Argentina: Cerita dari Bahan Sedikit

Dalam pengetahuan saya tentang Argentina, Diego Maradona menempati tempat yang jauh lebih besar daripada seluruh sastrawan negeri itu. Saya masih ingat bagaimana dia mengacak-acak pertahanan Inggris pada Piala Dunia 1986. Ada gol yang dibantu tangan, ada pula gol yang membuat para pemain Inggris seperti terlambat bangun tidur. Soal sastra Argentina, pengetahuan saya payah. Saya pun tidak tahu apa hubungan sepak bola dengan sastra di sana. Kalaupun ada, Maradona tidak pernah memberi tahu saya.

Argentina mampir ke kepala saya melalui barang-barang yang tidak selalu berasal dari negeri itu. Lama saya mengira Gipsy Kings itu grup musik Argentina. Saya penggemar berat mereka. Gitar dan suara nyanyian yang ramai itu begitu akrab, sampai saya tak merasa perlu memeriksa alamat para pemainnya. Belakangan saya tahu mereka berasal dari Prancis selatan. Ya sudah. Lagu-lagunya tetap saya dengarkan.

Film Malèna juga sempat saya kira berasal dari Argentina. Ini malah Italia: Sisilia pada masa Perang Dunia Kedua, dalam film Giuseppe Tornatore. Ceritanya saya hafal, judulnya malah lama menghilang dari ingatan. Ada Renato, remaja yang jatuh hati kepada Malèna, istri seorang tentara. Sepanjang hari dia mengamati perempuan itu dari jauh, lalu kepalanya bekerja lebih rajin daripada matanya. Sedikit yang dia lihat, panjang yang dia khayalkan. Orang-orang dewasa sekotanya juga gemar mengarang cerita tentang Malèna. Bedanya, omongan mereka membawa akibat yang jauh lebih kejam daripada lamunan Renato.

Boleh jadi saya mengingat Renato karena dulu saya juga punya banyak waktu untuk membayangkan orang lain. Judul Malèna sempat lenyap, tetapi kelakuan Renato masih bisa saya ceritakan panjang lebar. Saya sampai harus mencari lagi nama filmnya.

Sastra Argentina baru datang lewat bacaan yang tidak saya susun dalam daftar khusus. Salah satunya Rayuela karya Julio Cortázar, terbit pada 1963. Cortázar memberi pembaca dua jalan: mengikuti bab sebagaimana biasa atau meloncat menurut petunjuknya. Pembaca harus bolak-balik mencari nomor bab, menyelipkan jari agar tidak kehilangan halaman, kadang kembali ke tempat yang tadi. Ada pengarang yang membuat orang susah payah membalik buku, dan orang mau pula mengikuti permainannya. Saya membayangkan ada pembaca yang menurut, ada yang mengomel, mungkin ada yang memilih jalannya sendiri. Kita tak bisa mengawasi orang yang sudah membawa pulang buku kita.

Jorge Luis Borges menyusul dengan perpustakaan, pengarang rekaan, dan judul-judul buku yang terasa sungguhan sampai orang tergoda mencarinya. Saya membaca ceritanya tanpa niat menjadi ahli sastra Argentina. Borges sendiri tampaknya tidak bakal mengajak saya mengobrol soal Maradona. Dia tidak suka sepak bola. Pada Piala Dunia 1978, ketika Argentina bertanding melawan Prancis, Borges malah tampil dengan ceramah tentang keabadian. Kalau kebetulan berada di Buenos Aires waktu itu, saya mungkin akan mencari televisi. Maaf, Borges, nanti saja ceramahnya.

Dari Borges saya berjumpa Alberto Manguel, anak muda yang pada 1960-an bekerja sepulang sekolah di Pygmalion, sebuah toko buku di Buenos Aires. Umurnya baru enam belas tahun ketika Borges, pelanggan yang penglihatannya hampir habis, memintanya datang pada malam hari untuk membacakan buku. Ibu Borges sudah tua dan gampang lelah. Manguel pun beberapa kali seminggu datang ke rumah pengarang yang waktu itu memimpin Perpustakaan Nasional Argentina. Dia membuka buku, membaca keras-keras, lalu mendengar Borges menanggapi bacaannya.

Pilihan buku datang dari Borges sendiri: Kipling, Stevenson, Henry James, Chesterton, juga pengarang lain yang sudah lama dia kenal. Ada cerita yang tamatnya pun sudah dia hafal. Namun, dia ingin mendengarnya lagi. Di tengah bacaan, Borges bisa menyela karena satu kata, meminta perhatian pada susunan kalimat, atau membawa pembicaraan ke buku lain. Manguel mengikuti baris-baris tulisan sambil mendengarkan lelaki tua di depannya. Barangkali dia baru saja melewati satu paragraf ketika Borges masih sibuk dengan kalimat sebelumnya. Repot juga menjadi pembaca bagi orang yang sudah hafal isi bukunya.

Kelak Manguel mengibaratkan cara Borges mengulik cerita seperti montir memeriksa roda-roda kecil sebuah jam. Borges ingin tahu mengapa pengarang memilih kata itu, mengapa menaruhnya di situ, bagaimana bunyinya ketika seseorang mengucapkannya. Dia bisa berkelakar pula, tak selalu khidmat menghadapi sastra. Manguel mengingat malam-malam tersebut sampai usia tuanya: bukan hanya halaman yang dia baca, tetapi wajah Borges, sela percakapan, tanggapan yang datang tanpa aba-aba. Saya tidak tahu apakah dia masih hafal kalimat-kalimat yang dulu keluar dari mulutnya. Ia justru bisa menulis panjang tentang orang yang mendengarkan.

Saya punya sahabat yang juga gemar menghasilkan cerita dari bahan sedikit. Namanya Elan. Kami satu kelas di IKIP Bandung, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, angkatan 1996. Elan tunanetra dan ceriwis, terutama kalau urusannya perempuan. Dia bisa mendengar suara seorang teman atau dosen perempuan, lalu bercerita panjang lebar mengenai orang itu. Beberapa teman perempuan biasa menuntunnya berjalan ke kelas sambil menggenggam tangannya. Nah, dari suara dan genggaman itu, bahan ceritanya bertambah lagi. Saya yang melihat wajah, rambut, dan pakaian perempuan yang sama sering malah kalah banyak bicara.

Saya teringat Renato. Anak itu mengikuti Malèna dengan matanya, lalu memenuhi bagian-bagian yang tak dia ketahui dengan khayalan. Elan punya suara dan pengalaman menggenggam tangan; selebihnya dia merangkai sendiri. Tentu Elan tidak sedang mengarang riwayat hidup yang bisa kita periksa kebenarannya. Dia sedang ngobrol, ngabodor, kadang mengada-ada supaya kawannya tertawa. Saya pun tak merasa penglihatan saya otomatis membuat penilaian saya lebih tepat. Untung perempuan-perempuan di kelas kami tidak meminta transkrip obrolan Elan. Bisa panjang urusannya.

Di kampus, kami belajar empat keterampilan berbahasa: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dosen punya bahan, tugas, dan penilaian masing-masing untuk keempatnya. Seusai kuliah, Elan mengaduk semua itu tanpa perlu mengutip satu teori pun. Dia menyimak suara, mengingat genggaman, lalu bercerita. Saya mendengar ceritanya sambil membayangkan lagi orang yang dia maksud. Di kelas, membaca punya buku pegangan dan ujian. Di luar kelas, saya sibuk membaca Elan yang sedang membaca orang lain. Tak ada mata kuliah untuk kelakuan kami itu.

Dari sini pembagian pekerjaan Manguel dan Borges terasa agak lucu. Borges kehilangan penglihatan dan mendengarkan Manguel membacakan buku. Elan juga tunanetra, tetapi dialah yang lebih sering membacakan dunianya kepada saya. Saya mendengar sambil membawa pengetahuan dari mata sendiri, dan pengetahuan itu sering tidak banyak membantu. Lagi pula, saya tidak menjabat direktur perpustakaan nasional. Kalau Elan mendengar perbandingan ini, mungkin dia malah bertanya bagaimana suara perempuan-perempuan Argentina.

Elan juga hafal jalan. Dalam elf putih dari Ledeng menuju Pajajaran, dia kerap tahu kami sudah sampai Gegerkalong Bawah atau mendekati tempat lain tanpa harus bertanya. Saya tidak pernah mengusut caranya. Mungkin dia mengenali belokan, bunyi di luar kendaraan, atau hitungan waktu. Dia bahkan sudah bersiap sebelum tempat turun. Tetapi dia mengaku beberapa kali kelewatan. Rupanya dia ketiduran. Hafal peta Bandung pun percuma kalau sedang tidur nyenyak di elf.

Saya mengunjunginya di Wyata Guna, kompleks tempat tinggal tunanetra di Jalan Pajajaran. Teman-temannya mengenali kedatangan Elan dari ketukan tongkat, lalu menyambut dengan olok-olok yang tak mungkin muncul dalam sambutan rektor. Saya melihat beberapa orang bermain tenis meja. Sampai sekarang saya masih ingat keterkejutan saya, meski rincian permainannya sudah kabur. Dari kamar Elan, interkom menghubungkan suara para penghuni kamar lain. Mereka saling goda, saling ejek, kadang jorok. Elan ikut nimbrung dan kena olok juga. Saya lupa kata-kata mereka, tetapi keramaian itu masih terdengar dalam ingatan saya.

Arloji Elan lebih keras kepala lagi tinggal dalam ingatan. Penutupnya bisa dia buka agar ujung jarinya menyentuh jarum dan penanda waktu. Jarum serta angka-angkanya berwarna tembaga; beberapa sudut sudah kehijauan. Penutupnya buram, kotor pula. Elan membaca waktu dari sentuhan. Saya melihat warna dan kotorannya, tetapi mereknya malah tak tahu. Bisa jadi dia tahu kondisi arloji itu, bisa juga tidak peduli. Kami tak pernah membicarakannya. Saya berkali-kali melihat etalase toko jam sesudah kuliah, tetapi belum menemukan arloji yang mengingatkan saya kepadanya sekuat benda lusuh itu.

Dari malam-malam bersama Borges, Manguel membawa pulang ingatan tentang wajah, sela pembicaraan, dan kelakar orang yang dia temani membaca. Saya pun tidak sanggup mengulang satu per satu komentar Elan tentang perempuan-perempuan di kelas. Tetapi saya masih ingat cara dia bercerita, tongkatnya, keributan interkom, elf putih, juga tembaga yang sedikit menghijau. Buku kuliah kami membicarakan membaca dengan lebih tertib. Tiga puluh tahun kemudian, urutan bahan kuliah itu lebih susah saya panggil daripada kelakuan Elan.

Kami masuk kampus dengan nama IKIP pada 1996. Tiga tahun kemudian namanya berubah menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Para mahasiswa menemukan kepanjangan sendiri: Universitas Padahal IKIP. Saya pun membawa pulang ijazah UPI, meski saat mendaftar papan nama kampus masih IKIP. Elan mungkin wisuda lebih dulu, sekitar 2001, tetapi saya tidak yakin. Aneh juga, warna arlojinya lebih jelas dalam kepala saya daripada tahun kelulusannya.

Sekarang angkatan kami punya grup alumni. Teman-teman yang dulu hampir setiap hari bertemu hadir sebagai nama dan foto kecil di layar telepon. Elan tidak ada di sana. Beberapa kawan tahu di mana dia tinggal sekarang.

Saya lulus pada 2002. Sejak wisuda, saya belum pernah bertemu Elan lagi.

Share your love
Avatar photo
Arip Senjaya

Pemenang Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022, alumni Batu Ruyud Writing Camp Kaltara, dosen filsafat Untirta, anggota Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemdikbud, sastrawan, editor. Alumni UPI dan UGM.

Articles: 58

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply