Cornelis : MEMOAR Politik dan Menjelaskan Makna dan Konteks Kata “Baga”

Biografi.

Dalam dunia creative writing, dikenal berbagai genre Biografi . Ragam Biograf ini dilihat dari sudut pandang, atau pendekatan untuk menggambarkan kehidupan seseorang.

Memoar bagian dari Biografi
Salah satu jenis biografi yang sering ditemui adalah memoar. Memoar memiliki ciri khas yang membedakannya dari biografi konvensional yang mengikuti urutan kronologis sepanjang kehidupan tokoh. Sebaliknya, memoar fokus pada satu atau dua topik khusus atau peristiwa yang dianggap sangat menentukan dalam kehidupan sang tokoh, seringkali disebut sebagai “moment decisive.”

Memoar lebih menekankan pada pemahaman mendalam terhadap aspek-aspek kunci dalam kehidupan seorang individu.

Baca Biografi dan Memoar

Berbeda dengan biografi yang menggambarkan perjalanan hidup secara keseluruhan, memoar lebih terkonsentrasi pada momen-momen krusial yang membentuk tokoh tersebut. Ini bisa berupa pengalaman pribadi, pencapaian signifikan, atau peristiwa yang memengaruhi pemikiran dan tindakan tokoh.

Dalam konteks Memoar Politik Cornelis, pendekatan ini menjadi relevan karena lebih fokus pada aspek-aspek politik dan kebijakan yang memainkan peran kunci dalam karir politik Cornelis.

Jokowi membisikkan sesuatu kepada Cornelis: Tanang, Pak, Tuha, ame gali’, ada aku di nian.

Memoar ini mungkin memberikan penjelasan mendalam terkait keputusan-keputusan politiknya, pandangan politiknya, atau momen-momen penting dalam perjalanan politiknya yang membutuhkan pemahaman lebih lanjut oleh publik.

Dengan demikian, memoar menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan konteks dan penjelasan terperinci terkait aspek politik dalam kehidupan Cornelis. Ini tidak hanya menyajikan fakta secara kronologis, tetapi juga membuka pintu ke dalam pikiran dan pengalaman yang membentuk tokoh politik tersebut, memberikan pembaca pemahaman yang lebih mendalam tentang peran dan pengaruhnya dalam ranah politik.

Memoar Cornelis ini berbeda dari sisi konten dan cara penyajiannya dibanding Biografinya yang sudah ada dan yang pernah terbit.

Di mana bedanya?

Memoar ini, antara lain berisi:

  1. Proses Cornelis menjadi birokrat dan politikus. Ia membangun tangga dari dasar sekali, dengan menjadi “juru antar surat” sebuah partai.
  2. Menjelaskan peristiwa gelap “Tragedi Mempawah”. Orang menuduhnya terlibat, bahkan actor intelectualis, dari peristiwa itu. Terlibat langsungkah Cornelis, sementara alibinya menunjukkan pada saat kejadian, Cornelis tidak berada di tempat?
  3. Kaderisasi dan pendidikan politik tokoh-tokoh Dayak. Berapa banyak tokoh Dayak “naik daun” berkat tanda tangan, katabelece, dan pengangkatan langsung olehnya?
  4. “Baga”, kata yang menjadi viral dalam pidato kampanyenya di Sui Ambawang dijelaskan makna dan konteksnya di memoar ini.

Baga : makna dan konteksnya

Albertus Imas, M.A., seorang ahli Dayak yang juga peneliti serta penulis buku Mozaik Dayak, memberikan respons terkait kontroversi ucapan “baga” yang baru-baru ini viral di Kalimantan Barat. Diksi yang muncul dari sebuah kampanye politik Cornelis di lapangan Ambawang pada 30 Januari 2024.

Baca Ramadhan KH sekali Lagi | Proses Kreatifnya Menulis Biografi di Sini

Imas mengungkapkan bahwa dalam bahasa Dayak Kanayatn, kata “baga” berarti “dungu,” dan jika diucapkan dua kali, intensitasnya meningkat menjadi “sangat dungu.” Dia juga menyoroti kemiripan makna dengan ekspresi “bodo bale” dalam bahasa Melayu Senganan Kalimantan Barat.

Dalam penjelasannya, Imas menekankan bahwa penggunaan “baga” oleh seorang politisi senior di Kalimantan Barat harus dipahami dalam konteks kampanye di situ, bukan untuk interpretasi di luar konteks tersebut. Respons yang hangat dan beragam dari berbagai kalangan menunjukkan sensitivitas penggunaan bahasa dalam konteks politik.

Imas menyoroti pentingnya pemahaman terhadap budaya dan linguistik Dayak untuk menghindari penafsiran yang salah terhadap kata-kata lokal. Dia menekankan perlunya menghargai keragaman budaya di Indonesia, terutama di Kalimantan Barat.

Menurut Imas, reaksi emosional terhadap ucapan “baga” seharusnya dihindari, dan sebaiknya dijadikan bahan perenungan dan pemahaman lebih mendalam. Dalam perspektif psikologi, Imas merujuk pada konsep “Johari Windows,” yang menunjukkan ruang pengetahuan diri dan orang lain, serta ruang ketidaktahuan yang saling berbeda.

Baca 5 Ragam BIOGRAFI

Imas menggambarkan “baga” sebagai “selumbar yang menghalangi mata,” serpihan yang menghambat kemampuan melihat secara jelas dan menyeluruh. Ungkapan ini dapat diartikan sebagai refleksi dari kurangnya pemahaman atau kesadaran, mirip dengan konsep “Johari Windows.”

Dengan pendekatan ini, Imas mengajak untuk merenung dan memahami lebih dalam sebelum memberikan reaksi berlebihan terhadap suatu pernyataan. Dia mengakhiri tanggapannya dengan mengatakan bahwa mendengar kata “baga” seharusnya tidak menimbulkan kekhawatiran, dan jika merasa gusar, maka itu juga “baga baga,” sebuah refleksi dari kurangnya pemahaman. *)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply