Di kampung saya, kalau ada rombongan pengantin laki-laki datang, orang yang maju menyambut atau mengantar mereka biasanya itu-itu saja. Saya mengenal wajah-wajahnya, juga jenis kalimat yang bakal keluar begitu mikrofon hidup. Mereka pandai. Ada yang bisa memanggil lima nama tokoh masyarakat tanpa sekali pun melihat catatan. Ada yang menyelipkan pantun. Kalau keluarga meminta pidato agak religius, orangnya sudah tersedia. Saya malah heran bagaimana mereka mengatur jadwal ketika dalam satu hari ada beberapa orang menikah. Masa seorang juru bicara harus berangkat dari pelaminan ke pelaminan seperti petugas pengantar paket?
Saya tak mempersoalkan kepandaian mereka berbicara. Yang menarik, beberapa orang itu tidak punya riwayat hidup yang lazim kita cari pada seorang penasihat perkawinan. Ada yang beristri dua. Ada yang tak pernah menjalankan puasa Ramadan. Ada pula yang besar namanya karena anak seorang kiai, lalu pesantren keluarganya tutup ketika berada dalam pengurusannya. Orang boleh berpendapat macam-macam tentang ketiganya. Saya hanya bertanya bagaimana keluarga mempelai memilih seseorang untuk berbicara tentang tanggung jawab, kesetiaan, dan keberhasilan membina rumah tangga. Apakah cukup dengan suara yang bagus dan kemampuan mengucapkan salam panjang?
Soal dua istri, saya malah melihat keuntungan bagi panitia. Pengalaman rumah tangga si paman dapat diperiksa melalui dua sumber. Telepon istrinya yang pertama, kemudian istrinya yang kedua. Jangan lakukan wawancara di hadapan suaminya. Orang yang sedang dinilai tidak perlu ikut menjelaskan nilai dirinya sendiri. Kalau kedua istri memberi penilaian baik, paman itu tentu layak dipertimbangkan. Kalau satu setuju dan satu keberatan, siapa yang memutuskan? Saya belum punya jawabannya. Panitia pernikahan di kampung saya juga belum menyediakan formulir semacam itu. Mereka biasanya langsung menanyakan apakah si paman bersedia datang pada hari Minggu.
Orang yang tak berpuasa tentu masih mungkin mahir menyusun pidato. Saya juga tidak berniat memeriksa ibadah orang sekampung. Tetapi saya pernah mendengar juru bicara menasihati pengantin agar menjadikan rumah tangga sebagai tempat belajar menjalankan perintah agama. Saya ingin menyarankan agar nasihat tersebut setidaknya sudah dicoba sendiri oleh orang yang memberikannya. Tidak harus selalu berhasil. Kita semua tahu susahnya menjalankan nasihat. Nah, kesulitan itulah yang sebaiknya dia ceritakan. Saya lebih suka mendengarkan seorang paman mengaku pernah salah kepada istrinya daripada mendengarkan dua puluh menit penjelasan tentang kesalahan para istri.
Paman yang berasal dari keluarga kiai juga patut dihormati. Tetapi kalau pesantren ayahnya sudah ditutup, saya ingin bertanya sedikit tentang pengelolaan lembaga. Bukan untuk merendahkannya. Saya ingin tahu bagaimana pengalaman mengurus sesuatu yang gagal dapat membantu dua anak muda mengurus rumah tangga. Kalau jawabannya menarik, paman itu bisa mendapat tambahan waktu. Tamu yang belum sarapan mungkin keberatan, tetapi kegagalan yang diceritakan dengan baik pasti lebih berguna daripada nasihat yang semua orang sudah hafal.
Akan tetapi, kesempatan bertanya tidak pernah disediakan. Juru bicara datang, panitia menyebut namanya, hadirin diam. Dia dapat menasihati siapa saja tanpa harus menjawab satu pertanyaan pun. Saya mengerti, itu pesta pernikahan. Orang bukan datang untuk mengikuti ujian terbuka seorang paman. Tetapi kalau dia menghabiskan waktu menjelaskan bagaimana orang lain harus hidup, masa orang yang dinasihati tidak boleh minta penjelasan?
Sekarang pengantinnya bisa anak-anak Gen Z, sementara pamannya Baby Boomer. Paman datang membawa pengalaman empat puluh tahun berumah tangga. Itu bekal besar. Pengantin perempuan mungkin baru selesai kuliah dan sudah membaca macam-macam tentang kajian gender, emansipasi, pembagian pekerjaan rumah, dan hak seseorang atas tubuhnya sendiri. Si paman berkata istri harus tunduk kepada suami karena di situlah jalan menuju surga. Pengantin perempuan mendengar sambil tersenyum. Saya ingin sekali tahu apa yang sedang dia pikirkan. Tidak mungkin dia mengangkat tangan dari pelaminan lalu berkata, “Paman, boleh saya minta definisi tunduk?”
Lagi pula, bagaimana kalau suaminya yang lebih pandai memasak? Apa surga harus menunggu dia selesai mencuci piring? Pertanyaan seperti ini mungkin tak pantas diajukan ketika kedua keluarga sedang difoto bersama. Maka saya menyarankan agar nasihat perkawinan dari paman diberikan sebelum hari pernikahan. Undang saja kedua calon pengantin ke rumahnya. Mereka dapat membawa catatan, minum teh, bertanya, bahkan tidak setuju. Istri paman sebaiknya duduk bersama mereka. Saya kira percakapan itu akan lebih berguna daripada pidato ketika pengantinnya harus tetap tersenyum meski sepatu sudah menyakiti kaki.
Pada hari pernikahan, paman masih boleh memberikan sambutan. Saya tak ingin merebut mikrofon darinya. Singkat saja. Ada keluarga yang perlu dikenalkan, ada yang patut dikenang, ada tamu datang dari jauh. Lalu acara diteruskan. Saya tidak pernah melihat orang mengembalikan amplop karena juru sambut cuma berbicara lima menit. Orang datang untuk memberi selamat. Sebagian juga datang pada pagi hari tanpa sarapan. Di depan mereka tersaji perjalanan panjang menuju nasi dan lauk-pauk, dipisahkan oleh nasihat dari beberapa orang yang sudah makan di rumah masing-masing.
Saya khawatir kondisi tubuh tamu sering dilupakan dalam penyusunan acara. Orang yang kelaparan masih bisa tersenyum kepada paman mempelai. Itu tidak berarti dia setuju dengan isi pidatonya. Bisa jadi dia sedang menatap pintu ruang prasmanan. Kalau semua orang diminta bertepuk tangan seusai sambutan, bagaimana kita memastikan tepuk tangan itu untuk isi pidato, dan bukan rasa syukur karena mikrofon akhirnya diserahkan kepada pembawa acara? Penyelenggara pernikahan perlu memikirkan ini. Kasihan paman yang sudah belajar berbicara bagus-bagus kalau penghargaan kepadanya bercampur dengan urusan gula darah.
Pidato keluarga juga tak menentukan sah tidaknya pernikahan. Dalam akad nikah Islam ada ketentuan tentang calon suami, calon istri, wali, saksi, ijab kabul. Seorang paman yang lancar bicara tidak termasuk syaratnya. Andaikan seluruh juru bicara di kampung saya berhalangan hadir pada hari yang sama, orang-orang masih bisa menikah. Boleh jadi pestanya malah selesai lebih awal. Saya tidak mengatakan demikian agar adat kita ditinggalkan. Saya hanya ingin kedua mempelai diberi kesempatan bertemu dengan orang-orang yang datang untuk mereka, tanpa harus menunggu terlalu banyak orang yang sudah lebih dulu terkenal.
Di dunia buku ada pekerjaan yang mirip. Seseorang sudah menulis beratus-ratus halaman, orang lain diminta menulis beberapa halaman di depannya untuk memperkenalkan isi buku itu. Namanya kata pengantar. Kadang pengarangnya sendiri yang menulis, kadang penerjemah atau penyunting, kadang seorang tokoh yang namanya lebih dikenal. Saya tidak keberatan jika orang itu memang membawa kabar yang perlu disampaikan. Tetapi ketika sebuah buku diberi pengantar oleh orang terkenal, saya sering ingin mengetahui siapa yang meminta. Pengarang? Penerbit? Atau petugas pemasaran yang yakin buku akan lebih mudah laku kalau ada nama besar pada halaman awalnya?
Kebiasaan menulis pengantar sudah tua sekali. Orang Yunani dan Romawi sudah memakai halaman pembuka untuk menjelaskan maksud tulisannya. Setelah buku diterbitkan dalam bermacam bentuk, pengantar ikut berubah. Ada yang menceritakan pekerjaan penulis, ada yang menguraikan keadaan naskah, ada yang menjelaskan mengapa buku perlu diterjemahkan. Bagus. Buku memang punya banyak urusan sebelum dibaca. Tetapi pengantar oleh orang lain menimbulkan pekerjaan baru: kita harus memastikan orang yang memperkenalkan buku benar-benar mengenal buku tersebut. Juru sambut juga bisa saja tak begitu mengenal keluarga pengantin. Itu tidak selalu menghalanginya berpidato lancar. Bedanya, dalam buku, pidato semacam itu dicetak dan bisa bertahan puluhan tahun. Paman di kampung saya paling tidak selesai berbicara ketika mikrofon dimatikan.
Bertrand Russell pernah menulis pengantar untuk Tractatus Logico-Philosophicus Ludwig Wittgenstein. Russell membantu jalan penerbitannya; namanya tentu berarti banyak bagi penerbit. Namun, Wittgenstein sendiri keberatan. Dia menilai Russell tidak memahami beberapa bagian penting pemikirannya. Lalu pembaca mendapatkan sebuah buku yang pada halaman depannya dijelaskan oleh orang yang penjelasannya dipersoalkan oleh pengarangnya sendiri. Saya tak sedang menilai siapa yang paling tepat memahami Tractatus. Saya ingin tahu apa yang harus dilakukan pembaca sebelum membaca kalimat pertama Wittgenstein. Mempelajari pengantar Russell dengan sungguh-sungguh atau langsung melewatinya agar tidak salah jalan?
Wittgenstein begitu telaten memberi nomor pada kalimat-kalimat dalam bukunya. Tetapi tulisan sebelum nomor pertama malah menjelaskan pikirannya dengan cara yang tidak dia setujui. Kalau ada dua pengantar, satu ditulis Russell dan satu lagi oleh orang yang keberatan kepada Russell, persoalannya belum selesai juga. Pembaca harus memilih siapa yang lebih dipercaya sebelum membaca buku yang membuat mereka perlu memilih itu.
Kalau para filsuf menganggap keadaan demikian biasa, saya menghormati kebiasaan mereka. Saya sendiri merasa pengarang boleh setidaknya bertemu pembacanya lebih dulu sebelum pendapat orang lain ikut duduk di tengah. Dalam pesta perkawinan, pengantin tentu boleh mendengar nasihat semua paman. Tetapi para paman sebaiknya tidak berdebat di depan pelaminan tentang arti perkawinan yang sedang dijalani dua orang itu.
Saya juga berutang penghormatan kepada Russell. Tanpa bantuannya, perjalanan penerbitan buku Wittgenstein tidak mudah. Saya bersedia menempatkannya di kursi paling depan. Dia bahkan boleh mengambil makanan lebih dulu kalau memang harus segera pulang. Tetapi hak membantu menyelenggarakan pesta berbeda dari hak menjelaskan kepada kedua mempelai bagaimana mereka harus saling mencintai. Apalagi kalau mempelainya kemudian mengadu: “Paman salah memahami saya.” Kita tidak bisa menutup keluhan itu hanya dengan mengatakan sang paman sudah berjasa menyewa gedung.
Kata pengantar sering lebih enak saya baca setelah isi buku selesai. Saya melompatinya lebih dulu, lalu kembali ketika sudah tahu apa yang sedang dibicarakan pengarang. Dengan cara itu saya bisa setuju atau tidak setuju kepada orang yang memberi pengantar. Kalau dibaca sebelum buku, apa yang dapat saya bantah? Saya belum tahu orang yang diperkenalkan itu mau mengatakan apa. Saya bahkan belum mengenal tokoh-tokohnya atau persoalan yang sedang mereka perdebatkan. Pengantar yang baik bisa jadi sangat membantu. Namun, saya juga pernah membaca pengantar yang terlalu bersemangat memuji buku. Sesudah selesai, saya sudah kelelahan mengagumi pengarang, sedangkan bab pertamanya belum saya buka.
Seorang sahabat saya menerjemahkan buku Terry Eagleton. Dia meminta Sapardi Djoko Damono menulis pengantar. Pak Sapardi adalah bekas dosennya. Ini urusan yang wajar dalam kehidupan perbukuan. Kita mengenal seorang penulis, kita menghormati pengetahuannya, lalu mengundangnya memperkenalkan karya yang sedang kita siapkan. Saya ikut senang mendengar kabar tersebut. Terry Eagleton dibaca banyak orang yang berurusan dengan kritik dan teori sastra. Pak Sapardi pun sudah dikenal luas. Kalau semuanya selesai, saya bisa membeli buku terjemahan sahabat sendiri dengan pengantar dari dosennya. Bagus sekali.
Tetapi setiap kali bertemu sahabat itu, saya selalu menanyakan urusan yang sama.
“Sudah ada pengantar Pak Sapardi?”
“Belum.”
Kami bertemu lagi. Saya bertanya lagi. “Sudah?”
“Belum.”
Setelah beberapa kali, saya tidak perlu lagi menyebut nama Sapardi. Teman saya sudah tahu apa yang saya tanyakan. Dua tahun kemudian jawabannya masih “belum”. Saya tidak tahu apakah Pak Sapardi sedang sangat sibuk, apakah surat permintaannya sampai, atau apakah ada urusan lain yang belum diceritakan teman saya. Saya juga tidak menganggap seorang mantan mahasiswa berhak menerima tulisan dari dosennya kapan saja dia mau. Tetapi dua tahun cukup lama untuk mengulangi satu percakapan tanpa penambahan informasi. Kami tidak bertengkar. Saya yang bertanya, dia yang menjawab. Eagleton sendiri tentu tidak ikut menunggu di antara kami.
Sekali waktu saya terpikir: kalau pengantar tidak datang, mengapa tidak langsung menerbitkan bukunya? Lalu saya malu pada pertanyaan itu. Mungkin sahabat saya sudah punya perjanjian dengan penerbit, mungkin dia ingin menghormati gurunya, mungkin ada urusan lain yang tidak saya ketahui. Saya tidak mengurus proyek bukunya. Jadi, saya tidak akan menuduh kata pengantar sebagai penyebabnya. Saya hanya tetap bertanya kalau kami bertemu. Orang yang tak mendapat jawaban baik kadang memang malas mencari pertanyaan baru.
Sahabat saya meninggal. Terjemahannya tidak terbit. Sesudahnya Pak Sapardi juga meninggal.
Saya tidak tahu di mana sekarang berkas terjemahan itu. Saya juga tidak tahu apakah ada orang lain yang masih menyimpannya, dan saya tak ingin menebak-nebak mengapa dulu tak jadi terbit. Yang saya ingat hanya percakapan singkat tadi. Saya bisa mengulangi pertanyaan yang sama selama dua tahun tanpa merasa lelah. Sekarang saya tidak punya orang untuk ditanya.
Jika suatu hari terjemahan itu ditemukan, kirimkan satu salinan kepada saya. Saya ingin membaca Eagleton dalam bahasa yang dikerjakan sahabat saya. Kalau penerbit masih ingin mencari penulis pengantar, silakan. Tetapi beri saya naskahnya dulu. Bertahun-tahun saya cuma bertanya tentang pengantarnya. Untuk sekali ini, saya ingin membaca bukunya.*




