Blust dan Sumbangsihnya pada Prasejarah Borneo

Blust, seorang sejarawan dan ilmuwan, memainkan peran kunci dalam penelitian awal prasejarah Borneo.

Fokus utamanya melibatkan manusia pertama yang mendiami Borneo, topografi wilayah, peran bijih besi (sebagai elemen kunci dalam perkembangan peradaban), dan hubungannya dengan studi linguistik.

Baca Muzium Sarawak dan Jasanya Meneliti Uji Karbon Manusia Asli Borneo di Gua Niah, Miri

Dalam menyelidiki manusia pertama di Borneo, Blust mencoba membongkar misteri sejarah awal pulau tersebut. Dengan memahami interaksi manusia dengan lingkungannya, dia merinci peran penting topografi Borneo dalam membentuk pola migrasi dan perkembangan masyarakat di pulau itu.

Bukti arkeologis penggunaan besi oleh masyarakat Austronesia di wilayah Kalimantan Barat

Sejarah penggunaan besi dalam dunia Austronesia telah lama menjadi teka-teki. Meskipun bukti arkeologis untuk pengolahan besi tidak lebih tua dari 200-500 SM (Bellwood 1997: 28), data linguistik perbandingan menunjukkan pengetahuan tentang besi yang jauh lebih kuno (Blust 1976). Seperti yang dicatat oleh Blust (1999), terjadi ketidaksesuaian antara dua garis bukti ini tidak dapat dijelaskan sepenihnya, karena pengetahuan tentang besi tidak selalu berarti pengetahuan tentang pengolahan besi.

Blust meneliti kata serapan yang mencerminkan perubahan signifikan dalam penggunaan besi oleh masyarakat Austronesia di Kalimantan Barat daya pada dua atau tiga abad pertama SM. Meskipun spesifik area }Kalimantan Barat daya” tidak dijelaskan secara tepat, namun diyakini berkaitan dengan penyebaran bahasa Malayo-Chamic di antara Sungai Sarawak dan Kapuas, dan meluas hingga Tanjung Puting atau sekitarnya.

Baca The Dayak People and the Green Regions of Borneo that Form Their Life

Penting untuk dicatat bahwa perhatian Blust pada bijih besi tidak hanya sebatas pada aspek teknologisnya, tetapi juga pada dampaknya sebagai tonggak peradaban. Dalam kerangka ini,

Blust menyelidiki bagaimana pengetahuan tentang besi dan penggunaannya membentuk perkembangan masyarakat Borneo, memberikan landasan untuk eksplorasi lebih lanjut dalam perkembangan teknologi dan ekonomi di pulau tersebut.

Pun pula, Blust membawa dimensi linguistik ke dalam konteks prasejarah Borneo. Melalui studi bahasa dan kata serapan, dia memberikan pandangan yang mendalam tentang hubungan antara perubahan linguistik dan perkembangan budaya di Borneo.

Pemahaman ini memungkinkan kita untuk meresapi tidak hanya kehidupan materi, tetapi juga warisan intelektual dan linguistik yang ditinggalkan oleh masyarakat prasejarah Borneo.

Dengan penelitiannya yang menyeluruh dan pendekatan lintas-disiplin, Blust memberikan kontribusi berharga dalam menggambarkan lanskap sejarah dan budaya Borneo pada masa prasejarah. Karya-karyanya menjadi fondasi penting bagi penelitian lebih lanjut dan pemahaman yang mendalam tentang perjalanan panjang manusia dan peradaban di pulau ini.

Borneo lebih tua dari Formosa

Sejarah penggunaan besi oleh masyarakat Austronesia di Taiwan pada 3500-4000 SM telah menjadi misteri panjang. Meskipun bukti arkeologis menunjukkan pengolahan besi baru dimulai 200-500 SM, data linguistik menunjukkan pengetahuan besi yang jauh lebih kuno.

Baca National Parks in Kalimantan : Is Borneo Still “The Heart of Borneo”?

Borneo, dengan potensi peran penting dalam transisi dari pengetahuan besi menjadi pengolahan besi, memunculkan pertanyaan menarik. Kualitas bijih besi yang luar biasa di Borneo, seperti yang diakui oleh penulis kolonial Inggris pada 1830-an, memberikan konteks unik bagi perkembangan teknologi besi.

Penggunaan “Jas Merah” sebagai simbolisme mencerminkan kemungkinan inovasi teknologi pengolahan besi lebih awal di Borneo dibandingkan dengan wilayah lain di Asia Tenggara kepulauan.

Bukti arkeologis

Bukti arkeologis untuk kegiatan pra-pengolahan besi, khususnya di sekitar Santubong di delta Sungai Sarawak pada abad ke-10 hingga ke-13, menghadirkan tanda tanya. Meskipun situs-situs ini sebelumnya dianggap sebagai tempat ekstraksi bahan lokal oleh penulis kolonial, penafsiran ini dipertanyakan oleh Christie (1988), yang melihatnya sebagai praktik yang sejalan dengan populasi asli Dayak.

Meski demikian, tantangan utama adalah kurangnya data arkeologis pada periode awal produksi besi di Borneo. Data linguistik memberikan gambaran yang mengesankan, menghubungkan inovasi teknologi pra-pengolahan besi di wilayah barat daya Borneo dengan komunitas linguistik tertentu pada dua atau tiga abad pertama SM.

Dengan ini, sejarah dan linguistik bersama-sama menciptakan narasi tentang perjalanan panjang pergeseran pengetahuan tentang besi menjadi keahlian pengolahan besi di Tanah Borneo, sebuah jejak yang seharusnya tidak terlupakan. *)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply