Pengarang Sunda, Penerbit Dayak: Kolaborasi bukan Kompetisi

Zaman now. Ketika dunia –merunut kepada istilah McLuhan– adalah small village (kampung kecil) maka kecenderungan suku bangsa berkolaborasi. Tidak zamannya lagi kompetisi, saling beradu, sedemikian rupa; yang berakibat merendahkan kemanusiaan dan memperlambat kemajuan peradaban.

Kecenderungan besar (megatrends) Asia pun demikian itu seperti dinubuatkan John Naisbitt. Yakni “From Nation-states to networks” (dari negara-bangsa menuju kerja sama saling menguntungkan).

Demikianlah judul narasi ini berkehendak untuk menggenapi nujum Naisbitt. Masri Sareb dan Pepih Nugraha, keduanya alumni UGM (Universitas kehidupan Kompas-Gramedia), sesuai spirit serta cita-cita pendiri Ojong dan Jakob, berkolaborasi. Mereka yakin bahwa 1 + 1 bukan hanya 2, melainkan nirbatas bilangan hasilnya, jika bekolaborasi. Jika berkompetisi maka yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu.

Sadar petingnya kolaborasi zaman now, Pepih dan Masri mengajar dengan contoh. Kedua pegiat literasi ini diam-diam membuat gebrakan. Menandai kolaborasi, diadakan launching Novel Alena, Dua Ustad, dan Perempuan Penyapu Halaman yang ditulis Pepih Nugraha. Acara berlangsung pada Selasa, (22/06/2021). Momen bersejarah itu di gelar di San-Ju-Ichi Coffee and Eatery, Karawaci, Tangerang.

Masri berkisah bahwa Pepih selama ini “membunuh” kemampuannya dalam menulis fiksi. Bukan tanpa alasan, semua karena pekerjaan dan profesinya sebagai seorang jurnalis yang lebih banyak menulis berdasarkan data dan fakta.

Acara di buka dengan kata sambutan dari penerbit yang diwakili oleh Direktur utama, R. Masri Sareb Putra. Dalam sambutannya, Masri menceritakan kisah bagaimana Pepih Nugrahan dan dirinya bertemu. Mereka pertemukan di Kompas Gramedia. Masri masuk terlebih baru kemudian Pepih menyusul.

Masri berkisah bahwa Pepih selama ini “membunuh” kemampuannya dalam menulis fiksi. Bukan tanpa alasan, semua karena pekerjaan dan profesinya sebagai seorang jurnalis yang lebih banyak menulis berdasarkan data dan fakta.

Dan kini. Pada masa emas pensiun yang dinikmatinya betul, Pepih mulai menyalakan kembali ruh dan mengeluarkan benih menulis fiksinya. Tak tanggung-tanggung. Sekali luncur, 3 buku.

Semangat, sekaligus elan vital lierasi dari urang Sunda yang pantas untuk diapresiasi dan ditulari.*)

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 211

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply