Launching Buku | Saya tak Mengeluarkan Sepeser pun (1)

Produk baru. Wajib diluncurkan kepada khalayak. Agar dikenal. Kemudian, baru muncul hasrat untuk membelinya.

Itu semacam hukum. Yang diterima sebagai adagium. Jika tidak, suatu produk tidak akan berterima pasar.

Akan tetapi, khusus buku. Terutama buku saya. Jika orang, atau penerbit akan merogoh uang ekstra, atau mengalokasi 5% dari total pendapatan suatu buku untuk promosi.

Maka saya nirbiaya. Setiaknya, 5 kali saya melakukan launching buku. Tanpa mengeluarkan sepeser pun.

Sekuat ingatan saya saja, Launching besar-besaran buku saya di tahun 2016.

Di Pusat Damai, Kabupatan Sanggau, sebuah kawasan perbatasan dengan Sarawak pada ketika itu. Koperasi Kredit CU Lantang Tipo, sebuah koperasi terbesar kedua di Indonesia, meluncurkan buku 40 Tahun CU Lantang Tipo.

Peluncuran sekaligus bedah buku diadakan di Homing Tipo, Pusat Damai, pada 5 Februari 2016 diikuti 1.200 peserta.

Ada amplop putih panjang di dalam goody bag yang saya lupa bawa itu. Tebal pula! Seingat saya. Seluruh isi di dalamnya saya bagi dua dengan ayah yang dengan sukacita menemaniku. Di acara bergengsi itu.

Yang menyerahkan buku itu kawan-lama saya juga. Satu persekolahan di Nyarumkop dulu, awal tahun 1980-an. Yakni Godang dan Raymundus Roy.

Apakah karena mereka konco-lawas maka saya merdeka, bisa masuk begitu saja?

Tidak juga! Saya mesti presentasi lebih dahulu di depan pengurus dan pengawas tentang babu –bakal buku– yang ditulis dan dijadikan. Setelah konsep dikoreksi, didiskusikan, baru berjalan.

Buku yang kutulis itu mengabadikan perjalanan koperasi kredit terbesar di negeri ini, dengan anggota lebih 176.000 serta aset lebih dari 4Triliun. Menjadikannya sebagai kekuatan ekonomi rakyat pedesaan, khususnya di Kecamatan Parindu dan sekitarnya dengan 50 kantor cabang yang tersebar di seluruh wilayah Kalbar.

Saya narasumber bagi bedah buku ini. Yang saya cukup kaget adalah: mestinya saya yang merogoh kantong untuk promosi buku ini.

Ketika usai acara, di ruangan CEO. Saya dan beberapa narasumber diberi goody bag. Apakah isinya? Saya tak tahu ketika itu.

Tenggelam dalam diskusi, sekaligus reunian, saya jadi lupa pada bingkisan. Saya turun ke kamar VIP, lantai I, di mana saya diinapkan. “Bang, dibawa kah goody bag-nya?” seorang staf bertanya.

Saya kaget. “Ya ampun, lupa!” kata saya seraya kembali ke ruangan CEO.

Setelah di kamar. Ditemani ayah saya. Dengan hati beredebar, satu demi satu kubuka isi goody bag.

Puji Tuhan!

Ada amplop putih panjang di dalamnya. Tebal pula! Seingat saya. Seluruh isi di dalamnya saya bagi dua dengan ayah yang dengan sukacita menemaniku. Di acara bergengsi itu.

Coba tadi kalau lupa betul goody bag? Mana tak ada tulisan untuk siapa? Kan bisa nangis tua.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply