Pertama kali mengenal Yana Suryana, saya mengira dia perempuan tomboi. Rambutnya halus dan agak panjang. Suaranya pun begitu. Nama Yana tidak menolong dugaan saya yang telanjur ngawur itu. Kami bertemu di Pusat Kegiatan Mahasiswa IKIP Bandung. Saya anak teater dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, angkatan 1996. Dia dua angkatan lebih senior, kuliah Teknologi Pendidikan di Fakultas Ilmu Pendidikan, dan mendirikan Unit Film. Ketua unitnya juga dia sendiri. Di PKM, Yana hampir selalu punya urusan. Saya masih sibuk menyelesaikan satu kegiatan, dia sudah mengurus kegiatan lain.
Pergaulan di PKM membuat kami akrab. Sesudah teater dan film, masih banyak pekerjaan lain yang bisa kami urus bersama: buku, piagam, sertifikat, piala, plakat, buku agenda, dan pesanan-pesanan kecil dari himpunan mahasiswa atau lembaga yang membutuhkan benda cetakan. Saya lebih banyak mengurus bahasa, penyuntingan, dan tata letak. Yana tahu cara membawa pekerjaan itu keluar dari layar komputer. Masa itu, menekan tombol cetak belum berarti buku akan keluar dari mesin di meja sebelah.
Antara tahun 1999 hingga entah kapan karena saya keburu ke Serang sejak 2003, Yana punya kesibukan lain yang membuat saya bertahun-tahun masih bisa membayangkan tangannya bekerja. Dia membuat buku-buku tulis. Semua halamannya kosong. Di etalase tempat fotokopi keluarganya di Jalan Tamansari, dekat kawasan Unisba dan Unpas, buku-buku itu bersanding dengan barang yang lebih masuk akal dijual oleh toko fotokopi. Adiknya yang lebih sering menjaga toko. Yana sibuk mengolah kertas dan menerima pekerjaan macam-macam. Saya bisa berlama-lama menonton Yana bekerja. Kalau selesai satu buku, saya ikut memeriksa kertas dan sampulnya, sok tahu mengenai bagian yang bagus dan bagian yang bisa dibuat lebih rapi.
Buku-buku Yana tak punya ukuran tetap. Satu lebih kecil, satu lagi lebih tebal; warna kertas pun suka-suka bahan yang berhasil dia kumpulkan. Ada halaman putih, kekuningan, berwarna muda, kadang berbeda jenis kertas dalam satu jilid. Itu bukan keputusan pabrik untuk membuat seri edisi khusus. Bahan dasarnya limbah potongan kertas dari pekerjaan cetak. Bahkan karton keras untuk sampul dia cari dari sisa. Yana sepertinya tak merasa perlu meminta maaf kepada pembeli karena warna dan ukuran bukunya tidak seragam.
Yang paling saya ingat ialah sampulnya. Di belakang toko fotokopi ada kamar mandi. Pada dinding kamar mandi itu, Yana memasang perlengkapan untuk menyaring bubur kertas. Dindingnya dia lapisi terpal, atau kain bekas panggung teater—saya tidak yakin lagi yang mana, mungkin dua-duanya pernah ada. Dia melumat kertas sampai menjadi bubur, lalu memakai ram sablon untuk membentuk lembaran baru. Setelah kering, kertas itu lebih tebal, permukaannya bertekstur. Ada yang mendapat hiasan tulang daun sirsak. Daunnya dia rendam dahulu di air comberan sampai tinggal rangkanya. Selera orang untuk menghasilkan keindahan memang punya jalan sendiri. Saya melihat semua pekerjaan itu dari dekat. Kalau tempat itu disebut studio seni, saya mungkin akan tertawa. Letaknya tetap di belakang fotokopian, dekat kamar mandi. Tetapi buku-buku yang keluar dari sana bikin orang rela mengeluarkan uang banyak.
Dia juga pandai menjahit jilidan. Ayahnya tukang jahit, dengan usaha konveksi persis di sebelah toko. Keterampilan menjahit bukan barang asing di keluarga itu. Yana menyatukan lembaran kertas, bukan potongan kain untuk pakaian. Sebagian buku memakai lem pada punggung, sebagian lain dia jahit. Jahitan membuat buku lebih mahal. Pembeli bisa membuka lembar-lembar campuran warna, meraba sampul yang kasar, memperhatikan punggung, lalu menimbang apakah barang ini akan mereka isi dengan catatan pelajaran atau disimpan saja.
Harga yang Yana pasang antara tiga puluh sampai lima puluh ribu rupiah. Untuk jilidan tertentu, dia minta tujuh puluh lima ribu. Tahun 1999, uang sebanyak itu bisa membuat mahasiswa berpikir berkali-kali sebelum membeli buku tulis. Buku kumpulan puisi pun ada yang harganya kalah jauh. Penyair sudah capek menyusun kata, Yana menyerahkan halaman kosong dengan harga lebih tinggi. Para penyair belum tentu siap menghadapi persaingan macam ini.
Pembelinya ada. Mahasiswa yang gemar mengoleksi benda unik datang ke etalase itu. Dosen? Wah, saya kira dosen terlalu miskin untuk membeli buku tulis mahal yang kemudian dia sayang-sayang sampai tak tega menulisinya. Saya juga menyaksikan pelajar SMA dan anak SD membeli buku-bukunya. Pernah anak SD menawar buku yang Yana pasang tujuh puluh lima ribu. Yana tak mau turun. Harga Yana tidak selalu mengikuti ongkos produksi atau banyaknya halaman. Semakin dia sayang pada sebuah buku, semakin berat melepasnya. Itu juga berarti harganya naik. Kalau sudah begitu, usia pembeli tidak banyak menolong. Bocah SD tetap harus berunding dengan seniman yang telanjur jatuh hati pada pekerjaannya sendiri.
Kakak Yana, Dodi Rosadi, bergiat sebagai seniman rupa. Dia kuliah Seni Rupa di IKIP Bandung. Pada masa yang sama dia menerbitkan komik tipis, Wanter, dengan gambar-gambar yang terasa lebih dekat kepada eksperimen seni rupa daripada komik petualangan biasa. Saya ingat harganya lima ribu rupiah. Saya sampai membeli lima eksemplar karena murah. Kakaknya mengisi halaman dengan gambar, adiknya menjual halaman kosong. Harga buku si adik lima belas kali harga buku si kakak. Kalau ada yang ingin menyelenggarakan seminar tentang ekonomi seni, coba saja mulai dari dua buku keluarga Rosadi itu. Saya sendiri lebih suka menggoda mereka.
Yana juga menerima pesanan karya yang tidak berhubungan dengan buku tulis. Wan Anwar (1970 – 2009), redaktur majalah Horison yang waktu itu mengajar sastra di Untirta, menghubungi Yana kalau memerlukan trofi artistik untuk lomba baca puisi atau kegiatan lain. Bahan bekas dapat berubah menjadi piala, plakat, dan benda penghargaan. Dodi tidak mengerjakan pesanan-pesanan Kang Wan itu. Untuk urusan piala lomba puisi, Kang Wan rupanya memilih menghubungi mahasiswa Teknologi Pendidikan yang sedang sibuk membuat buku kosong.
Kalau pekerjaan itu datang kepada kami berdua, ceritanya lain. Kami tidak punya percetakan. Kami menerima pesanan dan mencari tempat yang bersedia mengerjakannya. Dari urusan naskah dan tata letak, kami menuju tempat membuat paper plate di sekitar Jalan Pungkur. Lalu pelat-pelat itu kami bawa ke Pagarsih, mencari toko kertas, menghitung kebutuhan potong, berunding dengan pemilik mesin cetak. Kadang perjalanan lebih banyak daripada pekerjaan yang selesai. Kertas harus cocok dengan ukuran dan ongkos; pelat cetak harus sampai dengan selamat; pemilik mesin punya hitungan sendiri. Pemesan tinggal bertanya kapan barangnya jadi.
Kami selalu ingin untung. Maka ada kalanya kami memilih mesin dengan tarif murah, yang kondisinya sudah hampir waktunya pensiun. Pada hasil cetak tertentu, penghematan itu kelihatan jelas. Kami berhasil menekan biaya, mesin berhasil merusak harapan. Ada cetakan yang kurang rapi. Kami bisa saling menertawakan keputusan yang beberapa jam sebelumnya terasa amat cerdas. Mahasiswa yang sedang merintis usaha kecil memang pandai menyusun perhitungan sebelum melihat hasil akhirnya. Begitu barang datang, hitungannya harus berurusan dengan tinta dan kertas sungguhan.
Dalam semua mondar-mandir itu, saya belajar melihat buku dari sisi yang tidak pernah muncul dalam mata kuliah sastra: ketebalan kertas, bekas pisau potong, pertemuan halaman, hasil cetak yang kurang rata, jilidan yang bisa tahan lama atau cepat lepas, juga mesin ofset yang digunakan. Saya juga mengenal Yana sebagai orang yang betah mengurus pekerjaan tangan. Kami sempat bersama-sama menyunting buku salah seorang dosennya. Skripsi Yana sendiri sampai sekarang mengesankan saya. Tebal sekali, bahasanya rapi. Saya tidak membaca seluruhnya, bahkan judulnya sudah tidak saya ingat. Kalau ada yang bertanya seberapa bagus isi penelitian Yana, saya tidak akan sok tahu. Tetapi saya masih bisa membayangkan skripsi itu sebagai benda, enak dibaca, sama seperti saya mengingat sampul-sampul buku kosongnya yang enak dilihat.
Ada seorang ilmuwan Inggris yang ikut mengingatkan saya pada Yana. Michael Faraday. Orang yang namanya kemudian melekat pada pelajaran listrik dan magnet ini bekerja di tempat penjilidan milik George Riebau di London pada awal abad kesembilan belas. Dari 1805 sampai 1812 dia menjalani masa magang sebagai penjilid buku. Ketika buku-buku sains lewat di tangannya, dia membacanya. Ensiklopedia mengajaknya mengenal listrik; buku kimia Jane Marcet juga amat berkesan baginya. Faraday membuat catatan, menyusun gambar, dan menjilid sendiri buku-buku catatannya. Pekerjaan di penjilidan memberinya kesempatan membaca banyak hal yang mungkin sulit dia temukan melalui pendidikan sekolahnya.
Saya tidak tahu apa tanggapan Faraday kalau dia mampir ke Tamansari dan melihat Yana mengolah sisa kertas di dinding kamar mandi. Sejauh yang saya baca, belum ada kisah Faraday merendam tulang daun sirsak dalam air comberan untuk menghias jilid buku. Barangkali Yana bisa mengajarinya pekerjaan itu. Sebaliknya, kalau Faraday mengajak Yana berbincang tentang listrik, saya tidak yakin pembicaraan mereka akan sampai pada soal harga buku tulis. Tujuh puluh lima ribu rupiah pada 1999 juga tentu membuat orang London abad kesembilan belas kesulitan menghitungnya. Biarlah Faraday pulang membawa kisah Tamansari. Yana masih punya pesanan yang harus selesai.
Baru belakangan saya sering memikirkan buku-buku kosong itu sebagai buku yang sudah punya pengarang. Yana memilih ukuran, susunan kertas, jahitan, permukaan sampul, dan tulang daun sirsak yang ingin ia pamerkan. Pembeli belum perlu membaca satu kalimat untuk menyukai sebuah buku. Ada yang mungkin membuka halaman secara perlahan karena kertasnya cantik. Ada pula yang tidak tahan melihat halaman kosong dan segera menulisinya. Saya tidak tahu apa yang orang-orang itu lakukan setelah membawa pulang buku Yana.
Saya membayangkan anak SD yang membeli buku itu pada 1999 sekarang sudah dewasa, mungkin punya anak yang juga duduk di SD. Buku buatan Yana barangkali masih terselip di lemari. Ada yang penuh puisi, kutipan lagu, keluhan, nama pacar, atau perhitungan matematika yang tidak selesai. Bisa juga tetap kosong. Sebagian mungkin sudah hilang ketika pemiliknya pindah rumah. Saya ingin sekali melihat satu buku itu sekarang, apa pun yang terjadi pada halamannya. Kalau ada buku yang tetap kosong, saya malah ingin tahu apakah pemiliknya sengaja membiarkannya demikian atau berkali-kali berniat menulis sesuatu lalu sayang mengotori halaman pertama.
Yana meninggal pada 2019 dan beberapa hari setelahnya saya menulis sajak berbahasa Sunda untuknya. Sajak itu kemudian masuk ke kumpulan Ceurik Arsénik Made in Nagara Komik, buku yang terbit pada 2021. Di antara sajak dalam kumpulan tersebut, hanya sajak untuk Yana yang saya persembahkan kepada seseorang secara jelas. Judulnya pun “Sajak Keur Yana Suryana”. Orang yang mendapat persembahan itu bukan penyair. Dia pengarang buku kosong, pendiri Unit Film, pembuat trofi, penjahit kertas, dan sahabat yang lebih senior dua angkatan daripada saya.
Ada masa kami membuat kaos dalam jumlah terbatas dengan tulisan “Partai Bangke Anjing”. Sablon itu ikut mengisi ingatan saya ketika menulis sajak tentang Yana. Dalam puisi tersebut muncul gambar anjing kurus yang mati tergantung dan dikerumuni lalat, disertai sapaan aing dan sia. Dua larik terakhirnya masih saya sukai: “Aing ceurik inget sia sok ngagebahkeun laleur / Ulah sina euntreup kana sajak-sajak aing!” Yana mengusir lalat agar tidak hinggap pada sajak saya. Saya menulis itu sambil mengenang banyak hal tentang orang yang mengajari, menjaga, dan menyayangi saya dalam urusan tulisan. Dia lebih tua, lebih dulu kuliah, lebih dulu pula mengenal sebagian pekerjaan yang kemudian kami kerjakan bersama. Tak semua hubungan itu bisa saya daftar satu per satu dalam puisi. Dua larik tadi sudah ramai sendiri.
Deri Hudaya, ketika mengulas Ceurik Arsénik, menaruh perhatian pada bahasa Sunda Banten dan Priangan yang saling bertubrukan dalam buku itu, berikut kata-kata kasar, bahasa pergaulan, dan berbagai kelakar politiknya. Saya senang Deri memperhatikan perkara bahasa itu. Sajak untuk Yana memang tak memerlukan abdi (aku) atau anjeun (engkau) agar terdengar sayang. Kalau dalam pergaulan kami saya memanggil Yana dengan sia, kehilangan dia pun tidak membuat lidah saya mendadak menjadi pembawa acara belasungkawa. Lagi pula, bagaimana saya harus bersopan-sopan dalam puisi yang memuat anjing bangkai dan lalat?
Saya tidak tahu siapa saja yang masih menyimpan buku kosong Yana. Toko fotokopi di Tamansari itu sudah lama tak saya datangi untuk mengamati etalasenya. Beberapa pembeli mungkin bahkan lupa nama orang yang membuat buku mereka. Mungkin ada yang mengingat daun sirsaknya tetapi tidak tahu cara Yana mendapat rangkanya dari comberan. Itu urusan yang sebaiknya tidak mereka pikirkan sambil makan.
Kini saya baru sadar, dari sekian banyak buku tulis buatan Yana, tidak satu pun saya beli. Padahal minta barang sebiji pasti dia kasih. Saya punya alasan yang waktu itu terdengar masuk akal bagi diri sendiri: saya merasa bisa membuat buku kosong yang lebih bagus dari itu. Saya sudah melihat seluruh prosesnya, mengenal bahan-bahannya, bahkan tahu dari mana dia mendapat limbah kertas. Tinggal mengerjakan sendiri.
Sampai sekarang saya belum membuat satu pun.
Sialnya, Yana sudah meninggal. Saya bahkan tidak punya satu buku kosong buatannya untuk mengenang segala kesombongan saya.*




