Top 40 Pujangga dari Ranah Minang

Pamusuk NST, ketika saya masih junior editor di PT Grasindo, kerap membawa sastrawan kelas kakap ke kantor. Sepulang dari Palmerah, kantor pusat Kompas Gramedia. Ujung-ujungnya, Grasindo menerbitkan naskah berkelas.

Satu di antara yang seribu adalah Ali Akbar Navis (1924 -2003). Seorang novelis dan cerpenis yang nama dan karyanya telah saya kenal sejak SMP Robohnya Surau Kami.

Tergelitik pertanyaan, “Mengapa ranah Minang tak pernah surut melahirkan pujangga besar?” saya menelusuri berbagai pustaka.

Bertemulah saya dengan jawabannya.

Hasil penelusuran menemukan, ranah Minang tak pernah habis sastrawan dan penulis.
Mulai dari A-Z: Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati (1899 – 1975) hingga Zuber Usman (1916 –1976).

Siapa saja top 40 pujangga dari ranah Minang? Berikut ini senarainya:

1. Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati (1899 – 1975) karya: novel Pertemuan(Balai Pustaka, 1927).
2. Abdul Muis (1886 – 1959) Salah Asuhan (1928).
3. Afrizal Malna (1957-) novelis dan penyair karyanya: Abad Yang Berlari (1984).
4. Ahmad Fuadi (1972-) novelis, karya: Negeri 5 Menara.
5. Akmal Nasery Basral (1968-) novelis dan wartawan, karya: Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (kumcer, 2006).
6. Ali Akbar Navis (1924 -2003), novelis dan cerpenis, karya: Robohnya Surau Kami.
7. Aman Datuk Madjoindo (1896 – 1969), novelis, karya: Si Doel Anak Betawi ditulis pada tahun1956.
8. Anas Ma’ruf (1922-1980), sastrawan, penyair, jurnalis, penerjenah, karya: Komedi Manusia karya William Saroyan dan Mutiara karya Steinbeck.
9. Darman Moenir (1952-), novelis, karya: Bako (roman).
10. E.S. Ito (1981-), sastrawan, novelis, karya: Negara Kelima.
11. Gustaf Rizal (1965-), novelis, karya: Sangkar Daging (K.P.)
12. Harris Effendi Thahar (1950-), penulis cerpen, karya: Anjing Bagus (kumcer).
13. Hamid Jabbar (1949-2004), penyair, jurnalis, karya: Wajah Kita (buku kumpulan puisi, 1981).
14. Idrus (1921-1979), penulis prosa, cerpen, karya: Dengan Mata Terbuka (1961) dan Hati Nurani Manusia (1963).
15. Irzen Hawer (1960-), novelis, pengajar, karya: Cinta di Kota Serambi (novel, 2010).
16. Karim Halim (1918-1989), penulis penyair, karya: Tjop dan Awang (novel).
17. Leon Agusta (1938-2015), penyair, karya: Gendang Pengembara (kumpulan puisi).
18. Marah Rusli (1889-1968), bapak roman moderen Indonesia, karya: Sitti Nurbaya (roman).
19. Mawie Ananta Jonie (1940-), penyair dan cerpenis, karya: Nyanyian Persahabatan&Sebuah Surat Musim Bunga(kumpulan sajak).
20. Motinggo Busye (1937-1999), novelis, karya: Cross Mama (novel, 1966).
21. Nasjah Djamin (1924-1997), penulis penyair, karya: Malam Kuala Lumpur (novel, 1968).
22. Nur Sutan Iskandar (1893-1975), novelis, karya: Salah Pilih(novel).
23. Ragdi F. Daye (1981-), penulis cerpen dan penyair, karya: Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu.
24. Raudal Tanjung Banua (1975), cerpenis, karya: Pulau Cinta di Peta Buta (2003.
25. Rivai Apin (1927-1995), penulis dan penyair, karya: Tiga Menguak Takdir, berisi puisi-puisi Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani, terbitan Balai Pustaka (1950).
26. Rusli Marzuki Saria (1936-), sastrawan dan penyair, karya: Sembilu darah: Lima kumpulan sajak, 1975-1992
27. Samiati Alisjahbana (1930-1966), sastrawan, penulis penyair, karya: El Pintor.
28. Sariamin Ismail (1909-1995), pengarang perempuan pertama Indonesia dengan novelnya Kalau Tak Untung (1933).
29. Sastri Yunizarti Bakry (1958-), sastrawan, aktivis dan birokrat, karya: Hati prajurit di negeri tanpa hati (kumpulan puisi).
30. Soewardi Idris (1930-2004), sastrawan, jurnalis, penulis, karya: Dari puntjak Bukit Talang.
31. Tamar Djaja ((1913-1984), penulis roman, karya: Kabinet Hatta (1950).
32. Taufiq Ismail (1935-), penyair, budayawan, karya: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998). 33. Tulis Sutan Sati (1898 – 1942), novelis, karya: Memutuskan Pertalian.
34. Umar Junus (1934-2010), esais, kritikus sastra, karya: Resepsi Sastra.
35. Upita Agustine (1947-), penulis sajak, karya: Nyanyian anak cucu: kumpulan puisi 1967-1999.
36. Wildan Yatim (1933), sastrawan, karya: Selandang (kumcer).
37. Wisran Hadi (1945-2001), novelis, penyair, karya: Simalakama (kumpulan puisi_
38. Yusrizal K.W. (1969-), cerpenis dan penyair, karya: Interior kelahiran: kumpulan puisi.
39. Zainuddin Tamir Koto (1941-2011), penyair, karya: Bayonet (kumpulan puisi).
40. Zuber Usman (1916 –1976), cerpenis, kritikus sastra, karya: Damarwulan: Senapati Kerajaan Majapahit (1973).

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply