Buku Filsafat: Penjualan Lamban, meski Daur Hidup Panjang

Gramedia Karawaci, Tangerang, salah satu toko buku besar di kawasan Tangerang, Banten dan sekitarnya. Bisa jadi, toko buku ini cerminan dari toko buku Gamedia lainnya di Indonesia.

Kemarin (06 Maret 2024), menjadi ajang “rekreasi” bagi saya. Selama dua jam, perjalanan bermula dari space buku “best seller” hingga merambah ke rak filsafat, mengundang refleksi mendalam.

Baca Vita Brevis, Ars Longa

Di situ, di antara karya-karya yang menawarkan perbaikan diri, terserak khasanah pustaka filsafat menanti pengunjung dengan keheningan yang kontras.

Pustaka filsafat: daur hidup panjang

Saya merenung, mengapa buku-buku filsafat, yang seharusnya menjelma menjadi pelita pikiran, terlihat sepi pengunjung? Tanya ini memusingkan kepala saya, sekaligus menggugah hati tentang keberadaan buku filsafat di negeri ini.

Sebuah adagium klasik, “Primum manducare, deinde philosophari” (Makan dahulu, berfilsafat kemudian), mencerminkan realitas bahwa buku filsafat mungkin belum menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat yang masih bergulat dengan kehidupan sehari-hari.

E Pluribus Unum

Namun, menggali lebih dalam, kita menemukan empat gelombang keberadaan buku filsafat di Indonesia. Pertama, gelombang akademik, di mana kampus filsafat dan fakultas filsafat menjadi rumah bagi buku-buku ini. Gelombang kedua menyaksikan perubahan di tahun 1995-an, saat buku filsafat mulai menjalar ke luar kampus, terutama di kalangan mahasiswa aktivis.

Munculnya penerbit baru di sekitar tahun 2000-an menandai gelombang ketiga, membuat buku filsafat lebih mudah diakses oleh masyarakat luas. Namun, tantangan muncul terkait kualitas terjemahan yang belum sepenuhnya memadai.

Dalam perjalanan ini, kehadiran pustaka filsafat yang santai dan populer menjadi titik balik. Filsafat tidak lagi terasa “seram,” dan buku-buku filsafat keluar dari cangkangnya yang kaku. Meski demikian, pertanyaan terakhir tetap mengemuka: bagaimana nasib buku filsafat di masa depan?

Slow moving bussinesss

Meskipun penerbitan buku filsafat terus berjalan, lingkup peredarannya masih terbatas. Sementara masyarakat belum sepenuhnya menyadari bahwa masa depan Indonesia terletak pada cara berpikir mereka, buku filsafat mungkin akan terus menempuh jalan yang sunyi.

Kho Ping Hoo di antara Koleksi Buku Pribadi dan Buku yang Kutulis

Pertanyaan akhir menggantung, mengajak pembaca merenung: mampukah buku filsafat keluar dari bayang-bayang sunyi, menjadi lebih diterima oleh masyarakat luas, dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk wajah dan arah bangsa ke depan?

Mgr. Dr. Valentinus Seeng, salah seorang filsuf Dayak, kini uskup Sanggau.

Kehadiran pustaka fisafat, yang demikian itu (santai, populer) adalah tonggak tersendiri. Yang berhasil membumikan fisafat. Keluar dari cangkang “seram” yang mengerutkan dahi membacanya. Alhasil, penjualan bukunya pun terbilang lumayan.

Namun, dibanding genre buku lainnya, buku filsafat tidak sebasah buku umum. Jarang menemukan buku filsafat terjual 3.000 eksemplar/ tahun.

 

Adalah tantangan bagi penebit: bagaimana memadukan antara bisnis dan idealisme? Bagi penerbit besar, cukup mudah mengatur subsidi silang itu: untung dari buku satu, disubsidi untuk biaya penerbitan buku penting lainnya, meski kurang menguntungkan dari sisi bisnis.

Baca Sejarah BUKU dari 1620 hingga Hari Ini

Namun, bagi penerbit medioker dan penerbit indie? Pilihannya menjadi ya/tidak.

Apakah memang secara filsafat, buku filsafat penting tapi kurang laku? Di Indonesia, kategori “buku laris” adalah jika terjual 3.000 eksemplar/tahun.*)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply