Siapa yang mengguncang toples sarang semut?

Artikel ini kelanjutan dari artikel mengenai sistem sentralisasi suatu lembaga agar tetap memegang kontrol kepada setiap individu di dalamnya.

Ada eksperimen yang unik untuk menunjukkan bagaimana cara membuat pengalihan dan mengontrol kehidupan setiap anggota komunitas yang ada di bawahnya.

Masukkan 100 semut hitam dan 100 semut merah atau sarang semut merah dan hitam yang ada semutnya ke dalam toples dengan perlahan tanpa guncangan.

Setelah berhasil memasukkannya, tidak akan terjadi apa pun sampai toples diambil, digoyang-goyangkan dengan kuat dan ketika diletakkan kembali ke tempat semula, para semut mulai membunuh satu sama lain.

Yang hitam mengira yang merah adalah musuhnya dan yang merah mengira yang hitam adalah musuhnya, padahal musuh sebenarnya adalah seseorang yang telah mengguncang toples tersebut.

Jadi siapa yang mengguncang topleslah yang memprovokasi perpecahan dan kekacauan antarsuku, antarras, antaragama, antarpemahaman, antara jenis kelamin, antara apa pun di suatu negara untuk mengambil keuntungan di dalamnya?

Dalam sistem pengelolaan ala sentralisasi. Tentu saja potensi pelaku utama salah satunya adalah pengelola negara itu sendiri dan atau sekutunya yang mengendalikan (hegeformaslavey) pengelola negara tersebut dengan tujuan agar tetap menguasai mereka semua yang ada di dalamnya.

Teknik mengguncangkan toples oleh pengelola negara dan atau sekutunya ini berpotensi selalu berhasil karena melibatkan teknik “politik enviromental design”  bukan mendesain alam lingkungannya tetapi “mendesain lingkungan cara berpikir masyarakat yang ada di dalamnya”.

Banyak pengelola negara di bumi ini membuat banyak berita palsu, mengadu-domba, menakut-nakuti dengan tujuan pengalihan agar rakyatnya bodoh dan saling benci satu sama lainnya dengan alasan beda suku, ras, agama, tingkatan ekonomi, jenis kelamin, gaya hidup, dan pemahaman melalui media massa, media sosial, dan media komunikasi lainnya, berita palsu bila diberitakan berulang kali akan menjadi kebenaran dengan tujuan agar tetap menguasai.

Jadi memecah belah agama, kepercayaan, suku, ras, ekonomi, jenis kelamin, gaya hidup, dan pemahaman menjadi target utama pengelola negara yang korup.

Tanda-tanda bahwa pengelola negaranya korup dapat dilihat dan diobservasi di tingkah laku masyarakat yang ada di bawahnya.

Perhatikan apakah di masyarakat suatu negara terjadi banyak warga negara tersebut yang mulai nyinyir (sensitif sok kritis dan mudah tersulut amarahnya) tentang masalah beda kepercayaan rohani dan spiritual, banyak politisi dan lembaga pengelola negara korup, ceramah atau pidato yang disensor, manipulasi data dan media massa yang telah dibeli untuk menyebar berita hoax yang resmi dari pengelola negara tersebut. Warga yang cerdas, bijak, tercerahkan, dan mandiri secara ekonomi akan berpotensi menjadi ancaman bagi pengelola suatu negara yang korup. 

“Warga yang cerdas, bijak, tercerahkan, dan mandiri secara ekonomi akan berpotensi menjadi ancaman bagi pengelola suatu negara yang korup”

Apalagi dewasa ini teknologi komunikasi dan artificial intelligence (AI) sangat memungkinkan untuk meniru wajah dan suara (deep fake) seseorang dengan sangat persis dan tidak dapat dibedakan mana asli dan palsu.

Hal ini sangat memungkinkan untuk membuat seseorang yang berjuang untuk perbaikan negaranya lalu pengelola negara (rezim pemerintah) yang berkuasa melihat seseorang yang “berjuang untuk negara” tersebut dibuat menjadi musuh pemerintah karena orang tersebut dianggap membahayakan proses korupsi yang sedang berlangsung di pemerintahan tersebut.

Sehingga pemerintah yang korup dengan sengaja membuat hoax ala deep fake, dibuatlah wajah dan suara palsu  yang sengaja diedarkan kepada publik di media massa dan media sosial yang ada, dan mengatakan bahwa orang yang” berjuang untuk negara tersebut sebenarnya “jahat” dengan “bukti audio-video palsu tersebut” sehingga masyarakat umum percaya karena berita palsu yang terus diberitakan akan menjadi kebenaran, dan hal ini sangat mudah untuk dilakukan oleh pengelola negara yang korup. 

Juga berhati-hati bila suatu saat seorang pemimpin suatu pemerintahan mengumumkan “perang” terhadap negara lainnya, jangan langsung percaya, ada potensi juga tipuan (deep fake) untuk memicu peperangan antarnegara di suatu area.

Jadi di zaman ini, setiap warga negara apa pun dan mana pun harus teliti, berhati-hati terhadap berita apa pun yang cenderung memecah belah ala sentralisasi, terutama saat menjelang pemilihan kepala negara baru seperti presiden, perdana menteri, atau sejenisnya di suatu area.

Referensi:

Stover, Evangeline. 2021. https://www.register-herald.com/opinion/letters_to_the_editor/whos-shaking-the-jar/article_18007d05-c43c-5ae8-9133-56162caa6cdf.html

+++

Michael Sega Gumelar

michael.sega.gumelar@gmail.com

michael.sega.gumelar@bibliopedia.id

    Twitter @MSGumelar

    Instagram @bubblegumelar

Share your love
Avatar photo
Michael Sega Gumelar
Articles: 27

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply