Ghazali: Mutiara yang Hilang Dulu, Jumpa Lagi

Senantiasa berguna menyelami kekayaan biografi. Juga alam pemikiran seseorang. Apalagi orang itu sufi, sarat dengan hikmat kebijaksanaan seperti sang mutiara, Al-Ghazali.

Judul                : Karung Mutiara Al-Ghazali
Penulis naskah : Hermawan
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 1997
Tebal                : 123 halaman
Harga              : Rp 8.800

Seorang yang benar-benar menghayati imannya, biasanya dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan sikap humanis-universal. Lebih toleran, menghargai sesama, dan menghormati keyakinan orang lain.

Tak perlu menunjuk nama, lihat saja sikap dan perilaku tokoh besar keagamaan dunia. Rata-rata mereka cinta damai dan menaruh kasih pada sesama. Perjuangannya di dalam menegakkan keadilan dan menciptakan tata dunia yang adil dan damai, tak pernah surut.

Sikap seperti itu misalnya, terlihat dalam diri imam Al-Ghazali, pakar figh, teolog, filsuf, dan sufi terkenal. Lahir dan wafat di kota Ghazala, sebuah kota kecil dekat Thus di Khurasan, ia berasal dari keluarga yang taat beragama.

Jika kini banyak orang mencemaskan semakin brutalnya perilaku masyarakat, itu karena nilai-nilai agama kurang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Agama seakan-akan hanyalah kerangka spiritual belaka, kurang diwujudkan dalam tindakan dan dijadikan kompas untuk perilaku. Seakan-akan iman dan perbuatan merupakan dua hal yang tak mungkin bersatu. Padahal, iman dan perbuatan itu sama. Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia!

Dalam upaya menyatukan iman dan perbuatan, dan bagaimana seharusnya mengajarkan nilai-nilai, buku ini sangat bermanfaat karena menyuguhkan kiat-kiat untuk itu. Hal pertama yang penting dicatat, ialah peran orangtua. Khusus bagi Al-Ghazali, tentu saja peran orang tuanya dan latar belakang keluarga yang kondusif.

Al-Ghazali berasal dari keluarga sederhana, ayahnya seorang pemintal wol di kota Thus. Tak ayal, ketaatan beragama dan ketekunan mendalami agama dari ayah menitis ke sang anak. Di sini tepat kata pepatah, Like father, like son (anak akan meniru perbuatan dan tingkah laku orang tuanya). Orang tua dalam arti luas, yakni lingkungan, orang yang lebih dewasa, dan situasi kondisi.

Menulis 100 Buku
Sepeninggal ayahnya, Al-Ghazali dan saudaranya dititipkan pada sufi besar teman ayahnya, Ahmad bin Muhammad ar Razikani. Pada imam Razikanilah Ghazali belajar ilmu fikih, riwayat hidup para wali, dan kehidupan spiritual mereka. Selain itu, ia belajar pula menghafal syair-syair tentang mahabbah (cinta) kepada Tuhan, A; Qur’an dan Sunnah.

Nabi Isa membagi emas itu menjadi tiga bagian. Lalu ia berkata, “Sepertiganya untukku, sepertiganya untukmu, dan sepertiganya untuk orang yang mengambil roti”.

Sepanjang hayat, Al-Ghazali banyak menulis buku. Sebanyak 100 bukunya meliputi berbagai ilmu, seperti ilmu kalam, fikih, filsafat, aklak, dan autobiografi. Ditulis dalam bahasa Arab dan Persia. Dari 100 bukunya maka dua yang terasa sangat relevan dibicarakan dalam konteks dialog antaragama, yakni Ihyaa-u Uluumid Diin (menghidupkan Ilmu Agama) dan Al Mudqizmin Ad Dalal (Penyelamat dari Kesesatan).

Seperti dicatat K.H. Mustofa Bisri dalam Kata Pengantar buku ini, Ihyaa-u Uluumid Diin merupakan masterpiece dari karya Al-Ghazali. “… Kitab yang berbicara tentang figh dan tasawuf ini, penuh dengan taburan mutiara hikmah yang dikutip para ulama dan da’I” (halaman vi).

Sebegitu berharga mutiara hikmah itu, sehingga karya Al-Ghazali menembus ruang, waktu, dan tempat. Karyanya lalu bukan hanya milik umat Islam, melainkan juga milik semua orang dan semua agama. Karena itu, hikmah yang ada di dalamnya tak mengenal batas, menembus dan menjadi milik manusia universal.

Apa isi Karung Mutiara Al-Ghazali? Bacalah buku ini, Anda akan menemukan banyak hal bermanfaat dan petuah yang perlu diimplementasikan dalam hidup sehari-hari. Ketika misalnya, suatu saat Nabi Isa ingin tahu siapa yang mengambil satu dari tiga roti yang tersedia. Laki-laki teman Isa tetap tak mengaku memakannya. Apa akal? Dasar Nabi Isa tak putus ide. “Jadilah emas atas izin Allah,” ujar Isa pada dua potong roti (hlm. 4) dan seketika jadilah emas.

Nabi Isa membagi emas itu menjadi tiga bagian. Lalu ia berkata, “Sepertiganya untukku, sepertiganya untukmu, dan sepertiganya untuk orang yang mengambil roti” (hlm 4). Segera laki-laki tadi mengaku, “Akulah, akulah!”

Itu sekadar salah satu contoh hikmah yang ditemukan dalam buku ini. Masih banyak yang lain, seperti perkara akhirat, dunia, cinta, setan, takwa, tobat, dan amal.

Hikmah
Sayang, buku ini tidak dilengkapi dengan daftar isi, sehingga agak menyulitkan pembaca menemukan entry hikmah yang ingin lebih dulu diketahuinya. Dengan entry yang tercecer seperti ini, pembaca dipaksa mencari sendiri hikmah topik yang ingin dibacanya lebih dulu.

Tampaknya, setiap hikmah ada dalam akhir setiap entry, semacam suatu kesimpulan. Sekedar contoh, tema “dunia” bersimpul begini, “Dunia adalah fitnah dan ujian, kapan pun ia datang atau pergi, jika datang kamu harus bersyukur, jika pergi kamu harus bersabar (hlm 23). Tentang “umur” hikmahnya cukup menyentak kita, “Tak ada kesenangan yang sempurna dan kekal”, (hlm 121).

Meski disajikan dalam bentuk komik, buku ini tidak surut bobot dan nilainya dan tetap mengajak kita berpikir dan merenung. Visualisasi dan gambar yang lucu, membantu pembaca mengerti dan mengingat setiap hikmah. Dikatapengantari oleh KH. A. Mustofa Bisri, buku ini terasa lembut mengantar pembaca menuju ke inti persoalan.

Dan karena tema yang diangkat univeral, siapa pun pembaca yang menuruti hikmah-hikmah imam Al-Ghazali, akan menjadi arif, bertaqwa, dan lebih toleran.

Jika selama ini sulit mencari khasanah yang dapat memperkaya bagaimana seharusnya hidup beragama dihayati, buku ini dapat membantu dan sangat inspiratif. *)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply