King Q. Laban Itu Pepih Nugraha di Jagad Fiksi

Dodi Mawardi. Penulis paling junior buku-pemandu bagi siapa saja yang sudi belajar menulis ini, telah pun kita kupas dan ketahui isinya pada narasi yang lalu.

Sesuai janji. Kini giliran Pepih Nugraha kita kuliti untuk mengetahui isi dalamnya.

Alena adalah juluk novel karya Pepih Nugraha. Tak banyak orang mengenalnya sebagai pengarang fiksi. Kebanyakan mafhum, dia seorang jurnalis Kompas.

Saya menyebut Alena mahakarya Pepih bidang sastra sepanjang musimnya bersastra. Mengapa? “Nanti saya terangkan maksudnya!” meminjam kata-kata RG.

Tak syak. Alena, yang bilangan tebal bukunya 350 halaman, telah mengukir tanda penting dalam dunia sastra Indonesia. Saya telah merasakan daya tarik yang luar biasa dalam kisah ini. Novel ini bukan sekadar buku biasa; ia adalah sebuah karya yang tak dapat diabaikan.

Bukan hanya saya memberikan testimoni atas karya-sastra ini. Bahkan sastrawan kawakan Indonesia, sekelas Ahmadun Y. Herfanda pun bersaksi demikian.

“Rasa cinta yang terpendam lama kadang bisa meledak menjadi kisah yang menakjubkan. Suatu keajaiban dari Pepih Nugraha, novelis Alena ini, yang layak dinikmati sebagai bacaan yang mengasyikkan. Saya terkagum pada kepiawaian Pepih Nugraha, sang pengarang, membangun plot dengan narasi, dialog, dan latar yang mempesona.”

Kiranya, Ahmadun tak berlebihan. Karena saya turut menyapu (bukan editor) naskah mentah Alena hingga laik-cetak, maka kubaca habis dulu sebelum orang lain. Maka terkesankan hal yang demikian ini.

Dari awal hingga akhir cerita. Pepih Nugraha berhasil mempertautkan setiap peristiwa dalam novel ini dengan keahlian yang mengagumkan. Inilah yang membedakan novel dari cerpen.

Dalam narasi Alena, gagasan-gagasan yang dimainkan pengarang tumbuh subur. Seolah menjadi benih yang bertunas dengan suburnya. Mimpi dan imajinasi Pepih mengalir begitu deras, seolah menjadi sungai tak terbatas yang menderingkan bunyi kecapi ke empat arah penjuru mata-angin.

Imajinasi pengarang seakan terbang bebas, melayang-layang di atas alam pikiran Pepih. Kadang-kadang, seperti burung-burung yang tak pernah bersentuhan dengan tanah, cerita-cerita yang diciptakannya terasa melayang di angkasa, tetapi justru inilah yang memberinya inspirasi yang tak terbatas.

Semua ini menjadi jelas pada suatu kesempatan, saat kami duduk bersama di meja narasumber dalam pelatihan menulis kreatif di Tanjung Selor, Kalimantan Utara.

Kami berdua berbagi peran yang berbeda dalam sesi tersebut. Saya membahas “creative writing” dari sudut pandang akademik, sementara Kang Pep menghadirkan perspektif tacit, pengalaman hidupnya yang begitu kaya. Dia dengan tegas berkata, “Apa yang kamu bayangkan, tuliskan itu menjadi cerita!”

Kata-kata Pepih impromptu. Yang muncul begitu saja seperti dentuman meriam memecah keheningan ruangan. Saya yang selama 10 tahun terakhir ini telah terbenam dalam dunia akademik “creative writing” terkesiap. Saya merasa seperti dipukul oleh palu godam kenyataan.

Wajah saya merah merona. Bukan hanya karena kejutan, tetapi juga karena rasa malu. Tacit knowledge yang dimiliki Pepih terasa begitu mendalam dan berharga, bahkan mungkin melebihi pemahaman saya tentang seni menulis kreatif.

Saya pernah berkata bahwa Novel adalah mahkota seorang pengarang. Mengapa? Sebab dalam novel, tercermin tingkat kecerdasan olah-kata, word smart sesorang. Bagaimana seseorang merajut kata menjadi kalimat. Kalimat menjadi alinea. Alinea menjadi subbab. Subbab menjadi bab. Dan bab bab menjadi buku.

Nah, Kang Pep tiba pada level itu! Dengan mendalam dan lengkap, meskipun terpecah dalam bab-bab yang berbeda. Tetapi, ketika bab-bab tersebut dilihat secara terpisah, kita bisa merasakannya sebagai sebuah kisahan yang berdiri sendiri. Namun, di pihak lain, ada tema, atau tokoh, atau peristiwa yang merangkainya.

Memang hanya dalam novel, hanya dalam novel, seorang pengarang terlihat tingkat kecerdasan yang ia mainkan lewat pilihan kata, permainan metafora, jalinan peristiwa. Dan…. sebuah ending yang mengejutkan.

Saya terkagum pada kepiawaian Pepih Nugraha, sang pengarang, membangun plot dengan narasi, dialog, dan latar yang mempesona –Ahmadun Y. Herfanda.

Nuansa sastra dan kaidah-kaidah dalam “Alena” adalah bukti bakat sastra Pepih Nugraha yang sudah ada sejak masa SMP. Saat itu, dia telah mampu mengisi halaman-halaman media cetak dengan cerpen dan novelnya, yang dikenal sebagai “sastra koran.” Nama pena King Q. Laban pun menjadi sangat akrab bagi sastrawan dan penggemar literatur.

Setelah puluhan tahun absen dari jagad sastra Indonesia, King Q. Laban kembali gemilang dengan novel “Alena.” Saya bisa meyakinkan Anda bahwa menebak ending novel ini adalah tugas yang mustahil. Pepih Nugraha telah menciptakan cerita yang kompleks dan menarik sehingga membaca setiap halaman adalah petualangan tersendiri. “Alena” membuktikan bahwa sastra Indonesia terus berkembang, dan King Q. Laban adalah salah satu penulis yang mengukir sejarah dalam dunia ini. Novel ini akan terus menghiasi koleksi penggila sastra, membuktikan bahwa novel adalah seni yang hidup dan terus berubah.

Tak hanya seorang penulis, Pepih Nugraha juga memiliki latar belakang sebagai wartawan. Pada tahun 1994, ia menjalani pendidikan jurnalistik di Kompas dan menjadi wartawan Harian Kompas, yang mengharuskannya menulis faktual dan meliput konflik di berbagai daerah Indonesia, bahkan melibatkan diri dalam liputan internasional yang memperkaya pengalaman hidupnya.

Sebagai seorang jurnalis, Pepih Nugraha harus sementara “membunuh” hasrat menulis fiksi, namun setelah pensiun dini pada 1 Januari 2017 setelah 26 tahun di koran terbesar di Indonesia, ia kembali memiliki hasrat untuk menulis fiksi.

Tahun 2009, Kang Pep –saya biasa menyapanya– mendirikan Kompasiana, blog sosial terbesar di Asia Tenggara, yang menandai kembalinya ke dunia digital dan media sosial. Di ranah baru ini, sebagai suami dan ayah, Pepih Nugraha melanjutkan kegemaran menulis fiksi, menghasilkan dua novel, “Alena” dan “Perempuan Penyapu Halaman,” serta satu kumpulan cerpen, “Dua Ustad.”

Pepih Nugraha adalah penulis berbakat yang bisa mengeksplorasi berbagai bidang dalam dunia tulis-menulis. Karya-karyanya akan terus dihargai oleh penggemar sastra Indonesia dan generasi mendatang.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply