Tiga Nama Saya

 

Saya pernah punya mahasiswa bernama Stepan, saya lupa angkatan berapa, tetapi nama ini sempat saya pahami, “Oh, dia waktu lahir berkali-kali kena demam step, maka Stepan sama artinya dengan step aja.” Tapi bersamaan dengan itu saya juga ingat Stiva dalam novel Anna Karenina yang nama aslinya memang Stepan. Boleh jadi ayah mahasiswa saya itu penggemar Tolstoy.

Atau kalau bukan pengagum Tolstoy, minimal ayahnya adalah seorang visioner yang tahu bahwa nama “Stepan” memiliki daya tahan sosial yang tinggi. Di Indonesia, hukum kekekalan nama itu nyata: sebuah nama panjang akan mengalami penyusutan ekstrem begitu masuk pergaulan sehari-hari.

Kita lihat saja bagaimana Rachmat, sebuah nama yang agung dan penuh berkah, entah bagaimana ceritanya di tongkrongan berubah wujud menjadi Mamat. Nama Mamat seketika mereduksi kemuliaan aslinya, berganti menjadi aura pria yang hobi utang kopi di warung Madura.

Lalu ada Udi. Udi ini misterius. Dia bisa saja berasal dari Rudi, Budi, atau Yudi. Jadi kalau Anda teriak “Woi, Di!” di tengah kerumunan arisan, ada tiga orang atau lebih (isa jadi ada Gunadi dan -di -di lainnya) dengan latar belakang kepribadian berbeda yang akan menoleh bersamaan.

Fenomena potong-memotong nama ini sebenarnya mencerminkan bagaimana budaya kita selalu punya cara untuk melokalkan hal-hal yang asing dan rumit. Sama seperti karakter Stiva (Stepan) dalam mahakarya Tolstoy tersebut. Stiva adalah gambaran pria kelas atas Rusia abad ke-19 yang menganggap perselingkuhan dengan gadis pengasuh asal Prancis sebagai sebuah “kekhilafan yang lumrah.” Dia tidak menyesal karena telah menduakan istrinya; dia hanya menyesal karena kurang rapi menyembunyikan surat cintanya.

Kalau kita tarik garis lurus ke konteks Indonesia, “budaya selingkuh” ala Stiva ini sebenarnya menemukan lahan subur yang sangat luas, bahkan dalam arti yang tidak melulu soal asmara. Di sini, kita memiliki bakat alamiah untuk melakukan “perselingkuhan” dalam berbagai lini kehidupan, tentunya dengan kearifan lokal yang khas.

Tengok saja bagaimana kita berselingkuh secara politik dan ideologi. Hari ini seorang politisi bisa berorasi berapi-api demi rakyat di bawah bendera partai A, tapi besok malam sudah “main belakang” dan pindah ranjang ke koalisi partai B demi jatah kursi menteri. Hubungan gelap ini bahkan tidak perlu surat cinta rahasia seperti milik Stiva; cukup lewat kesepakatan di bawah meja atau lobi-lobi di lapangan golf. Istri sahnya—dalam hal ini adalah rakyat yang memilihnya—hanya bisa gigit jari di pojokan rumah, persis seperti nasib Dolly yang meratapi nasibnya di kamar.

Bahkan dalam skala paling kecil, kita sering berselingkuh dari komitmen-komitmen harian. Kita berselingkuh dari diet ketat demi sepiring martabak manis di jam sebelas malam. Kita berselingkuh dari jam kerja kantor untuk sekadar berselancar di marketplace mencari diskon kilat. Kita adalah bangsa yang penuh toleransi terhadap “selingan-selingan kecil” ini, karena bagi kita, hidup yang terlalu lurus itu membosankan.

Kembali ke masalah nama, andai saja Tolstoy lahir di Indonesia dan menulis perselingkuhan Stiva ini dengan latar belakang budaya kita, novelnya mungkin tidak akan setebal 800 halaman. Konfliknya akan selesai dalam tiga hari bukan karena bantuan Anna Karenina, melainkan karena mediasi ketua RT dan tekanan sosial dari grup WhatsApp komplek.

Sebab di sini, sekaya apa pun seorang Stiva, begitu dia ketahuan “main gila”, hukum sosial masyarakat akan langsung memangkas martabatnya. Nama panggilannya tidak akan terdengar borjuis lagi. Di pos ronda, dia tidak akan dipanggil Stepan Arkadyevitch, melainkan “Si Tepeng yang doyan daun muda.”

Bukan cuma Tolstoy yang akan mengalami gegar budaya jika karyanya dilokalkan. Mari kita melompat ke Prancis, ke novel Les Misérables karya Victor Hugo. Tokoh utamanya bernama Jean Valjean. Orang Prancis mengucapkannya dengan elegan: Zhong Valzhong. Coba bawa dia ke daerah pinggiran Jakarta atau Bekasi. Nama “Jean Valjean” otomatis akan disederhanakan oleh tetangga sebelah menjadi Jajang.

“Eh, tahu si Jajang kagak? Itu loh, yang dipenjara sembilan belas tahun cuma gara-gara nyolong sandal jepit.”

“Oh, Jajang… kirain Jajang yang jualan ketoprak.”

Wibawa narapidana legendaris yang menggoncang sejarah Prancis itu langsung runtuh seketika, setara dengan harga sebungkus kerupuk putih di kaleng warung.

Belum lagi kalau kita menengok sastra Inggris. William Shakespeare punya karakter tragis bernama Romeo. Nama yang bikin perempuan sedunia meleleh. Tapi kalau Romeo lahir di tanah Jawa, demi keselamatan tali pusar dan agar tidak sakit-sakitan (biar tidak kena step seperti mahasiswa saya tadi), namanya kemungkinan besar akan diganti oleh kakeknya menjadi Romi. Begitu jadi Romi, aura tragisnya hilang, berganti menjadi aura mas-mas sales diler motor yang suka menawarkan brosur cicilan ringan di lampu merah.

Jadi, baik di Rusia zaman dulu maupun di Indonesia zaman sekarang, kita ini selalu punya cara untuk menyederhanakan sesuatu yang rumit, sekaligus merumitkan sesuatu yang sederhana, termasuk dalam urusan nama dan kesetiaan.

William Shakespeare pernah menulis, “Apalah arti sebuah nama.” Tetapi karena dia belum pernah merasakan hidup di Indonesia. Sebab mau seunik apa pun nama yang diberikan orang tua Anda di akta kelahiran—mau berbau Rusia, Prancis, Arab, Sanskerta, atau hasil rapat keluarga besar selama tiga malam—semuanya hanya berlaku sampai Anda punya anak.

Setelah itu, nama asli perlahan kehilangan kewarganegaraannya.

Saya misalnya.Secara resmi, nama saya Arip. Namun negara memiliki pendapat lain. Bagi sebagian orang, saya adalah “Bapak Monad.” Bagi yang lain, saya “Bapak Aghis.” Bagi kelompok berikutnya, saya “Bapak Biyan.”

Saya memiliki tiga nama sekaligus, dan tidak satu pun saya pilih sendiri. Kalau anak saya ada enam belas, mungkin saya akan memiliki enam belas nama. Untung hanya tiga. Alhamdulillah.

William Shakespeare mungkin benar bahwa nama tidak terlalu penting. Tetapi saya yakin dia akan mengubah kalimatnya kalau tinggal beberapa tahun di kompleks perumahan Indonesia. Di sini, seseorang bisa lahir dengan satu nama, menjalani hidup dengan nama lain, dan pensiun dengan nama anaknya. Pas mati nama itu baru utuh lagi: di batu nisan.

Dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, orang-orang membaca nama lengkap kita tanpa memotong satu suku kata pun. []

Share your love
Avatar photo
Arip Senjaya

Pemenang Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022, alumni Batu Ruyud Writing Camp Kaltara, dosen filsafat Untirta, anggota Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemdikbud, sastrawan, editor. Alumni UPI dan UGM.

Articles: 51

Leave a Reply