Pedagogi Sinestesia

“Ada orang bilang Angkatan ’45 lebih kuat dari Angkatan ’66, ada pula yang berkata sebaliknya. Ada yang bilang Pujangga Baru lebih kuat dari Pujangga Lama dan Balai Pustaka. Ada juga yang bilang Angkatan Reformasi lebih kuat dari Angkatan ’66 dan 80-an. Menurut saya, angkatan terkuat itu adalah Angkatan Darat!”

Kelakar tersebut pertama kali saya dengar dari sahabat saya, senior saya, almarhum Wan Anwar. Dalam beberapa diskusi atau peluncuran buku, kelakar tersebut sering beliau sampaikan. Tentu tujuannya adalah untuk membuat kita tidak merasa lebih baik atau lebih jelek. Beliau adalah dosen FKIP Untirta, alumni IKIP Bandung (kini UPI) dan UI, dan salah satu redaktur majalah sastra Horison yang turut membesarkan halaman Kaki Langit, halaman untuk para pelajar Indonesia, atau mereka yang baru memulai menulis sastra.

Baca Critical Theory Today untuk Mengkritisi Masyarakat Majemuk di Indonesia

Mungkin kita harus berpikir searif kelakar tersebut, tidak sewot, tidak merasa angkatan kita lebih baik, tidak menuduh angkatan lama lebih jelek. Setiap angkatan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Paling tidak kita bisa santai membaca keadaan, arif, dan bekerjasama dengan angkatan di bawah kita. Bekerja sama membangun cinta-cita bersama juga. Apa itu? Ya negara dan bangsa ini. Pendidikan adalah salah satu jalan untuk tetap menjaga irama kebersamaan kita.

Mungkin saja kini kita sebenarnya merasa sudah termarjinalisasi, namun tidak sadar, tergeser ke pinggiran, sebab yang menguasai jalur tengah itu ya Gen Z. Mau tidak mau kita memang sedang berhadapan dengan generasi yang tidak sekadar melek, tetapi juga para pengguna multimodalitas sarana teknologi informasi dan teknologi komunikasi dalam arti sesungguhnya. Kita sekadar tahu dan mungkin pernah coba-coba, sedangkan mereka tiap saat, dan untuk urusan apa saja mereka bergantung terhadap teknologi tersebut.

Benteng Pemisah

Begitu banyak hal menginterupsi kita, orang-orang dewasa, dalam beberapa tahun terakhir demi melihat kehidupan anak-anak dan remaja yang sangat berbeda dari kita di masa-masa seusia mereka. Tidak jarang dan bahkan sering kita pun dibuat khawatir dengan masa depan mereka. Tidak jarang pula kita jadi pembenci mereka. Kalau memperhatikan kasus-kasus serangan netizen dewasa kepada anak-anak Gen Z yang kok begitu di media sosial, komentar yang keluar amat deras dan kasar, penuh serangan, hinaan, menjatuhkan, menyayangkan, membodoh-bodohkan, menyebut mereka tidak beradab, tidak berbudaya, tidak nasionalis, tidak pancasilais, tidak berilmu, bahkan menajisdosakan mereka.

Beberapa label pernah kita alamatkan kepada mereka: “generasi menunduk” atau “anak rebahan” (maksudnya main ponsel melulu); “lulusan Zoom”, “Zoomer”, atau “anak daring” (maksudnya tidak belajar secara konvensional di kelas luring), “pelajar +62” (seolah-olah kita dari +61 —lulusan Australia!), bahkan “Gen Z” itu sendiri sering kita gunakan secara negatif: sebagai label buat memisahkan kita dari mereka, baik itu memisahkan pengetahuan, karakter, budaya, ilmu, dan kecenderungan-kencenderungan lainnya. Dengan kata lain, usaha kita memisah angkatan kita dari angkatan mereka adalah sejenis rasa kolektif untuk menyebut diri kita lebih baik.

Baca

Kira-kira sejak telpon pintar menjadi alat umum mereka, kita sudah mulai membuat benteng pemisah. Kapan itu? Seingat saya sejak era kelahiran BlackBerry di akhir 2004 yang waktu itu dioperatori oleh Indosat dan Starhub. Pengguna BB (sebutan singkatnya) tiba-tiba merasa memiliki komunitas istimewa, khusus buat mereka. Sampai 2016 (berarti 12 tahun!) generasi pertama ponsel cerdas ini membangun komunitas tersendiri. Kita tidak dapat berkomunikasi dengan mereka melalui jalur PIN jika tidak memiliki BB. Nomor PIN adalah kombinasi unik angka dan huruf yang menjadi identitas para pengguna BB.

Akan tetapi dalam rentang dua belasan tahun itu orang-orang dewasa pun mulai menggunakan BB, baik karena kebutuhan komunikasi, maupun kebutuhan gaya hidup. Bahkan berbagai media informasi sering mengemas isu gaya hidupnya, pencitraannya, daripada fungsinya sebagai alat komunikasi. Orang dengan BB mahal boleh jadi merasa satu level dengan seorang artis atau pejabat yang kedapatan sedang menggunakan BB yang sama.

Perangkat BB merupakan perangkat yang mentransisi pergantian telpon selular biasa ke ponsel cerdas, dan dalam rentang dua belas tahunan itu ada pergesekkan antara komunitas pesan singkat (SMS) dengan komunitas “PING!” (disebabkan bunyi pesan BB yang bersuara “ping”). Kita yang biasa dengan SMS merasa kesepian kalau melihat pengguna BB sibuk ber-ping-ping ria dengan sesama mereka. SMS itu kesannya tentang pesan-pesan penting, sedangkan “P” (singatan dari komunikasi ping-pingan) bisa serius, bisa santai, bahkan bisa pula sampah.

Tradisi ping-pingan itu lantas diteruskan oleh ponsel-ponsel cerdas berbasis android yang makin menyibukkan tangan dan makin sering merundukkan kepala mereka ke layar. Diam-diam angkatan kita pun berganti rupa. Ada yang pernah ditransisi sebentar oleh BB, ada yang dari ponsel biasa langsung loncat ke ponsel cerdas. Sedangkan angkatan Gen Z tidak mengalami masa perangkat sebagai alat komunikasi terbatas dan untuk yang penting-penting, tidak juga membangun komunitas dengan alat khusus, tetapi memasuki dunia dengan perangkat pembangun jejaring global. Tidak sekadar sarana komunikasi antarindividu, atau komunikasi komunitas (seperti grup-grup komunikasi berbasis aplikasi), mereka juga berselancar dengan beragam komunitas tingkat dunia melalui media sosial. Bahkan sudah banyak dari mereka memanfaatkan berbagai sarana untuk berbagi hobi, pengetahuan, dan bisnis mereka.

Makin sibuk mereka dengan perangkatnya, makin merasa kita yang terpisah jarak budaya dengan mereka. Kita bertransaksi dengan uang kertas dari dompet atau cari ATM untuk transfer, mereka tinggal dekatkan ponsel ke alat pemindai QR Code atau transfer melalui aplikasi di perangkat.

Tapi siapa sebenarnya yang menciptakan benteng pemisah itu? Apakah mereka atau kita? Kita tidak mungkin bisa seperti mereka karena kita dalam transisi yang entah kapan akan berakhir. Pekerjaan-pekerjaan kita pun menunjukkan itu: ya berbasis dokumen cetak ya harus juga berbasis dokumen digital. Kita bisa isi bukti kehadiran berbasis tanda tangan di kertas sekaligus isi kehadiran di link yang disediakan. Keduanya wajib pula dan masing-masing merepotkan. Betapa susahnya menulis NIP atau mengunggah NPWP dan dokumen lain yang diperlukan, bukan? Bahkan membuat tanda tangan di atas layar itu tidak memudahkan. Alih-alih generasi “tua” ini merasa dibuat mudah dengan ponsel cerdas, bisa saja merasa jadi kerja dua kali, atau lebih dari itu. Sedangkan anak-anak dan remaja dapat mengerjakan apa pun dengan perangkat mereka itu. Mulai dari urusan-urusan tugas sekolah atau kuliah, bisnis, sampai urusan-urusan pesan makan, antar barang, beli barang, pulang-pergi naik motor/mobil online, dan masih banyak hal lainnya. Karena kita tidak sepandai mereka, kita pun mulai menarik diri ke komunitas-terbayang kita, dan mungkin kita-kita jugalah yang ciptakan benteng itu, sadar atau tidak.

Istilah “komunitas terbayang” dalam konteks ini tidak sama dengan “nasionalisme” yang dirumuskan dalam imagined communities-nya Anderson. Akan tetapi secara esensi kurang lebih sama, ada imajinasi kolektif—sifatnya merasa sama—antara individu satu dengan lainnya yang satu angkatan kelahiran. Akan tetapi dalam kasus ini perasaan sezaman itu menciptakan pemisah pada angkatan lain yang dibayangkan tidak sezaman, seakan-akan ada rasa kebangsaan yang berbeda. Jika memang demikian, jangan-jangan angkatan tua sekarang juga pernah dinilai buruk, beda, tidak beradab, bodoh, dll. oleh angkatan sebelum kita—katakanlah itu Angkatan Orde Lama mengingat kita lahir di masa Orde Baru.

Akan tetapi beberapa fakta mengejutkan mungkin harus kita arifi juga. Sebagai misal, pada tanggal 12 Juni 2024 kemarin, saya menjadi salah satu juri FLS2N Provinsi Banten yang diselenggarakan di Pandeglang. Saya bertugas di cabang monolog. Benar-benar saya terkejut bahwa ternyata anak-anak sekolah menengah sekarang jauh lebih baik kemampuannya dalam hal monolog dibandingkan dengan anak-anak di masa saya seusia mereka. (Saya lahir dan besar di Bandung, satu wilayah yang biasanya disebut-sebut tempat orang-orang kreatif dan tempat lahirnya sejumlah seniman, juga di bidang pertunjukan). Bahkan jika saya bandingkan dengan masa saya kuliah, kemampuan mereka masih ada di atas rata-rata kemampuan monolog atau akting drama konvensional mahasiswa tahun-tahun pertama. Saat saya kuliah di UPI Bandung, saya juga bergiat di UKM Lakon – Teater Mahasiswa UPI, dan tidak hanya rata-rata kemampuan mahasiswa UPI, tetapi berbagai kampus yang juga menyelenggarakan pementasan teater, kurang lebih masih di bawah kemampuan anak-anak FLS2N tersebut.

Ini artinya, kita jangan terlalu mencemaskan datangnya zaman teknologi informasi yang multimodal itu, karena boleh jadi salah satu kemampuan hebat anak-anak yang lomba monolog tersebut (semuanya ada 16 peserta) justru disebabkan teknologi informasi yang menjadikan mereka memasuki zaman multiliterasi. Teknologi yang saya maksud memultimodalkan dunia apa pun yang disaranainya dan hal ini telah membesarkan mereka secara sinestesia. Saya yakin masih sangat jarang guru atau sekolah memikirkan pedagogi sinestesia ini, dan masih lebih banyak yang kurang arif terhadap perkembangan teknologi digital sehingga memandang masa lalu sebagai ukuran “baik” dalam pembelajaran tanpa melihat salah satu dampak positifnya bagi perkembangan anak didik.

Karena saya memang lebih banyak digunakan masyarakat dalam bidang sastra dan seni, saya memandang dalam kasus seni pertujukan ada perkembangan signifikan. Saya dapat membayangkan perbedaannya dengan masa-masa pradigital, masa setiap anak didik hanya mengandalkan guru seni di sekolah, dan saat mahasiswa mengandalkan pandangan-pandangan senior yang itu-itu saja, sedangkan anak-anak sekarang dapat mencari model akting dari beragam aktor nasional dan bahkan dunia. Dulu saya dari naskah ke praktik dan minim model, sedangkan anak-anak Gen Z dari naskah, ke apresiasi media digital yang multimodal (tontonan, dengaran, dan bahkan dapat diatur ukuran besar kecilnya video dan audio, dapat dipercepat atau diperlambat, dst.) ke praktik, sehingga dapat mencerminkan diri ke banyak model.

Mungkin berangkat dari pengalaman menyaksikan mereka yang hebat-hebat dalam lomba monolog itu saya dapat mengira kurang lebih bidang-bidang lain pun bisa jadi mengalami perkembangan positif yang signifikan. Matematika, misalnya, saya hanya mengandalkan guru dan kakak kelas yang pintar, sedangkan sekarang anak-anak dapat belajar kepada profesor langsung melalui siaran digital. Saya tidak dapat memutar ulang ceramah guru dulu sehingga kalau tidak mengerti ya sudah tidak mengerti, dan jika malu bertanya ya sudah sesatlah jalan ilmu saya. Sedangkan sekarang anak-anak kita dapat memutar ulang pelajaran siapa saja dan kapan saja, berapa kali pun sampai mereka mengerti, dan anak-anak yang pemalu tidak akan lagi merasa malu saat membuka YouTube atau media-media yang menyiarkan pembelajaran.

Dalam satu kesempatan curah pendapat di Hotel Aryaduta Menteng (agenda diskusi buku elektronik yang diselenggarakan Pusbuk Kemendikbudristek pada Mei 2024), Prof Dr. Ence Mukhamad Oos Anwas, M.Si. memandang kehadiran buku-buku elektronik boleh jadi dipandang sebelah mata oleh para orang tua dan guru. “Tapi tenang saja,” ucap beliau, “hal itu sama dengan cara orang tua kita dulu memandang sebelah mata pada kalkulator.” Tiba-tiba saya pun teringat pengalaman serupa, pernah disepelekan para orang tua di masa sekolah gara-gara kalkulator. Seingat saya orang-orang yang memandang rendah alat teknologi hitung itu belum tentu juga jago matematikanya, apalagi kalau sudah menyangkut perhitungan yang kompleks dalam trigonometri, logaritma, pecahan, eksponensial (bilangan-bilangan berpangkat), dan perhitungan geometrik.

Baca Hermeneutika dan Positivisme Logis

Buku elektronik memang salah satu perkembangan perbukuan sekarang, dan mungkin saja dipandang sebelah mata. Sebenarnya kelebihan-kelebihan bukel itu adalah pada fitur-fitur multimodalnya yang tidak dimiliki buku cetak konvensional. Anak-anak didik kita dapat membaca, sekaligus mendengar audionya, atau berloncat ke fitur lain seperti pembesaran, alih bahasa, bahkan memberikan catatan, dan menguji kemampuan dengan menjawab kuis interaktif. Semua aktivitas membaca bukel tersebut merupakan contoh aktivitas pembelajaran sinestesia sehingga sudah saatnya kita mengembangkan pedagogi sinestesia tersebut.

Jadi, mungkin saja kalau Wan Anwar masih ada sekarang kelakarnya akan berubah di bagian awal, “Ada orang bilang Angkatan Luring lebih kuat daripada Angkatan Daring. Ada juga orang bilang Angkatan Buku Cetak lebih kuat daripada Angkatan Buku Elektronik, ada pula yang berkata sebaliknya. Sebenarnya, Saudara-Saudara, yang terkuat adalah Angkatan Darat.”[]

Share your love
Avatar photo
Arip Senjaya

Pemenang Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022, alumni Batu Ruyud Writing Camp Kaltara, dosen filsafat Untirta, anggota Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemdikbud, sastrawan, editor. Alumni UPI dan UGM.

Articles: 24

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply