Buku Sejak Terbit Perdana 1987| Lebih 2 Meter

2 meter. Barangkali lebih. Jika dikur dengan mistar.
Bisa dilihat panjangnya. Atau tebal keseluruhan dari jumlah buku yang dijejer-jejer di rak penyimpanan, atau pamerannya, di perpustakaan pribadi.
 
Sejak buku perdana terbit, 1987, di Penerbit tertua negeri ini –Nusa Indah– di Pulau Bunga, Flores. Saya “baru” menulis dan menerbitkan 138 buku.
 
Sengaja kata “baru” diberi tanda petik, sebab masih akan berlanjut menulis dan berproduksi lagi. Dalam keadaan normal, 1 bulan terbit 1 buku. Dan biasanya, pesanan inden (sebelum terbit) setidaknya 300 eksemplar. Kini telah mengantre 3 buku yang bilangan pemesannya  memenuhi standar saya untuk diterbitkan.
Sejak berkanjang pada bidang olah-kata di dunia literasi rentang masa 1987-2022, “baru” 120 buku solo karyaku yang terbit ber-ISBN telah membentuk barisan semut sepanjang  lebih dari 2 m.Buku yang ditulis berdua (co-author) dan bertiga; saya hitung sebagai bagian dari bilangan karya saya. Namun, jika antologi –karya keroyokan lebih dari 3 penulis, tidak saya reken sama sekali! Saya juga tidak menghitung sekitar 20 buku yang saya menjadi ghost writer-nya. Tidak etis. Dan  memang, selain pemesan dan Tuhan, orang lain tidak perlu tahu.
Jika ditimbang dengan dacin, bisa jadi lebih dari 50 kg. Sebab ada 3 buku yang di atas 400 halaman. Waktu ngirim ke luar pulau, pernah ditimbang. Bobotnya 1 buku, 1 kg.
 
Tanpa terasa, sejak berkanjang sebagai penulis=pemgarang rentang masa 1987-2022, telah 120 buku solo karyaku yg terbit ber-ISBN telah membentuk barisan semut sepanjang  lebih dari 2 meter. Buku yang ditulis berdua (co-author) dan bertiga; saya hitung sebagai bagian dari bilangan karya saya. Namun, jika antologi –karya keroyokan lebig dari 3 penulis, tidak saya reken sama sekali! Saya juga tidak menghitung sekitar 20 buku yang saya menjadi ghost writer-nya. Tidak etis. Dan tidak memang selain si pemesan dan Tuhan, orang lain tidak perlu tahu.
 
Selain buku ber-ISBN yang kini ngurusnya ribeeet bukan main. Ada pula buku yang langsung menggunakan Google Key. Kini menerbitkan buku ber-ISBN khusus untuk guru dan dosen saja, untuk melempangkan sang penulisnya mengurus kenaikan pangkat.
 
Itu jejeran buku karya saya paling bawah, tidak kalah megah dibanding buku-buku luar negeri.
 
Paradigma –pattern, pola, bukan sekadar konsep– setelah berkanjang pada menulis buku (saja) sejak 2005 berbeda dengan penulis-pengarang yang lain.
 
Saya menjual buku sebelum terbit. Bukan setelah buku terbit, seperti penulis-pengarang lain.
 
Setelah buku terbit, saya 0 stok. Tidak ada stok lagi. Hanya untuk arsip dan kewajiban Penerbit serah simpan karya cetak ke Perpustakaan Nasional, jika ber-ISBN.
Saya makan buku. Baik dalam arti harfiah maupun simbolik.
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply