Serba-Serbi Puting

Mungkin kata “tetek” itu termasuk bahasa Indonesia yang kurang ilmiah. Seperti muncul dari bahasa rakyat kelas pinggiran. Tapi saya lebih suka menggunakan “tetek” sebab kata “puting” yang lebih ilmiah itu terlalu horor. Dulu, di kampung halaman saya, kerbau dan kandangnya bisa mengapung ke langit mendung karena puting beliung, dan belakangan atap-atap pabrik dan beberapa karyawannya juga terbawa terbang seperti layang-layang putus talinya.

Dari kata “tetek” saya juga bisa katakan “meneteki”, enak sekali, konsisten. Sedangkan dari kata “puting” tidak enak jika kita katakan “memutingi” sehingga kita biasa loncat jauh ke “menyusui” seakan-akan melulu tentang ASI. Jika ingat sepupu saya yang masih netek ke puting nenek kami dulu, padahal sudah kelas empat SD dia waktu itu, saya tahu menetek itu tidak harus demi tetesan susu.

Saya sih yakin kata “tetek” jauh lebih internasional daripada “puting”. Prof Marianne di Paris menyebut “tétons” untuk “tetek”. Sedangkan “puting” paling jauh ada dalam bahasa Tagalog “utong” yang lebih mirip.

Orang Bali, Jawa, Sunda, dan entah mana lagi di Nusantara ini ada juga yang  bilang “pentil”. Dalam bahasa Sunda kata tersebut diserap dari hal-hal yang masih kecil. Asal ada buah yang masih kecil, misal buah nangka, buah durian, buah jeruk, atau anak manusia yang masih kecil, disebut dalam bahasa Sunda pentil kénéh (masih kecil atau bocah).

Kalau kita sebut bagian pusat payudara itu dengan istilah “mamelons” sepertinya mengubah asosiasi tetek jadi berukuran sebesar melon. Tapi begitulah orang Ositania menyebut tetek itu dalam bahasa mereka. Berarti ada orang-orang Perancis yang teteknya sebesar tétons dan ada yang sebesar mamelons jika ingat bahwa Ositania ini masih region Perancis.

Tapi kalau Anda senang dengan kata “puting”, jangan merasa kesepian. Orang Iban, Batak, dan beberapa wilayah Nusantara lainnya lebih suka puting kok daripada tetek.

Yang jelas, kita ini masih untung tidak bilang itu “kutil” seperti orang Jerman menyebutnya dengan istilah “brustwarze ”—brust artinya dada, warze artinya kutil. Warzensalbe artinya salep kutil. Tapi orang Jerman juga punya kata “titten” yang terasa seperti bentuk internasional untuk tetek itu.

Jadi, betapa pentingnya kita bicara tetek-bengek puting ini mengingat sebagian besar kita pernah menyedot-nyedotnya seperti puting beliung menyedot kerbau dan rumputan yang sedang dikunyahnya. Tetek dan puting keduanya masalah bahasa, dan selalu ilmiah kita bicarakan, jangan cuma dokter kulit dan kelamin dan kader Posyandu yang bebas bicara keduanya. []

Share your love
Avatar photo
Arip Senjaya

Pemenang Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022, alumni Batu Ruyud Writing Camp Kaltara, dosen filsafat Untirta, anggota Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemdikbud, sastrawan, editor. Alumni UPI dan UGM.

Articles: 46

Leave a Reply