Membeli Buku sebagai Kebiasaan

When I get a little money, I buy books; and if any is left, I buy food and clothes (Erasmus).

Rasa-rasanya kata-kata Erasmus itu saya bingits! Betapa tidak! Bagi saya, untuk membeli buku, tidak harus menunggu uang cukup, atau uang berlebihan. Bahkan, beli buku dahulu. Uuntuk makan dan beli baju, kemudian, jika masih ada uang sisa!

Seperti terjadi kemarin (07 Maret 2024). Pengalaman di toko buku Gramedia, Karawaci, Tangerang – Banten. Rencana beli 1 buku, nyatanya: 3.

Baca Buku Filsafat: Penjualan Lamban, meski Daur Hidup Panjang

Saya membaca, dan mengetahui. Bahwa belanja buku saya sebulan segitu, gak ada seujung kukunya dibandngkan bibliofili lain yang bisa sampai jutaan/bulan. Namun, beda orang beda kebutuhan. Juga beda kemampuan!

Ini buku yang saya beli, dengan harga, yang bagi saya tidak murah (total harga 3 bukudi atas rp250.000).

  1. How to be a friend.
  2. Inspirasi dari Orang Kaya Dunia.
  3. Lucunya Prabowo.

Khusus untuk buku, bagi saya, tidak ada beda antara kebutuhan dan keinginan. Mengapa? Sebab, buku-buku yang saya inginkan, pasti berguna. Entah untuk dimamah-biak, dijadikan sumber inspirasi, entah untuk diulas menjadi sebuah narasi untuk dimuat di media.

Jadi, tak ada buku yang tak-berguna. Bahkan buku yang tidak berguna itu sendiri.

Buku apa yang Anda beli?

Jika ke toko buku, buku apa yang ingin miliki. kemudian beli?

Baca Sejarah BUKU dari 1620 hingga Hari Ini

Sudah tentu, jawabnya berbeda-beda, bergantung kepada minat dan profesi masing-masing.

Sejak mahasiswa, saya sudah punya kebiasaan membeli buku. Bagi saya, membeli buku tidak harus menungggu uang cukup, atau berlebihan. Kadang, di antara minimnya uang, buku menjadi prioritas. Biar pun pantang jajan! Terhitung sejak mahasiswa, hingga kini, dalam rentang waktu lebih dari 30 tahun, saya sudah punya koleksi lebih dari 3.000 judul buku.

Bagi bibliofilia (lebih dari penyuka buku), membeli dan mengoleksi buku melampaui kebutuhan. Bisa jadi life style. Bukan semata karena memiliki uang berlebih, melainkan karena buku bagi saya adalah jendela menuju dunia yang tak terbatas. Meski uang seringkali minim, buku selalu menjadi prioritas. Bahkan dalam kesulitan keuangan, saya tak ragu untuk memilih buku daripada menghamburkan uang untuk keperluan lain.

Lebih dari 30 tahun telah berlalu sejak awal perjalanan sebagai penulis dan penarang, tanpa terasa koleksi bukuku telah melampaui angka 3.000 judul. Melalui buku, saya menjelajahi zaman, menyusuri khazanah pengetahuan, dan menjalin hubungan dengan karakter-karakter penuh warna. Setiap lembar kertas memiliki keajaiban sendiri yang mampu membuka pintu rahasia kehidupan.

Membaca – menulis: sekeping mata uang

Bukan sekadar membaca, kegiatan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas dan eksistensi saya. Dalam perjalanan ini, saya menemukan kecerdasan yang melampaui angka di lembar halaman dan mendalamnya dunia pikiran. Saya belajar bahwa buku tak hanya tentang kata-kata, tetapi juga tentang perjalanan batin yang membentuk pola pikir dan karakter seseorang.

Baca Buku-Buku yang Dilarang Jelang Orba Tumbang

Koleksi buku saya bukan hanya tumpukan halaman yang tertata rapi di rak, tetapi juga peta perjalanan hidup. Setiap buku memiliki cerita tersendiri, menjadi saksi bisu dari setiap fase kehidupan saya. Dari klasik hingga karya kontemporer, dari novel fiksi hingga buku-buku referensi, setiap judul mencerminkan bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan panjang ini.

Tak hanya memperkaya diri sendiri. Ssaya juga mencoba menyebarkan semangat literasi. Saya terlibat dalam klub buku dan berbagi rekomendasi buku dengan teman-teman. Menuliskan ulasan buku menjadi ritual setelah menyelesaikan setiap karya, tidak hanya sebagai refleksi pribadi, tetapi juga sebagai sarana untuk berbagi pengalaman dengan orang lain.

Buku-buku yang telah memenuhi rak-rak rumahku tak hanya benda mati, melainkan teman setia yang siap menemani dalam setiap keadaan.

Dari patah demi patah kata, saya menemukan inspirasi, hiburan, dan pengetahuan yang membentuk ruang tak terbatas di dalam pikiran dan hati. Dalam perjalanan membaca ini, saya menemukan diri saya berkembang, menjadi lebih bijak, dan selalu haus akan pengetahuan baru.

Baca Buku-buku Life Skill yang Daur Hidupnya Panjang

Hingga kini, kecintaan pada buku tetap menjadi lahan subur untuk menjelajahi, tumbuh, dan berkembang. Sebagai pelayan setia tulisan-tulisan indah, saya terus berharap bahwa perjalanan membaca ini takkan pernah berakhir. Selama kata-kata masih berdansa di atas halaman, saya akan terus merajut kisah hidupku dengan benang literasi yang tak pernah putus.

Membaca dan menulis: mengisi dan menuangkan

Membaca dan menulis: dua aktivitas yang saling mengisi dan menuangkan ke dalam jiwa penulis. Bagi saya, buku bukan sekadar hiasan di rak-rak, melainkan teman setia dalam perjalanan tak terbatas menuju kreativitas dan pengetahuan yang mendalam. Sebagai seorang penulis dan pengarang, saya menganggap membaca dan menulis sebagai dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.

Bagi saya, menulis tanpa membaca ibarat menuangkan air ke dalam gelas yang kosong. Mungkin awalnya terlihat penuh, tetapi seiring waktu, tanpa asupan air baru, gelas itu akan terasa kering. Demikian pula dengan menulis, tanpa mengisi diri dengan kata-kata dan ide dari dunia luar, tulisan yang dihasilkan akan kehilangan kelembutan dan kekuatannya.

Membaca adalah sumber inspirasi tak terbatas. Setiap lembar halaman buku membawa aroma kata-kata yang dapat membangkitkan imajinasi dan memancing ide-ide segar. Saat meresapi kata-kata pengarang lain, saya bukan hanya mengisi kepala dengan pengetahuan, tetapi juga hati dengan emosi dan pikiran-pikiran yang memperkaya karya tulis saya.

Menulis, bagai menuangkan air ke dalam gelas, adalah suatu proses yang membutuhkan kejernihan dan keaslian. Namun, tanpa menyegarkan diri dengan keberagaman ide dari literatur, kata-kata yang dihasilkan dapat kehilangan esensinya. Setiap buku yang saya baca, setiap cerita yang saya telusuri, adalah semacam ingatan akan betapa besar dan luasnya dunia kata-kata.

Buku-buku, seperti sahabat setia, membawa saya ke tempat-tempat yang tak terjangkau oleh kaki. Dalam hal ini, membaca adalah perjalanan spiritual yang membentuk sudut pandang dan menciptakan perpustakaan pikiran yang beragam. Saya percaya bahwa untuk menuangkan tulisan yang bermakna, saya perlu terus memeluk kegembiraan membaca, memberi air segar pada pikiran dan jiwa.

Dalam kebersamaan membaca dan menulis, saya menemukan harmoni. Sebuah proses alkimia di mana kata-kata diambil dari buku-buku dan diubah menjadi tulisan pribadi yang meresap dengan makna. Saya tidak hanya menciptakan, tetapi juga meresapi karya-karya yang ada, membawa saya ke dalam aliran tak terputus dari imajinasi dan penciptaan.

Dalam setiap kata yang saya rangkai, terdapat jejak setiap buku yang pernah saya baca, meski sudah menjadi “darah daging”, sebab saya adalah buku itu sendiri.

Membaca dan menulis, seperti dua kekuatan yang saling memberi dan menerima. My path untuk terus hidup dan berkembang. Terutama berkanjang dalam dunia lierasi yang kian menggeliat dalam dinamika zamannya.*)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply