Tugu Buaya: Tinggalan Artefak di Krayan, Kalimantan Utara

Ulong Bayeh – demikian orang Krayan menyebutnya. Adalah tugu buaya yang dahulu kala menjadi simbol.

Diduga simbol penguasaan atas wilayah atau tempat tertentu. Suatu tanda bahwa keluarga, klan, komunitas telah menjejak, sekaligus mematok wilayah itu. Tugu buaya juga tempat orang bersumpah. 

Saya telah tiba. Melalukan riset, sekaligus wawancana mendalam dengan para tokoh adat dan saksi terkait situs bersejarah Ulong Bayeh di Long Mutan, Krayan Tengah ini.

Kepingan-kepingan narasi, tokoh, dan jejak telah ditemukan. Tinggal disusun, ditafsirkan, dan diverifikasi dengan berbagai sumber-luar, interteks, yang terkait. Misalnya, cerita sama di tempat lain yang berbeda. Adakah relevansinya, tali-temali. Sedemikian rupa, sehingga dapat disebut sebagai sejarah, bukan dongeng?

Ini sebuah temuan awal, boleh dikatakan: novelty. Untuk diteruskan peneliti kemudian. Bahkan, jika memungkinkan dana, dapat uji karbon, seperti dilakukan Museum Sarawak pada situs bersejarah Gua Niah di Miri.

Dan memang terdapat berbagai kesamaan legenda dan mitos orang Krayan dan Sabah serta Brunei menyangkut asal usul dan tokoh legendaris. Binatang lambang suku, sama, yakni buaya. Sedangkan tokoh legenda suku Lundayeh Idi Lun Bawang juga sama, Yupai Semaring.

Situs bersejarah Ulong Bayeh dapat ditemukan di sebuah munggu, kiri sungai Krayan, di desa Long Mutan, Krayan Tengah.

Tak syak lagi. Bahwa salah satu jejak peradaban manusia Sungai Krayan adalah situs bernama Ulong Bayeh. Ulong Bayeh ini locus-nya masih berada di wilayah Desa Long Mutan, Kecamatan Krayan Tengah.

Untuk mencapai situs ini dari Ba’ Binuang, harus naik perahu motor ke hulu sekitar 30 menit lamanya baru tiba di lokasi. Persisnya di sebelah kiri sungai Krayan, naik sekitar 30 meter, di bagian atas munggu (gundukan tanah berupa bukit kecil) dibangun sebuah monumen buaya.

Pada saat itu, belum dikenal semen untuk membuat sebuah monumen, akan tetapi nenek moyang manusia penghuni Sungai Krayan ini telah menemukan teknik sendiri bagaimana mengabadikan sesuatu yang dianggap bernilai sejarah.

Manusia penghuni Sungai Krayan sejak dahulu kala sudah memiliki kebudayaan yang tinggi. Salah satu buktinya adalah ulong bayeh (monumen buaya) yang hingga kini peninggalannya masih ditemukan pada ketinggian tanah tepi Sungai Krayan di desa Long Mutan yang menjadi simbol etnis.

Setidaknya, beberapa hal yang cukup membuat kita mengagumi karya monumental ini. Dari manakah nenek moyang dahulu kala mengenali binatang reptil bertubuh besar yang hidup di air dan dapat pula di darat ini? Di sepanjang sungai

Krayan, tidak ditemukan adanya buaya. Dari penelusuran dongeng, mitos, dan fabel masyarakat setempat juga tidak ditemukan tokoh buaya. Sementara dongeng Kancil dan Buaya baru dikenal sesudah masuknya peradaban baca- tulis lewat buku pelajaran.

Situasi kondisi masyarakat tempo dulu yang terisolasi, saling kayau antar-klan, tidak memungkinkan suatu kelompok masyarakat untuk berinteraksi jauh dengan dunia luar, lalu kembali lagi ke habitatnya untuk membawa peradaban/ pengetahuan baru. Lalu dari mana mereka memperoleh imaginasi buaya sebagai simbol?

Di Kuching, saya bertemu dan berdiskusi dengan seorang Lun Bawang, Kepala Museum Sarawak. Ipoi Datan, Ph.D. Ia telah meneliti, dan sedang merilis asal muasal simbol buaya ini bagi orang Lun Dayeh Idi Lun Bawang.

Ipoi Datan (ujung kanan, T-shirt biru). Ilmuwan Lun Bawang, pakar sejarah dan semiotika. Ia banyak meneliti mengenai buaya sebagai simbol orang Lun Dayeh Idi Lun Bawang.  Salah satu hasil penelitiannya yang dipublikasikan adalah Traditional Earthen Crocodile Effigies of The Lun Bwang in Sarawak (2011).

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply