Inovasi Mengalir| Dari Cover Buku Jadi T-Sirt

lebih 100 lusin
turunan produk – inovasi mengalir
Jika telah bertemu 1 maka produk ikutannya akan mudah saja bergulir.
 
Saya dan Prof. AB Susanto, pakar manajemen stratejik, menyebutnya: inovasi mengalir.
 
Suatu ketika, saya iseng saja. Maklum sejak muda hiperaktif. Saya ambil cover novel sejarah NGAYAU. Saya ambil T-shirt putih polos, lalu meletakkan cover buku di dadanya.
 
Saya foto, lalu tulis SOHIBERS FB YANG LUAR BIASA. JIKA DUA BENDA BEDA INI JADI SATU KEMASAN BERNAMA “T-SIRT” APA KOMENNYA?
Cetak kaos, bang! Dua macam, V neg untuk cewek dan oblong untuk cowok.
 
Cetakan pertama hanya: 2 lusin. Dalam seminggu ludes. Biaya cetaknya karena bahan bagus, rp90.000. Saya jual rp110.000.
 
Kemudian, cetak massal, sebanyak 50 lusin. Harga miring, tentu saja, karena kuantitas. Dalam tempo 2 minggu, habis. Saya mendapat keuntungan tambahan dari menulis buku.
 
Sejak 2019, saya memutuskan untuk tidak lagi mencetak T-Shirt ini. Saya memberi hak menggandakan dan menjual kepada sahabat, sekaligus dosen saya: Dr. Wilson. Sebagai ungkapan terima kasih murid kepada guru.
 
Kaos ini dipakai para pesohor: mulai artis, hingga Miss World Malaysia 2014, Dewi Liana Seriestha.
 
Dalam sebuah forum ilmiah, saya menjelaskan evolusi ngayau masa ke masa: 4 kali. Dari headhunter, mengumpulkan piala (dunia sport), saling berebut tenaga kerja terampil di dunia SDM, hingga kepada ngagau masa kini: memerangi kemiskinan dan keterbelakangan. Ini teori baru yang saya bangun, merevisi teori yang dibangun para antropolog dan penulis barat.
 
Seraya saya menambahkan: ada 5 motivasi Ngayau. Dan yang hakiki orang luar tidak paham: mempertahankan wilayah, klan, dan kehormatan suku bangsa.
 
Bangun konsep teori saya lalu banyak dikutip di mana-mana. Saya pernah dikasih tunjuk, ada media mainstream mengutipnya ketika menjelaskan fenomena amuk massa dan praktik tertentu yang mirip.
 
Atas teori itu, mereka katakan: itu bukan ngayau. Sebab alasan, pekik perang, tariu, dan segala casus bellinya: harus dirumuskan bersama dan ada tata cara pemaklumannya. Dari tariu hingga upacara nosu minu hingga pengembaliannya kembali.
 
Ternyata, menulis buku banyak produk ikutannya. Asalkan kreatif. Itulah hakiki ekonomi kreatif yang mengandalkan : imaginasi.
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply