Pycharrhena Cauliflora (4) | Menciptakan Pasar

Tahun 1980-an.
Kita masih ingat. Ada pengusaha gila. Yang mendirikan pabrik kemasan air mineral. Tidak usah menyebut merek, sebab ini bukan-iklan. Bagaimana tidak gila? Menjual air putih, air mineral, di tempat air bersih melimpah ruah.

Tapi itulah ilmu marketing. Dunia usaha. Panjang proses dan perjalanaannya. Menciptakan pasar agar, pada waktunya, khalayak memerlukan produk kita. Meski awalnya jangankan mengonsumsi, tahu pun tidak. 

Dan kini. Mengonsumsi air mineral dalam kemasan telah jadi gaya-hidup. Kebutuhan sehari-hari kita. 

Kemudian hadirnya Internet. Juga HP. Kini, asalkan suatu tempat –atau terjadi kendala di dalam perangkat atau jaringan Internet, kita merasa ada yang kurang.

Maslow agaknya perlu menambahkan beberapa lagi basic need, kebutuhan dasar, manusia abad ini. Sudah berbeda dengan yang dahulu pernah dirumuskannya, meski masih tetap ada yang tidak berubah.

Di atas adalah contoh kasus. Bahwa kebutuhan manusia bisa berubah, atau diciptakan. Pertama-tama dengan promosi dan edukasi. Kemudian, baru menjadi bagian dari hidup. 

Dengan kata lain, desire (hasrat untuk memiliki) dan need (kebutuhan) bisa diciptakan. Pun begitu gaya hidup manusia. 

Naluri sebagai entrepreneur harus main –di samping kalkulasi cuan semata!

Dalam konteks itu, agaknya kawan saya –penguasaha di Jakarta– merasa yakin bahwa keinginan dan kebutuhan masyarakat akan bumbu-racikan dari Sengkubak, akan berterima pasar. Bahkan, menurut pengusaha asal Sambas ini, “Bumbu alami Sengkubak ini ditunggu-tunggu!”

Kepada saya kawan tadi bilang, “Pasar bisa diciptakan. Abang fokus saja pada pemuliabiakan dan penggandaan pasak bumi. Pabrik dan pasar urusan saya.”

Agaknya, ia mafhum betul perilaku konsumen. Dan telah membaca apa yangdisebut captite market. Yakni ceruk pasar Sengkubak, bumbu alami khas Dayak. Yakni orang Dayak itu sendiri.

Tapi memang memerlukan waktu. Tidak serta-merta. Perusahaan-perusahaan besar pun mulai dari alif. Mengalami jatuh bangun. Uji coba. Gagal. Coba lagi!

Yang terpenting adalah fokus dengan usaha itu. Tahu ata-rantai proses produksi dari hulu hingga hilirnya.

Dengan, tentu saja, membuat studi kelayakan. Serta yang penting setia pada business plan yang telah dirancang. Berapa harga jual, tentu bergantung pada biaya produksinya. Berapa tahun perkiraan break even point (titik impas modal kembali), dan sebagainya.

Memang saya fokus di raw-material, bahan mentahnya. Menyediakan bahan mentah Sengkubak. Namun, juga harus berpikir holistik.

Naluri sebagai entrepreneur harus main –di samping kalkulasi cuan semata!

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply