Tjhai Chui Mie| Ketua Perkumpulan Hakka Jit Tiau Sim

Bagai dalam kisahan silat Tiongkok zaman baheula. Yang dikarang penulis legendaris sing ada lawan. Seorang Tionghoa peranakan, yang hidup dan berkanjang sebagai pengarang di Sragen, Jawa Tengah.
 
Nama lengkapnya Asmaraman Sukowati. Namun, lebih populer sebagai Kho Ping Hoo.
 
Hal yang senantiasa nyangkut dalam ingatan saya adalah. Bahwa di dalam kisah heroik yang digubahnya secara luar biasa, senantiasa muncul ketua perkumpulan.
 
Ini bukan kisahan fiksi. Nun jauh di kota San Keuw Jong. Tersebutlah seorang pendekar wanita. Namanya Tjhai Chui Mie. Ia dikenal sebagai Ketua Perkumpulan Hakka Jit Tiau Sim.
 
 
 
Betapa sukacita hati dan enak saja mata memandang wanita Tionghoa mengenakan seragam birokrat. Di balik bungkusan atribut itu, tertera makna: amanat. Sembari menatap ke muka, Chui Mie berkata, “Menghabiskan uang gampang, tidak usah sekolah dan belajar untuk itu. Tapi mendatangkan uang, tidak mudah.”
 
Hakka di Singkawang sangat kompak. Mereka punya motto: Hakka jit tiau sim. Artinya: Hakka satu hati.
 
Di kota Seribu toapekong, nama Chui Mie amat mashyur. Ia Ketua Perkumpulan Hakka Singkawang (2015 – 2020).
Tjhai Chui Mie dilahirkan generasi yang juga lahir di sini dan di bumi pertiwi sejak sebelum merdeka.
 
Chui Mie mengunakan marga ibu karena orang tuanya tidak punya surat nikah sebab pada tahun-tahun itu sulitnya bukan main berurusan dengan birokrasi terkait izin dan surat menyurat bagi etnis ini.
 
Satu hal yang pantas dikagumi, seperti halnya Tionghoa, persatuan Hakka di Singkawang sangat kuat. Mereka punya motto: Hakka jit tiau sim. Artinya: Hakka satu hati. Di kota Seribu Kuil Singkawang, nama Chui Mie sangat mashyur. Ia Ketua Perkumpulan Hakka Singkawang (2015 – 2020).
 
Sebagai keturunan Hakka, kaum ini dikenal suka merantau (nomaden). Sehingga dalam bahasa Tio Chew, disebut: Khek Nang. Khek berarti: tamu.
 
Posisi “ketua perkumpulan” ini, seperti dalam kisah-kisah silat, amatlah strategis. Ia kerap diundang bertarung di berbagai arena. Lawan-tandingnya para suhu dan pendekar dari berbagai aliran dan perkumpulan dari seluruh penjuru.
 
Ia juga mahir memainkan jurus-jurus yang diajarkan sang guru. Lalu mencipta jurus baru, hasil racikannya di berbagai medan laga.
 
Tak heran, nama Chui Mie melambung di “dunia persilatan” sejagad. Ia bergaul dan masuk ke dalam lingkarang para hoa kiao.
 
Akan tetapi, sebelum bertemu dengan jurus-jurus ciptaan wanita energik ini, kiranya perlu lebih dulu jelaskan apa itu hoa kiao.
 
Saya menyebut judul Bab 4 buku ini degan Hakka Jit Tiau Sim agar Pembaca tersentak. Langsung menusuk ke ulu hati, agar sadar: bahwa kita perlu banyak belajar dari negeri Tiongkok.
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply