Imprimatur dalam Dunia Percetakan dan Penerbitan

Dalam hal cetak-mencetak buku, dikenal beberapa kebiasaan yang menjadi semacam tradisi-baik. Jika ditelusuri pemikiran di baliknya, luar biasa.
 
Tradisi-baik itu adalah adanya “sensor” berganda untuk terbitan yang menyangkut iman dan pengajaran dalam tradisi penerbitan dan percetakan Gereja Katolik.
 
“NIHIL OBSTAT” dan “IMPRIMATUR” lazimnya dalam dunia penerbitan untuk buku-buku yang menyangkut iman dan pengajaran. Untuk menjamin materi pengajaran yang benar.
 
Di Indonesia, salah satu penerbit tertua didirikan oleh Katolik, Arnoldus Ende, Flores. Nama “Arnoldusterambil dari nama depan pendiri SVD. Penerbit ini digagas oleh Pater Petrus Noyen, SVD pada tahun 1926. Percetakan dan penerbitan dikelola oleh para pater SVD yang hingga kini masih eksis yang menerbitkan buku-buku untuk kepentingan internal Katolik.
 
[NB. buku perdana saya novel Flamboyan Kembali Berbunga (1987) dicetak dan diterbitkan Nusa Indah, Arnoldus, Ende – Flores. Tanpa “nihil obstat” dan “imprimatur”, sebab merupakan terbitan umum].
 
Istilah “NIHIL OBSTAT” dan “IMPRIMATUR” lazimnya dalam dunia penerbitan untuk buku-buku yang menyangkut iman dan pengajaran. Misalnya: buku katekismus, tafsiran Alkitab, serta buku-buku yang terkait dengan pokok-pokok iman.
 
Mengapa mesti demikian? Sebab dalam Katolik dikenal “Magisterium”. Tidak boleh sembarang orang memiliki penafsiran pribadi, haruslah secara resmi oleh kuasa mengajar Gereja. Atau setidak-tidaknya isinya diperiksa, apakah sesuai/ tidak. Jika sesuai maka keluar label “nihil obstat”, tidak ada aral melintang yang membuat buku itu tidak laik untuk diterbitkan.
 
Biasanya, yang memberikannya adalah seorang yang memiliki otoritas, kompeten, dan menguasai topiknya.
 
Baru kemudian muncul “Imprimatur” yang menyatakan boleh diterbitkan. lazimnya yang memberikannya adalah hirarki, boleh Vicarius general (Vikjen) boleh bila seorang uskup di lingkungan buku itu akan digunakan. 
 
Tanpa kedua label itu, dianggap tidak resmi dan bukan merupakan yang bertanggung jawab. Tidak pernah terjadi di lingkungan Katolik terbitan yang menyangkut iman dan pengajaran (Gereja) tanpa “nihil obstat” dan “Imprimatur”.
 
Pada ilustrasi kita, di ujung pena, tertulis “Imprimatur” buku berjudul Semangat Kristus. Adalah katekismus, buku pengajaran iman resmi dari Keuskupan Agung Pontianak (1981) ketika itu. Memuat pokok-pokok ajaran Iman Katolik, yang berkesuaian dengan mitos, legenda, dan folklor orang Dayak.
 
Disusun oleh salah seorang misonaris asing (Swiss) yang menetap dan tinggal lama bersama orang Dayak, yang menjadi tujuan digunakannya buku ini, Frans Xavier OFM Cap. sebagai penyusun buku, memerlukan “imprimatur” uskup setempat. Baru boleh beredar luas dan digunakan. 
 
Untuk kepentingan digunakan secara lebih luas, nasional misalnya, maka imprimatur diberikan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Contoh buku Kitab Hukum Kanonik dan penerbitan dokumen Konsili Vatikan II, Tonggak Sejarah Pedoman Arah; imprimaturnya dari KWI. *)
 
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply