedemikian kuat. Yang kuat merasa ada kewajihan moral untuk membantu yang memerlukan pertolongan.

Tantangan, dan yang diharapkan adalah: generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi berikut melambungkannya. Inilah sisi menarik dari buku ini, sehingga menjadi pembicaraan, dan bahan kajian.

Nah, berawal dari topik family business inilah, Patricia mulai dilirik. Terutama perspektifnya dari generasi kedua, suatu sudut pandang yang sangat jarang. Barangkali banyak generasi kedua mengkiritisi sekaligus melanjutkan bisnis keluarga, namun segelintir yang menuliskannya. Itulah yang dilakukan Patricia, sehingga menjadi perhatian sebuah badan penerbit terkemuka yang bermarkas di Amerika Serikat.

“Awalnya, dari Patricia yang mendalami dan menggeluti family business. Di dalamnya, ada juga perusahaan-perusahaan keluarga etnis Tionghoa. Banyak bisnis etnis Cina, entah di Tiongkok entah di luar Tembok Raksasa, adalah perusahaan milik keluarga,” terang Susanto.

Hal yang menarik, apa yang menjadi ciri khas keluarga Tionghoa. Yakni bisnis keluarga pada umumnya berjalan, antara lain difaktorkan oleh kepercayaan budaya yang kuat pada keluarga serta dilandasi oleh perilaku di dalam menjaga nilai budaya dan tradisi leluhur dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bisnis.

Karena menjadi inovatif, fleksibel, tumbuh dalam jaringan, penuh jiwa wirausaha, dan efisiensi, bisnis keluarga Cina terus berjaya selama bertahun-tahun dan ini menjadi daya tarik untuk mengetahui bagaimana sebenarnya jaringan itu berfungsi.

Oleh sebab itu, apa yang disebut “network” dari keluarga Tionghoa –dalam konteks ini The Dragon Network—adalah sebuah wilayah kajian yang menarik, sekaligus menantang. Sebagai seorang yang berkanjang di dunia penerbitan selama puluhan tahun, juga sebagai penulis. Saya mafhum sekali. Tidak mudah menembus penerbit internasional, sekelas Wiley lagi. Bahkan, kami dulu. Di kelompok Penerbitan Gramedia, membeli copy rights-nya pun berloma-lomba. Belum tentu dapat.

“Penerbit yang menghubungi. Kami diminta menulis mengenai bagaimana jaringan naga itu bekerja,” papar Susanto. “Patricia yang lebih banyak bekerja, modalnya ia sudah punya pengalaman dan sedikit pengetahuan mengenai family business.” 

Tawaran yang menarik, sekaligus menantang ini pun dijawab ayah dan sang putri. Dalam lubuk hati Susanto yang paling dalam, ia mengaku bahwa ini kesempatan. Sebelumnya, di usia yang belum lagi menginjak kepala 6, sempat terbetik hasrat ingin membanding-banding diri dengan penulis andal dan terkenal lainnya, utamanya penulis luar negeri.

Ayah dan putrinya telah menulis buku bersama. Hal yang biasa di luar negeri. Namun, di negeri Pancasila ini, belum.

Saya masih bermimpi menulis buku bersana anak-anak saya!

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply