The Flying Geese – Etos dan Budaya-kerja Jepang

The Flying Geese - Etos dan Budaya-kerja Jepang
Saya dan Yasuo, taipan asal Jepang.

Suatu siang. Saya menghadiri acara diskusi buku, di sebuah hotel bintang ***** di bilangan Kuningan, Jakarta. Dan bersua dengan taipan asal Jepun, Yasuo.

Saya kisahkan, dahulu kala –bukan salahnya dia– askar-askar Jepun telah pun menundukkan suku bangsa kami. Namun, cukup ada perlawanan.
“Tulis saja sejarahnya!” katanya.
Kini, setelah hampir 5 tahun. Baru sejarah itu, saya tulis.

Pembaca silakan mengikuti kisah-sejarahnya pada The History of Dayak (10).  Kali ini saya hendak berbagi mengenai model ekonomi, yang ditemukan dan diperkenalkan cerdik cendikia negeri matahari terbit.  Seperti judul tulisan ini.

***

Jepang.

Begitu dikenal seantero jagad raya. Salah satu keterkenalan itu adalah karena begitu cepat negeri matahari terbit bangkit dari krisis yang melanda Negara Sakura, pasca Perang Dunia II. Begitu bom atom meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki.

Senantiasa ada orang optimis, di antara orang Jepang. Dan itu tamsilnya adalah tentang sekelompok “angsa terbang” –flying geese. Topik yang akan kita bincangkan.

Jepang lumpuh. Semua berantakan. Ekonomi, yang sekian masa dibangun, hancur lebur. Seketika itu juga.

Jepang diratakan dengan tanah oleh sekutu pada Perang Dunia II. Kota Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak. Warga negeri matahari terbit dilanda gundah gulana. Mereka dibekap rasa putus asa. Maka Baginda Kaisar Akihito (1926 –1989) bertanya, “Masih berapa banyak guru yang hidup?”
“Masih ada sedikit, Baginda.Mungkin cuma tujuh.”
Seketika baginda meloncat dari  singgasana. Wajahnya yang murka, sekonyong-konyong mengulas senyum. Ia yakin, Jepang akan bisa dibangun kembali dengan tujuh guru.

Kisahan itu amat terkenal. Tentang secercah harapan. Masa depan. Perubahan ke arah yang lebih baik, yang memantik pikiran dan perbuatan untuk mewujudkannya. Itulah bangsa Jepang. Yang selalu optimis dan bekerja keras. Karena itu, ada guyonan: Orang Jepang bekeringat ketika bekerja (tentu bukan di ruangan berpendingin). Sedangkan orang Indonesia berkeringat ketika sedang makan!

Tapi, camkan! Jangan keburu tersinggung. Apalagi  hingga murka.

Senantiasa ada orang optimis, di antara orang Jepang. Dan itu tamsilnya adalah tentang sekelompok “angsa terbang” — the flying geese. Topik yang akan kita bincangkan.

***

Jelang musim dingin. Dan kita sedang berada di salah satu negara benua Eropa. Maka kita akan melihat sekumpulan angsa-angsa terbang. Angsa-angsa terbang ke arah selatan untuk melewatkan musim dingin di sana. Nanti pabila jelang musim panas, kumpulan-kumpulan angsa terbang ini akan kembali ke daerah asalnya. Yang menarik adalah pola angsa terbang yang selalu terbang dalam formasi  > (victory).

Dari formasi angsa terbang ini, kita dapat mempelajari sekurang-kurangnya dua hal:

Pertama, selalu ada pimpinan di depan diikuti oleh masing-masing anggota kelompok yang mempunyai peran yang jelas. Konon, kibasan sayap angsa-angsa secara aerodinamis akan diteruskan dari depan ke deretan sayap kiri dan kanan, akan mengakibatkan penghematan energi dalam terbang dan dapat mencapai jarak tempuh terbang yang lebih jauh.

Kedua, pimpinan yang berada di depan ternyata tidak selalu sama, tetapi akan senantiasa silih berganti. Pimpinan akan digantikan oleh yang lain, untuk kemudian sang mantan pimpinan menempatkan diri pada formasi sebagai anggota biasa. Bukankah hal ini suatu program kolektif leadership dan team work yang sangat menyentuh?

Lebih menarik lagi, setiap kelompok yang terdiri dari sekitar 9-15 angsa ini juga merupakan anggota dari sekawanan yang lebih besar lagi. Dan mereka terbang beriringan demi keamanan serta menjaga jikalau ada anggota kelompok yang perlu pertolongan. Mungkin manusia perlu belajar banyak dari hewan untuk program-program kepemimpinan.

Kaname Akamatsu dan Saburo Okita
Istilah “flying geese” pertama muncul dari ekonom Jepang, Kaname Akamatsu pada era 1930-an dalam tulisannya yang dimuat di media Jepang. Selanjutnya, dipresentasikan dalam dunia akademik sesudah Perang Dunia II pada 1961 dan 1962 di Inggris.

Khasanah ini pun serta merta diadopsi dunia ekonomi karena sangat menarik dan dapat menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi suatu kawasan –suatu model yang di kemudian hari dapat menjelaskan ihwal integrasi ekonomi kawasan dan pasar bersama yang sokong-menyokong.

Apakah model angsa terbang atau The Flying Geese (FG)? Model ini coba menjelaskan industrialisasi ekonomi yang terlambat dari dari tiga aspek.

Pertama, intra-industri: yakni pengembangan produk dalam suatu negara berkembang dengan satu industri yang tumbuh lebih dari tiga seri kurva, misalnya impor (M), produksi (P), dan ekspor (E).

Kedua, inter-industri: sekuensial kinerja dan pengembangan industri di negara berkembang tertentu, dengan industri yang terdiversifikasi dan upgrade dari barang-barang modal dan atau dari produk sederhana ke yang lebih canggih.

Ketiga, aspek Internasional: relokasi industri proses berikutnya dari lanjutan untuk negara-negara berkembang selama proses terakhir untuk mengejar ketertinggalannya.

Konsep Kaname Akamatsu ini kemudian dikembangkan dan semakin disempurnakan oleh ekonom Jepang, Saburo Okita (1914-1993). Mantan menteri luar negeri Jepang era 1980-an ini memberikan kontribusi besar karena memperkenalkan model FG ke masyarakat dunia, termasuk ke dunia politik dan bisnis.

Dengan demikian, kawasan-kawasan transmisi dari industrialisasi FG didorong perkembangannya oleh proses ketertinggalan melalui diversifikasi atau rasionalisasi sektor industri. Hal ini menjadi sangat terkenal dan menjadi motor dan mofdel pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia.

Lebih jelas dan sistematis, Dr. Saburo Okita mempresentasikan model Flying Geese pada “The 4th Pacific Economic Cooperation Council Conference di Seoul, 1985”. Yang menarik, ia memaparkan secara terperinci –yang kemudian mempesona peserta konferensi sehingga menerima konsepnya sebagai sebuah model—ialah penggambarannya tentang pertumbuhan ekonomi kawasan mengikuti formasi angsa terbang.

Inilah model pertumbuhan ekonomi angsa terbang di Asia yang di dalamnya dapat kita lihat formasi sektor-sektor industri. Jepang sebagai pemimpin dalam formasi angsa terbang ini “menarik maju” sesama negara kawasan Asia, utamanya negara industri baru (NIEs) dan ASEAN. Sebagaimana tampak dalam gambar, kawanan angsa terbang membentuk V dan memang mereka sedang terbang, bergerak ke pencapaian tertentu.

Terbukti bahwa ekonomi negara industri baru di Asia tumbuh secara akseleratif, sebagai contoh Taiwan, Korea, dan Singapura. Percepatan laju pertumbuhan ekonomi kawasan ini menarik negara-negara di kawasan Asia Tenggara, sehingga Malysia, Thailand, Filipina, dan juga Indonesia. Kibasan sayap Jepang dan NIES secara aeoridinamis menarik kawanan angsa di kawasan Asia, sehingga laju pertumbuhan ekonominya pun mengikuti sang pemimpin dalam formasi victory. Struktur transformasi di kawasan Asia dalam formasi angsa terbang sebagaimana diperkenalkan Saburo Okita.

Karena terjadi percepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bangsa-bangsa Asia, di mana sumber daya alam, budaya, agama, dan warisan sejarah saling memberikan kontribusi yang nyata dengan Jepang sebagai yang terdepan. Dengan demikian maka pola integrasi ekonomi pada model Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) lantas dilihat sebagai “keluar dari kotak” karena terdiri atas negara-negara yang boleh dikatakan tingkatan ekonominya kurang lebih sama.

Namun, justru inilah keragaman model teori ekonomi dan pembangunan karena setiap teori atau model memunyai kekhasannya masing-masing dan dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan fenomena yang ada.

Filosofi flying geese juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam skop yang lebih kecil, entah dalam keluarga, di kantor, entah di lingkungan masyarakat. Kita dapat menjadi leader dalam formasi angsa terbang.

Kita sebaiknya menjadi penolong bagi orang lain. Tidak maju atau sukses sendiri. Setelah merasa cukup, sebaiknya kita menarik maju orang lain agar juga sama sukses seperti kita.

***

Itulah inti dari pertemuan saya dengan Yasuo. Taipan Jepang ini tidak maju sendiri.

Saya memotong kurva belajar. Yasuo belajar berpuluh tahun. Saya belajar, mendengar darinya hanya dua jam.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply